Obituari

Ajip Rosidi Cendekiawan Besar di Sebalik Sastra Indonesia

| dilihat 326

Bang Sém

OSAKA selepas senja di penghujung bulan Maret 2016. Saya makan malam bersama Akiko-san dan Ami-san di Dotonbori, Osaka. Akiko-san lulusan program studi kebudayaan Melayu di Universitas Tokyo. Ami-san lulusan Osaka Gaidai yang juga dikenal sebagai Osaka University of Foreign Studies.

Sambil menikmati makanan ringan, Ami-san bicara tentang Ajip Rosidi. Dia tak sempat mengenal langsung sastrawan kelahiran Jatiwangi, 31 Januari 1938. Begitu juga Akiko-san. Tapi, nama Ajip Rosidi melekat di benak keduanya, karena keduanya beroleh cerita dari orang tua masing.

Acapkali orang tuanya bercerita tentang Indonesia, nama Ajip Rosidi dan Sunda tak pernah tak disebut. Bangsa Jepang yang sangat menghormati sejarah dan kearifan budaya, selalu mentransfer pengetahuan dan informasi tentang interaksi budaya mereka kepada anak keturunannya.

Orang tua Ami-san menyebut Ajip sebagai suluh penerang di remang setiap kisah tentang pendudukan Jepang di Indonesia pada dekade 40-an. Kisah remang tentang Jepang tanah Melayu (termasuk Indonesia) meninggalkan sesal, meski mereka bisa memaklumi situasi perang.

Ajip Rosidi yang mentransfer berbagai hal terkait dengan budaya dan bahasa di Jepang sejak 1980, dan kemudian beroleh penghargaan luar biasa

Bukan hanya karena ia beroleh kemuliaan sebagai Kun Santo Zui Ho Sho (Bintang Jasa Khazanah Suci, Cahaya Emas) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999. Tapi, justru karena penghargaan itu dimulai dari penghormatan yang diterimanya ketika diangkat sebagai foreign profesor di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Kebahasaan Asing), extra ordinary great profesor di Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Industri Kyoto), Tenri Daigaku (Universitas Tenri), dan di Osaka Gaidai (Osaka university of Foreign Studies).  

Ajip Rosidi yang sangat dihormati dan digolongkan HB Jassin sebagai sastrawan Angkatan 66, itu seorang yang luar biasa. Kecintaannya pada literasi dan sastra sudah bertumbuh sejak usia sangat belia (masih Sekolah Rakyat - kini sekolah dasar), ketika karya-karyanya lolos seleksi dan dimuat di surat kabar Indonesia Raya. Selanjutnya, ketika beranjak belia (14 tahun), masih di sekolah menengah karyanya sudah dimuat di majalah sastra dan kebudayaan bergengsi: Mimbar Indonesia, Siasat, Gelanggang, dan Keboedajaan Indonesia.

Karya-karyanya meliputi puisi, cerita pendek, novel, drama, terjemahan, saduran, kritik dan esai. Sejak usia belia, Ajip sudah bergelut dengan dunia literasi (baca: penerbitan), sebagai redaktur Soeloeh Peladjar, majalah Prosa, redaktur penerbit Tjupumanik, redaktur majalah sastra bergengsi Budaya Jaya, direktur penerbit Duta Rakyat, sebelum menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitad Padjadjaran.

Sangat mengagumkan, ketika produktivitasnya pada dekade 1950-1960 tak pernah surut, bahkan kepeduliannya terhadap perkembangan seni, sastra, dan budaya yang sekaligus mencerminkan kecendekiaannya tak pernah henti. Karya-karyanya dalam bentuk buku, juga terus mengalir. Bahkan di hari tua, semangatnya menulis dan menerbitkan buku, masih menggebu. Termasuk puitisasi kisah perjuangan Rasulullah Muhammad SAW.

Ajip yang karib dengan Endang Saifuddin Anshari -- putera tokoh Persis Isa Anshari -- yang juga penggiat dan penggemar literasi, dan pelukis Achmad Sadali - ITB, mengembangkan tidak hanya sikap kecendekiaan, melainkan menjadi cendekiawan yang sesungguhnya. Ia sosok yang tak memerlukan cangkang, karena lebih mengutamakan isi atas cangkang itu.

Pada masa belia, ketika banyak orang seusianya sedang dibekap mimpi orang tua yang sangat mengagungkan cangkang, Ajip malah tak ambil peduli dengan cangkang. Saat itu dia berpindah sekolah dari SMA -- di Jakarta -- Jalan Batu (kemudian menjadi SMA Negeri 4), lalu ke SMA Jalan Boedi Oetomo (Budut) - (kemudian menjadi SMA Negeri 1), kemudian SMA Taman Siswa - Jalan Garuda Kemayoran (di sekolah ini juga bersekolah Sjumandjaja dan Benyamin S). Ajip tak menyelesaikan sekolahnya di SMA Taman Siswa dan menegaskan dirinya bersekolah menuntut ilmu, bukan mencari ijazah. Dia menyatakan (dan membuktikan) mampu hidup berbekal ilmu, pengetahuan, dan pengalamannya yang luas. Bukan mengandalkan ijazah.

Akiko-san dan Ami-san menghentikan sesaat aktivitasnya menikmati tempura. Keduanya memandang saya, tercengang. Keduanya lalu paham, mengapa Ajip sangat dihormati di negerinya. Akiko lantas cerita tentang Matsuo Bashõ yang melahirkan haiku. Juga para haijin yang punya cerita mirip-mirip dengan kisah Ajip yang saya ceritakan, seperti Iida Dakotsu, Masaoka Shiki, Murakami Kijo, Kobayashi Issa, Takahama Kyoshi, Yosa Buson dan lain-lain.

