Dengan Wasiat Sunan Gunung Jati Menyikapi Petaka Corvid 19

| dilihat 594

Bang Sém

Apapun istilah yang hendak diberikan, pandemi Covid-19 adalah petaka. Secara spiritual, kita menyebutnya sebagai peringatan atau ujian Tuhan kepada umat manusia di bumi. Karena faktanya, yang menjadi korban utama virus ini adalah manusia, bukan makhluk yang lain.

Covid-19 adalah momentum bagi seluruh umat manusia di dunia becermin diri, untuk mengenali hakikat eksistensinya sebagai manusia, yang dicipta Tuhan sebagai sebaik-baik makhluk.

Manusialah yang diberikan perangkat hidup istimewa dibandingkan makhluk lain, sehingga dapat menggunakan otak dan akalnya untuk berfikir, sekaligus mampu mengelola naluri, rasa, dan indrianya secara harmonis.

Kemampuan itu yang memungkinkan manusia berbudaya dan berkebudayaan, yang mewujud di seluruh aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, politik, sains, teknologi, seni, sastra, dan lainnya.

Budaya dan kebudayaan yang dihidupkan oleh artistika, estetika, dan etika itulah yang menyebabkan manusia mengenal cinta. Baik cinta kepada sesama manusia, cinta kepada alam - semesta, dan cinta kepada Allah sebagai Supreme Creator - Pencipta yang Mahaagung, sekaligus Rabb - Mahapemelihara.

Itu sebabnya. manusia yang tak berbudaya, disebut sebagai hewan yang berakal (khayawan an nathiq). Yaitu, mereka yang tak menggunakan akal pikirannya untuk kepentingan kebaikan dunia.

Kualifikasi manusia tidak ditentukan oleh status dan posisi struktural yang sistem yang dibangunnya sendiri, karena Tuhan sudah membagi manusia ke dalam empat golongan besar, yaitu manusia kepala - kaum afkar - yang pencapaian puncaknya; manusia dada - kaum yang memelihara keseimbangan nalar dan naluri - yang sering disebut sebagai wiseman; manusia perut - homo faber sekaligus homo economicus; dan manusia syahwat - libido hominum yang sangat memanjakan nafsunya. Manusia yang mampu mengelola seluruh dimensi dirinya disebut sebagai ulul albab, yang pencapaian puncaknya adalah sebagai insan kamil, manusia mulia.

Para ulul albab berkesadaran penuh untuk menjaga keseimbangan nalar, naluri, rasa dan drianya, sehingga kecerdasan intelektual - emosional dan spiritualnya terkelola dengan baik. Ilmu dan kearifannya memungkinkan dia menjadi sungguh manusia yang bermanfaat luas bagi banyak manusia lainnya, sehingga dia menjadi sungguh sebagai khalifatullah fil ardh - wakil Tuhan di atas mukabumi.

Manusia perut dan manusia syahwat justru sebaliknya. Mereka lebih banyak menggunakan kekuatan akal hanya untuk kepentingan dirinya, mulai dari skala domestik yang bertalian dengan tahta, harta, dan syahwat.

Beragam kisah di seputar Kaisar Ramses II dan para Tsar yang terus diikuti sampai ke era Alexander VIII, dinasti-dinasti kesultanan (sampai) era Kemal At Taurq, serta dinasti Tiongkok sampai Kaisar Puyi, pun para Syah - sampai Syahreza Pahlevi, memberikan gambaran luas, bagaimana manusia perut dan manusia syahwat mendominasi dunia.

Bahkan berketerusan sampai kini, ketika Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkuasa dan bertarung hendak menguasai dunia.

Semuanya bertarung untuk menguasai sumberdaya alam dunia dengan beragam sistem, sampai ke era kapitalisme baru dengan nilai liberalisme, yang sejak penghujung abad ke 20 menggerakkan globalisme, yang oleh Soros dieksekusi sebagai penguasaan sumberdaya alam dan ekonomi di seluruh dunia, di bawah kendali kekuasaan kapital - lewat industri keuangan yang mengabaikan prinsip-prinsip keadilan, keberadaban, dan kemanusiaan.

