Puisi

Kemerdekaan

| dilihat 417

n. syamsuddin ch. haesy

 

Kemerdekaan adalah tidur malamku

Kebebasan bermimpi menuai ilusi dan fantasi

Kebebasan mengembara melintas masa

Dari masa silam ke masa entah

Kusambangi para pejuang dan pahlawan

Di taman yang tak pernah kukenali di mana

Taman tempat mereka berdiri tegak

Memandang langit biru

Tak ada bendera yang dikibarkan

Tak ada lagu kebangsaan yang dinyanyikan

Tak ada musik penggelora semangat

Mulut mereka tertutup pelitup warna hitam

Mata mereka menatap sayu

Seorang nenek pejuang tua bermandi cahaya

Menatapku dalam diam

Dia tersenyum

Pesona kecantikan tertampak di wajahnya

Aku mendekatinya

Dia menghilang

Lalu seluruh pejuang dengan pelitup warna hitam

Menghilang

Gumpalan awan hitam bergerak cepat

Menghampiriku

Aku terdesak di sudut jalan

Malam tiba lebih cepat

Bintang-bintang mengerjap

Aku lihat nenek tua nan cantik itu

Di punggung banteng perkasa melenguh

Di bawah beringin tua

Rantai menjadi kalung di lehernya

Tangannya menggenggam ronce padi dan kapas

Ia acung-acungkan padi dan kapas itu

Cahaya memancar di sekujur tubuhnya

Ribut datang menghempas

Aku melayang dan jatuh di awan

Aku menggigil

Swara.. ya swara kudengar entah dari mana

 Nenek tua berwajah cantik itu tiba-tiba kulihat melayang

Memandangiku

Mendekatiku

Swara itu berubah lirih

Swara nenek itu

Ya swara nenek itu

 "Kemerdekaan adalah buah cinta meski tak menghapus luka. Kusimpan luka dalam jambangan sukma. Aku bahagia telah menghantar dia dan kalian ke gerbang kemerdekaan bangsa. Meski aku tetaplah aku. Perempuan sunyi melangkah di sepanjang jalan perjuangan. Menyertaimu di mana saja gelora perjuangan hidupkan renjana. Kemerdekaan adalah buah cinta di hamparan pengorbanan bercindai keikhlasan.. Jaga baik kemerdekaan bangsamu dengan cinta. Jangan pernah beri peluang kepada sesiapa merampas daulat rakyat. Karena tak ada hakikat merdeka kala daulat rakyat tergadaikan. Karena tak ada hakikat merdeka tanpa keadilan dan kesejahteraan bagi pemilik kedaulatan itu. Kemerdekaan adalah buah cinta. Mengalir bersama anak-anak zaman. Melanjutkan perjuangan di zaman baru. Menghadapi tantangan dan penjajahan baru yang tak kukenali dan tak kan pernah kau kenali. Jangan sia-siakan perjuangan yang disemai dengan cinta. Meski berujung luka dan sunyi."

Swara itu berubah menjadi gema menghentak semesta.

Nenek itu menghilang bersama cahaya.

Aku terhempas. Tergeletak lelah. Bermandi peluh yang airnya datang dari samodera keluh kaum papa rakyat tak bernama.

Aku kembali ke alam nyata.

Di layar televisi kusaksikan orang-orang berteriak: merdeka.. merdeka

Di layar televisi kusaksikan upacara bendera

Di layar televisi kusaksikan orang-orang dengan pelitup di wajahnya.

Seorang pemimpin gagah berdiri memimpin upacara.

Wajah cendekianya tersenyum.

Kudengar dia berkata:

 "Kemerdekaan bukan hanya menggulung penjajahan. Kemerdekaan adalah menebar dan menyemai benih keadilan dan kesejahteraan, hingga kelak, anak cucu kita berkata: di sini keadilan dan kesejahteraan menampakkan maknanya. Jelma jadi cinta di sanubari rakyat."

[ Jakarta, 17 Agustus 2020 ]

 

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 493
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
01 Nov 20, 12:10 WIB | Dilihat : 169
Jakarta Jawara Dunia Tata Kelola Transportasi
04 Okt 20, 16:55 WIB | Dilihat : 184
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 748
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
Selanjutnya
Budaya
25 Nov 20, 15:43 WIB | Dilihat : 53
Merenung Jarak Budaya
19 Nov 20, 21:00 WIB | Dilihat : 147
Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat
12 Nov 20, 04:07 WIB | Dilihat : 157
Ronggeng dalam Perspektif Endang Caturwati
21 Okt 20, 11:43 WIB | Dilihat : 243
Ronggeng Dulu dan Setelahnya
Selanjutnya