Catatan Seni 1

Seni Etalase Peradaban

| dilihat 217

Bang Sém 

ARTS is long, life is short. Ars longa vita breves. Ini omongannya Hypocrates yang saya hafal sejak belia.

Pertama sekali saya dengar dari guru matematik saya, yang selalu menjelaskan, bahwa ilmu matematika yang saya pelajari adalah seni. Sama-sama tak terhingga, sehingga menempatkan bilangan bukan sebagai substansi, melainkan simbol-simbol.

Dalam berbagai ensiklopedia tentang seni, saya tak menemukan satu rumusan pasti definisi tentang seni yang bisa diterima secara universal.

Dulu, saya meyakini keragaman dan keberbagaian definisi tentang seni merupakan salah satu bukti 'ketidak-terjangkauan' makna dan hakikat seni, bila didekati hanya dengan point of view, angle, notion, bahkan opini.

Kita tak bisa memaksakan atau mematok siapapun untuk memahami seni dalam satu definisi, sebelum dirumuskan dalam suatu pemahaman yang bisa diterima secara global.

Seni berada di antara wilayah empirisma dan non empirisma manusia (ilusi, fantasi, imajinasi - kendati imajinasi merupakan instrumen mengubah sesuatu yang ada di luar empirisma menjadi empiristik). Karenanya, seni mesti dipahami dengan cara pandang, perspektif.

Tak cukup memahami seni dalam definisi, sebagai sesuatu yang indah atau cara dan teknik menghasilkan artistika dan estetika, karena di berbagai wilayah budaya, seni juga harus dihidupkan dengan etika, yang menegaskan seni sebagai salah satu pilar penting dari suatu peradaban, civilization.

Pada akhirnya, etika -- termasuk prinsip-prinsip moral di dalamnya -- merupakan faktor yang membedakan sesuatu disebut seni dan bukan seni.

Sejarah perkembangan peradaban manusia sejak masa pra sejarah -- sebutlah pada era paleolitik, neolitik, dan megalitik, misalnya -- memberi isyarat yang jelas, seni ada dan hidup bersama keberadaan manusia.

Seni berhubungan langsung dengan eksistensi (keberadaan) manusia, baik dalam makna harafiah maupun dalam konteks filosofis.

Nietzsche, memandang eksistensi manusia sebagai bagian dari dunia material, terlepas dari apa pun yang mungkin ada. Dalam konteks itu, secara fisikal manusia mempunyai batas eksistensi.

Keduanya memandu kita memahami, eksistensi manusia bergantung pada potensinya. Potensi manusia dengan segala gagasan yang dilahirkannya, serta kemauan dan kemampuan memanifestasikan gagasan sebagai takdir yang dipilihnya, yang akan menentukan bentang eksistensi yang melampaui hidupnya.

Dalam ajaran agama samawi, manusia tak hanya berurusan dengan material - fisika, karena ada faktor non material - metafisika, seperti yang mengemuka dalam Platonisme dan Aristotelisme. Manusia hidup di antara dua kategori alam : Metafisika dan fisika

Al Farabi dalam studi logika sistematik yang diajarkannya, membagi subyek manusia dalam dua kategori alam, yakni: takhayyul (ide, gagasan) dan thubut (realitas, fakta).

Manusia dengan seluruh dimensi budaya yang memberi pengaruh dalam kehidupannya, memperoleh dua sumber utama yang bersifat metafisika dan fisika sekaligus yang berhulu pada Allah, prima kausa - Mahakreator yang juga Mahaartistik dan Supraestetik.

Dalam konteks ini, seni mengalir dalam kehidupan insani, yang memungkinkannya menyadari eksistensi dirinya dan eksistensi Allah, yang melengkapi kehidupan manusia dengan semesta sebagai ruang gagasan sekaligus ruang manifestasi seni.

Manusia purba zaman pra sejarah mengekspresikan gagasan seni dalam bentuk seni rupa sesuai dengan perkembangan peradabannya di dinding-dinding gua, perangkat kehidupan, dan produk-produk karya ciptanya, termasuk pola hidup dan pilihan permukiman.

Saya meyakini, inilah yang terus berkembang menjadi seni lukis, seni pahat, sclupture, fashion arts, visual arts dan kelak virtual (conceptual - imagine) arts, setelah melewati fase inkubasi (termasuk konvergen) melalui perubahan era yang ditopang oleh perkembangan sains dan teknologi.

Semua itu bergerak bersamaan dan berintegrasi dengan bentuk-bentuk reaktualisasi dengan medium seni (musik, tari, teater, film) dan sastra, yang terus bergerak dinamis, memenuhi keperluan-keperluan dasar manusia, termasuk hak-hak dasarnya. Inilah yang selalu mempertautkan seni pertunjukan (performing arts) dengan gaya - orientasi - dan manifestasi transformasi  kehidupan manusia.

Dalam konteks ini, pemahaman bahwa seni akan selalu memerlukan pemikiran sebagai dorongan kreatif untuk menemukan beragam formula kreatif seni dengan platform artistika - estetika - dan etika yang sesui dengan capaian-capaian peradaban.