Kreativitas Ajip Rosidi seolah jauh tak berujung dan luas tanpa batas. Ia terus berkarya, kendati menerima berbagai amanah, seperti ketika diminta Ali Sadikin dan Ramadhan KH menghidupkan aktivitas seni dan sastra di Jakarta. Lantas mendirikan dan memimpin Dewan Kesenian Jakarta bersama-sama dengan Pak Djadug (Djayakusuma), Taufiq Ismail, dan lain-lain. Bersama para koleganya juga membentuk Akademi Jakarta -- sebagai sentra pemikiran kebudayaan -- Akademi Djakarta, yang antara lain menghimpun Sutan Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, Toety Heraty Noeradi, dan lain-lain. Ajip memang concern dengan upaya penggalian dan pengembangan kearifan dan kecerdasan budaya, baik dengan memimpin penelitian tentang pantun dan folklore Sunda, pendirian Paguyuban Pengarang Sastra Sunda, pemberian Hadiah Sastra Rancage, termasuk tanggungjawab sosialnya terhadap dunia penerbitan buku, sehingga mau mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Ia juga berkenan menerima amanah sebagai Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1980).

Ensiklopedi Kebudayaan Sunda (2001) adalah karya besar yang diselesaikannya bersama sejumlah sastrawan dan budayawan Sunda. Ajip sangat menghargai kecendekiaan. Kritiknya tajam, tanpa basa-basi, tetapi sangat terbuka untuk berdiskusi dan mau menerima perbedaan pandangan, termasuk perbedaan perspektif dalam memandang sesuatu.

Tahun 2000 Ajip Rosidi mengeritik tajam buku saya, The Sound of Sunda Culture, yang semula dinilainya memperlakukan karya rumpaka Sunda seperti menulis karedok, mengabaikan periodisasi, sehingga mengabaikan dimensi waktu dalam melihat suasana kebatinan di balik proses rumpaka itu dihasilkan.

Setelah bertemu dan berdiskusi, lantas beroleh penjelasan perspektif yang saya gunakan memang berbeda (imagineering mindset), Ajip (saya lalu memanggilnya Mang Ajip) dengan orientasi aplikasinya : rumpaka sebagai isyarat zaman sebagai pijakan pemikiran futurisme, bisa menerima perbedaan. Berbeda dalam perspektif dan hermeneutika, lantas kami sama bicara tentang visi kebudayaan secara holistik.

Ketika itu juga dia melihat perbedaan dalam mengartikulasikan visi budaya, seperti yang pernah dilakukan oleh Saleh Danasasmita, Ayat Rohaedi, dan beberapa lainnya, yang tidak terjebak oleh hanya kajian akademik.

Seperti pernah saya ceritakan kepada Akiko-san dan Amy-san, di mata saya Ajip Rosidi adalah tokoh besar yang dimiliki Indonesia. Ia cendekiawan besar di sebalik dunia sastra dan buku. Karenanya, sampai usia tua, ia mempunyai kedaulatan berfikir dan bersikap, apalagi terkait dengan kemuliaan kecendekiaan.  Kebanggaan nasional terhadap bangsanya juga luar biasa, karenanya, ia tak nyaris tak suka basa-basi. Dalam hal menghormati orang lain dan suatu penghargaan yang diterimanya, sikap Ajip Rosidi juga tegas.

Penerima Hadiah Sastera Nasional untuk Puisi (1955-1956) dan Prosa (1957-1958), Hadiah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993), dan Habibie Award bidang Kebudayaan (2009) ini sungguh sangat menghormati isi katimbang cangkang. Habibie Award dia kembalikan pada tahun 2016, sebagai protesnya kepada pemberi penghargaan, itu (Yayasan Sumberdaya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) setelah sangat meyakini (melalui penelisikan yang teliti) ada seorang guru besar penerima Habibie Award 2015, melakukan plagiasi.

Ajip lakukan itu justru untuk menghormati Habibie yang namanya dipakai untuk penghargaan itu sekaligus -- sebagai penerima Habibie Award -- terpanggil untuk menjaga kehormatan penghargaan itu, yang tak boleh tercederai oleh tindakan non cendekia.

Ajip menilai plagiat adalah cedera memalukan, apalagi dilakukan oleh seorang dengan jabatan akademik guru besar. Hal itu disampaikannya dalam keterangan terbuka kepada media di Jakarta, selepas mengembalikan semua hal terkait dengan Habibie Award kepada Tri Susilo, satpam di kantor Habibie Center, karena tak seorangpun di kantor itu yang mau menerimanya. Ajip dengan ratusan bukunya, termasuk saduran dan terjemahan, sangat menjaga marwah kecendekiaan.

Cendekiawan besar di sebalik sastra dan buku itu, wafat di Magelang, Rabu (29/7/20). Selama ini ia memang sering berada di Pesantren Pabelan, tempat salah seorang puteranya. Selamat jalan Mang Ajip, kami bangga kepadamu. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
25 Nov 20, 15:43 WIB | Dilihat : 53
Merenung Jarak Budaya
19 Nov 20, 21:00 WIB | Dilihat : 147
Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat
12 Nov 20, 04:07 WIB | Dilihat : 157
Ronggeng dalam Perspektif Endang Caturwati
21 Okt 20, 11:43 WIB | Dilihat : 243
Ronggeng Dulu dan Setelahnya
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1548
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1960
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1095
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya