Wayang

Tokoh-tokoh Wayang Khas Indonesia

| dilihat 16687
 
JAKARTA, AKARPADINEWS.Com - Banyak yang beranggapan bahwa cerita kepahlawanan (epos) Ramayana dan Mahabarata berasal asli dari tanah pulau Jawa. Namun, kedua epos tersebut sejatinya asli dari tanah India. Akan tetapi, tidak semua tokoh dalam Ramayana dan Mahabarata versi Jawa, Sunda, hingga Bali berasal murni dari India. Ada beberapa tokoh yang memang hasil kreasi dari local genius masyarakat  di pulau Jawa.
 
Tokoh-tokoh yang bukan berasal dari epos asli India disebut dengan tokoh carangan. Tokoh-tokoh tersebut dibuat untuk menambah rasa lokal dalam cerita pewayangan. Di dalam pewayangan Jawa terdapat banyak sekali tokoh carangan (lakon) yang mungkin sudah akrab di telinga masyarakat Jawa. Beberapa tokoh memegang peranan penting di dalam alur dunia wayang Jawa.
 
Berikut beberapa tokoh-tokoh carangan yang merupakan buah intelektualitas para local genius yang ada di pulau Jawa:
 
1. Wisanggeni.
Wisanggeni merupakan anak dari Arjuna dengan Dewi Dresnala—putri Dewa Api, Brahma. Nama wisanggeni berasal dari kata wisa ‘racun’ dan geni ‘api’. Di dalam dunia pewayangan, ia diceritakan sebagai titisan dari Sang Hyang Wenang—ayah dari raja para Dewa, Bathara Guru—memiliki kesaktian berupa tatapan yang dapat membakar siapapun dan memiliki rasa keadilan tinggi. 
Namun, Wisanggeni juga diceritakan sebagai sosok yang angkuh, arogan, dan mudah naik darah. Wisanggeni termasuk ke dalam kumpulan tokoh yang tidak pernah menggunakan bahasa halus pada siapapun kecuali pada sang pencipta. Tokoh Wisanggeni akhirnya dimatikan oleh Kresna karena bila ia masuk ke dalam perang Bharatayudha maka peperangan menjadi tidak seimbang.
 
2. Antareja
Antareja merupakan anak pertama Bima dengan Dewi Nagagini—putri dari Dewa Bumi, Bathara Antaboga. Keberadaan tokoh ini sering disamakan dengan tokoh Antasena. Namun, dalam pewayangan versi Yogyakarta, tokoh Antasena merupakan tokoh adik dari Gathutkaca. Dalam dunia pewayangan, Antareja memiliki kesaktian kulit sisik berwarna hijau yang keras dan bisa racun yang terdapat dalam mulutnya. Ia bisa membunuh seseorang hanya dengan menjilat jejak kaki musuhnya yang ada di atas tanah.
 
3. Antasena
Antasena merupakan anak terakhir Bima dengan Dewi Urangayu—putri dari Bathara Mintuna. Tokoh Antasena merupakan tokoh yang memiliki kesamaan rupa dengan Antareja—karena tokoh ini sering diasumsikan sebagai nama lain dari tokoh Antareja—namun memiliki sisik yang berbeda warna dengan Antareja. Sisik yang ada di permukaan kulitnya berwarna kuning keemasan. Antasena memiliki kesaktian pada sisik berwarna kuning yang keras dan mampu mentransformasikan dirinya menjadi apapun.
 
4. Punakawan
Tokoh Punakawan terdiri dari empat tokoh, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Selain keempat tokoh tersebut, pada dasarnya terdapat tokoh lainnya yang masuk ke dalam kategori tokoh punakawan. Tokoh-tokoh lainnya itu bermunculan bergantung kreasi dari daerah masing-masing. Seperti dalam pewayangan Sunda, tokoh Bagong diganti dengan tokoh Cepot. 
Tokoh punakawan merupakan sekumpulan tokoh abdi dan emban yang bertugas melayani raja dan keluarganya di kerajaan. Pada kerajaan baik, tokoh punakawannya ialah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sedangkan pada kerajaan yang diplot menjadi antagonis maka punakawan yang melayani ialah Togog dan Mbilung.
 
Keempat tokoh-tokoh carangan tersebut baru sebagian kecil dari keberagaman tokoh carangan yang merupakan hasil kreasi dan kreavititas local genius di pulau Jawa. Keberagaman dari jenis tokoh carangan menunjukkan bahwa wayang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa ini.
 
Adapun, cara membedakan antara tokoh carangan dengan tokoh original dari epos Mahabarata lebih mudah diketahui. Hal itu dapat dilihat dengan keberadaan tokoh yang terdapat dalam perang Bharatayuda. Tokoh yang terdapat dalam perang tersebut merupakan tokoh original dari epos yang berasal dari India. Untuk epos Ramayana, agak sulit membedakan antara tokoh carangan dengan tokoh original dari epos asal Indianya.
 
Tokoh carangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari cerita wayang. Pasalnya, keberadaan tokoh-tokoh carangan tersebut memberikan warna ke-Indonesia-an terhadap epos-epos yang aslinya berasal dari India. |Muhammad Khairil.
Editor : Nur Baety Rofiq
 
Energi & Tambang
Polhukam
02 Feb 21, 19:50 WIB | Dilihat : 207
Penguasa Militer Myanmar Tak Peduli Ancaman Joe Bieden
01 Feb 21, 00:29 WIB | Dilihat : 176
Hari Hijab Nasional Filipina Mulai 1 Februari 2021
01 Feb 21, 22:43 WIB | Dilihat : 203
Titik Balik Demokrasi Masa Pandemi
Selanjutnya