Seni (kesenian) pada akhirnya harus diposisikan sebagai etalase peradaban yang mengisi seluruh ruang hidup manusia, berkontribusi dalam memberi jiwa bagi sains, teknologi untuk menjawab berbagai tantangan zaman. Karena di dalam manifestasi seni, artistika - etstetika - etika berkaitan langsung dengan kemanusiaan.

Seni mesti diperankan sebagai artikulator sains dan teknologi dan menjadi mata panah peradaban untuk menjawab berbagai tantangan abad ke 21 dan zaman baru. Terutama ketika kini, manusia terkondisikan oleh sains dan teknologi ke dalam gaya hidup singularitas yang membuatnya tergantung pada produk teknologi, serta tak bisa lari dari beragam algoritma kehidupan, ketika kita memasuki era peradaban Society (Masyarakat) 5.0, dengan atau melampaui fase Industry 4.0.

Karena, seperti yang dirintis oleh Al Farabi, Ibn Rusyd, Albert Einstein, dan ilmuan lainnya, seni terintegrasi dengan perkembangan sains dan teknologi. Seni berinteraksi dengan aritmatika, matematika, aljabar, dan beragam cabang ilmu dasar - termasuk ilmu dan teknologi tinggi.

Beranjak dari pandangan dan pemikiran ini, seni jangan lagi diposisikan sebagai 'sampiran' dan dihampiri dengan pemahaman tentang keragaman bentuk, jenis dan genre-nya belaka. Karena seluruh cabang seni memainkan peran strategis dan fungsional sebagai artikulator sekaligus medium untuk melakukan konvergensi aktual pola dan sistem logika, dari raison intuitive ke la façon de manifester - cara mewujudkan gagasan. Konvergensi dari non realitas ke realitas pertama, kemudian ke realitas kedua dan sebaliknya.

Fraseologi seni, yang bergerak dari seni rupa - seni liberal - seni visual - seni hias - seni terapan - desain - kriya - seni pertunjukan, bersinggungan langsung dengan perkembangan industri, mulai dari produk-produk tambang sampai still life.

Karena perkembangan peradaban manusia dari era pra sejarah sampai era post industrial - post modernisme melalui proses transformasi (perubahan dramatik), yang tak mesti paralel dengan perubahan sosial - ekonomi - politik yang banyak berkutat pada jalan perubahan melelahkan (reformasi) yang bermuara pada deformasi sosial, organisme seni dan institusionalisme mesti dijaga tetap berpijak (sekaligus berorientasi) pada horizon de l'humanité - cakrawala kemanusiaan. Terutama, ketika tantangan manusia untuk melayari transhumanisme, mesti dijawab dengan kesadaran untuk menyeimbangkan kemajuan sains dan teknologi, serta percepatan komputasi dengan kearifan.

Keseimbangan itu diperlukan, tidak sekadar untuk mengatasi berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh disrupsi (sosial, ekonomi, politik) kontaminasi infodemi akibat kuatnya post trust fase, yang menebar gaya hidup pencitraan, fraud, corruption, terorrisme, anarchisme, vandalisme, dan keterbelahan orientasi budaya ke arah primitivisme. Jauh daripada itu adalah untuk tetap menjaga dimensi manusia dan kemanusiaan.

Seni -- dengan proses kreatif yang konsisten pada keselarasan artistika - estetika - etika -- saya yakini, menjadi kekuatan untuk memantik kesadaran dan antusiasme kemanusiaan (human awareness - enthusisme) guna terus menerus menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta dalam kehidupan manusia. Karena seni merupakan ruang bagi manusia untuk terus menerus menjaga hakikat eksistensinya sebagai manusia.

Allah, setidaknya melalui empat rasul-Nya (Musa - Daud - Isa dan Muhammad) melalui Taurat, Zabur, Injil, dan al Qur'an memberi isyarat dan panduan jelas proses transformasi tentang fungsi kebudayaan dalam menyempurnakan law enforcement menjadi justice, estetika menjadi civilisasi, dan cinta menjadi kemanusiaan. Menggerakkan kehidupan manusia dari kegelapan ke kondisi terang benderang (minadzdzulumaat ilannuur).

Karenanya, seni mesti dikelola secara terencana, terkelola dan dapat dievaluasi sebagai miniatur dari al zujajat - nyala pencerahan yang senantiasa menyala. Di sini, makna 'seni menghaluskan akal budi' menampakkan sosoknya. Pondasinya nilai-nilai dasar peradaban, regulasi - sistem tata kelola, ruang manifestasi - eksibisi - presentasi, dan akhlak (terutama etika).

Dalam keseluruhan konteks pandangan ini, negara memainkan peran besar untuk menjadi pemelihara utama kesenian. Dan, menghilangkan institusi khas yang menangani kesenian dalam kelembagaan negara, merupakan tindakan gegabah yang pandir. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 385
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1298
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2179
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya