Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi

| dilihat 373

Catatan Bang Sèm

Kamis (22/8) dan Jum'at (23/8) saya gembira bisa berinteraksi dan berbagi pengetahuan dengan kalangan muda dan millenial Betawi.

Kamis siang saya terlibat diskusi dalam kongko literasi Betawi dengan para penggiatnya, termasuk para seniornya. Banyak hal menarik dalam interaksi yang saling mengisi satu dengan lain, mengawinkan pengalaman dan pengetahuan.

Rahmad Sadeli dari komunitas Baca Betawi, Ronny Adi dari komunitas Sikumbang dan lainnya dari komunitas Pustaka Betawi, juga Fifi Firman Muntaco - puteri penulis sketsa Betawi legendaris. Ada juga pakar pantun Betawi Zahruddin Ali AlBatawi, komika Betawi Nizam dari Bekasi, sutradara lenong dan pemain teater rakyat Yamin Azhari, Ghoes, Syamsuddin Bahar - penggiat sinetron dan deklamator andal, serta lainnya.

Dari kalangan senior ada dr. Ashari, Muhammad Sulhi, Asmawi, dan Izza dari Gerbang Betawi. Juga Geisz Chalifah promotor Jakarta Melayu Festival dan Boy - Forum Jurnalis Betawi. Ada juga Idrus F. Shahab - novelis yang berwawasan luas. Tentu Aba Mardjani - cerpenis Betawi, yang bukunya menjadi 'buku ajar' pelajar di Singapura.

Banyak pemikiran menarik terkait proses kreatif, ungkapan semangat menggerakkan literasi Betawi, dan berbagai gagasan baru lebih segar terkait dimensi budaya Betawi. Di acara komunitas pada Forum Jakarta International Literary Festival  (JILF) 2019 bertema tentang 'Pagar,' suasana kongkow di bawah pohon dekat teater halaman Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki, itu menghidupkan kembali gairah dan ghirah kreatif.

Adalah dr. Ashari - Direktur Eksekutif Gerbang Betawi yang menjentik dan mendorong komunitas penggiat literasi Betawi memfasilitasi kemungkinan berlangsungnya festival Pantun se Nusantara. Terutama, karena di gugusan negara kepulauan Indonesia, plus Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Pattani (Thailand), pantun merupakan salah satu produk literasi yang mengekspresikan budaya Nusantara.

Acara baca puisi yang dilakukan Syamsuddin Bahar, Kinung, Nizam dan Asep menarik perhatian saya, karena puisi-puisi Betawi terekspresikan dan tersampaikan dengan baik suasana budaya dan pesan moralnya dalam semangat Betawi yang spontan, tangkas, cerdas, dan jenaka.

Komunitas literasi Betawi terus bertumbuh dan bergerak mandiri, meski dalam keterbatasan, dan agaknya perlu beroleh perhatian dan kesadaran semua kalangan, terutama Lembaga Kebudayaan Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Acara kongko itu lebih fokus pada mengelola dan mengolah kreativitas dan inovasi berkarya dan memperkaya literasi Indonesia sebagai bagian dari literasi dunia.

Secara kultural dan tradisi, literasi sebagai bagian dari aksi budaya merupakan jalan penting bagi upaya kolektif menghidupkan upaya pengembangan kearifan dan kecerdasan lokal secara paralel. Kongko Literasi Betawi juga saya pandang sebagai suatu aktivitas yang merupakan kelanjutan dari Pekan Sastra Betawi yang digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta sebelumnya.

Keren dan patut diapresiasi. Selain memperlihatkan pesona persona kaum Betawi secara kultural. Hal ini merupakan jawaban kongkret komunitas mandiri generasi muda Betawi menjawab tantangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Khasnya dalam konteks kaum Betawi menjadi tuan rumah budaya nasional dan manca. Tuan rumah bagi berkembangnya kreativitas budaya, karena Jakarta mesti dikembangkan sebagai sentra peradaban. Minimal di Asia Tenggara.

Generasi baru dan kaum millenials Betawi, siap untuk berkontribusi menjadikan Jakarta sebagai pusat peradaban, seperti dulu para pemikir Persia menyebut tentang Zangdes dan menyebut posisinya berada di belahan Timur bumi. |

Editor : Web Administrator