Pengurasan sumberdaya alam, penguasaan lingkungan sosio budaya, eksploitasi manusia atas manusia, berlangsung terus menerus. Revolusi Industri I yang bergerak dari Perancis di era Napoleon Bonaparte disertai dengan sistem demokrasi (politik dan ekonomi) terus bergerak ke era informasi dan era konseptual dengan perubahan budaya ke arah IoT (internet on think) dan AI (artifisial intelligent) yang mendegradasi kemanusiaan.

Revolusi Industri I, II, III, dan IV tak pernah lari dari watak manusia perut dan manusia syahwat yang merusak lingkungan alam dan lingkungan sosial, menebar bencana alam dan bencana sosial.

Itulah sebabnya, Sunan Gunung Djati bersama para Wali dan Sultan di Nusantara -- pada masa lampau -- bertegas-tegas menolak dan menentang dominasi liberalisme dan kapitalisme. Antara lain dengan menentang masuknya Portugis. Terutama karena lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat.

Sunan Gunung Djati dan para wali lain, termasuk Syeikh Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Raja Ali Haji, dan lain-lain menyadari musibah besar dari keserakahan yang pernah terjadi di masa lalu, dibersihkan Tuhan dengan cara yang tak terbendung oleh manusia. Mulai dari wabah black dead yang melumpuhkan Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Covid-19, saya yakini, adalah bagian dari cara Tuhan melakukan clean-up atas bumi yang diciptakan-Nya dan merupakan peringatan agar manusia kembali ke dalam hakikat dirinya sebagai manusia, dan jauh dari keserakahan.

Dalam menyikapi ancaman Covid-19 saya memandang, beberapa dari 40 nasihat Sunan Gunung Jati, mesti menjadi bagian dari cara kita untuk hidup tidak serakah dan berangasan (amapesa ing bina batan).

Setarikan nafas, yang harus segera dilakukan untuk mengatasi persoalan supaya cepat berlalu, selain dengan cara medis yang berorientasi pada pengobatan, adalah cara budaya. Yakni, perbanyaklah bertobat atas segala dosa selama ini (Kudu ngahekaken pertobat) dan jauhi pertengkaran atau debat yang tidak perlu  (Angadahna ing perpadu ).

Lantas, dahulukan - prioritaskan hajat orang banyak - keselamatan jiwa rakyat (Kenana ing hajate wong). Segera mawas diri ( Angasana diri ). Jangan hanyut dalam dukalara, karena semua cobaan ini akan berakhir bila diikhtiarkan secara bersungguh-sungguh (Den suka wenan lan suka memberih gelis lipur ).

Jangan mengingkari komitmen dan jani kepada rakyat, untuk mendahulukan kepentingan rakyat di atas segala-galanya (Aja nyindra janji mubarang).

Lalu, bangun solidaritas - soliditas dan kesetiakawanan sosial, saling bantu antara yang kaya dengan yang miskin, momentum ini adalah peluang untuk menjadi dermawan (Yen kaya den luhur ). Hindari sikap pongah dan jumawa, mengagung-agungkan diri sendiri (Aja ngagungaken ing salira ) dalam bahasa lain bisa disebut, lakukan delegation of authority secara tepat - hargai inisiatif Kepala Daerah.

Jangan ulangi sikap ujub dan takabur yang sempat dipertontonkan para petinggi negeri, ketika isu Corvid-19 baru memantik dan melumat Wuhan..( Aja ujub ria suma takabur ). Jangan lagi senang melecehkan isyarat yang diberikan orang lain, hanya karena secara politik tak sejalan (Aja ilok ngijek rarohi ing wong).

Kuncinya adalah bersinergi dan berkontribusi di jalan solusi yang akan dipatuhi semua kalangan (ta'awwanu alal birri wat taqwa) dan jangan bersekongkol di jalan yang menyimpang (wa la ta'awwanu ala itsmi wal 'udwan). |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 253
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 255
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 233
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 285
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
Selanjutnya
Budaya
09 Jan 21, 00:30 WIB | Dilihat : 380
Berpegang Adab dan Etika Hidupkan Kolaborasi
08 Jan 21, 08:45 WIB | Dilihat : 1311
SONGONG
30 Des 20, 05:57 WIB | Dilihat : 276
Dalam Pusaran Ironi dan Tragedi Kebangsaan
28 Des 20, 15:32 WIB | Dilihat : 251
Aceh dalam Sekeping Memori Hidup Saya
Selanjutnya