Tren Modifikasi Budaya Lokal ke Budaya Pop

| dilihat 2586
 
Kebudayaan lokal yang ada di Indonesia semakin tergerus oleh kebudayaan pop atau pop culture dari luar negeri. Padahal, di beberapa negara yang memiliki kebudayaan lokal beragam seperti Jepang berupaya memodifikasi kebudayaan lokalnya agar bisa dinikmati oleh generasi muda.
 
Misalnya, cara memodifikasi local culture di Jepang terbilang unik. Salah satunya dengan memasukkan unsur-unsur budaya dalam serial tokusatsu atau serial superhero asli Jepang. Secara garis besarnya, serial tokusatsu merupakan serial superhero yang menjadi idola anak-anak di Jepang. Tokusatsu terbagi atas beberapa genre. Namun, genre yang cukup populer taraf internasional ialah seri Super Sentai dan Kamen Rider. Di Indonesia, kedua serial tersebut dikenal dengan nama Power Ranger dan Satria Baja Hitam. Melalui kedua genre tokusatsu tersebut, anak-anak kembali dikenalkan dengan budaya asal mereka melalui unsur-unsur budaya yang terdapat di dalam kedua genre tersebut.
 
Sebut saja dalam serial Kamen Rider Hibiki. Serial tersebut mengangkat konsep cerita rakyat tentang oni. Oni adalah sebutan masyarakat Jepang untuk sejenis setan atau hantu. Selain itu, dalam serial tersebut terdapat salah satu bentuk kesenian Jepang, yakni kesenian beduk atau taiko. Lalu, dalam serial Kamen Rider Den-O, ada beberapa tokoh cerita rakyat, yakni momotaro atau dikenal dengan sebutan anak buah persik, uratarou atau dikenal dengan nelayan yang mampu masuk ke dalam istana naga, dan kintarou atau dikenal di Jepang dengan sebutan anak gunung.
 
Kedua serial tersebut berani memodifikasi cerita rakyat menjadi bentuk terkini dan diterima oleh generasi muda. Selain itu, modifikasi yang terjadi di dalam kedua serial itu pun berusaha untuk menjaga nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti dalam serial Kamen Rider Hibiki, cara Hibiki memukul taiko tidak sembarangan. Namun, menggunakan kuda-kuda yang sama dengan pemukul taiko tradisional.
 
Pengembangan budaya melalui modifikasi produk budaya tradisional ke bentuk baru harus menyertakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena, dengan tidak mereduksi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka karakteristik di dalam pola budaya pun dapat disalurkan kepada generasi muda sehingga generasi muda memiliki culture characteristict. Dengan bermodal culture characteristict maka generasi muda akan berkembang dengan potensi unik satu dengan lainnya.
 
Hal yang dilakukan Jepang dengan memasukkan unsur budaya dalam serial superhero merupakan cara menumbuhkan kesadaran akan culture characteristict pada diri anak-anak. Sehingga, anak-anak di Jepang sadar betul darimana ia berasal dan bagaimana bersikap selayaknya orang Jepang.
 
Melestarikan vs Mengembangkan
 
Bila di Jepang modifikasi produk budaya menjadi hal yang sudah lumrah dan mampu berimbang dengan perkembangan zaman dan generasi, maka di Indonesia perkembangan budaya melalui produk budayanya terbentur oleh yang disebut pakem. Pakem pada dasarnya sebuah aturan dalam melaksanakan suatu tradisi yang merupakan produk budaya. Hanya saja, pakem terkadang menjadi belenggu yang menyebabkan suatu produk budaya tidak dapat bertahan dalam dinamika peradaban saat ini.
 
Sebenarnya, ada terjadi kesalahpahaman mengenai pakem. Pakem ada untuk menjaga tata nilai yang terdapat dalam produk budaya. Bukan sekadar alur upacara, pola tradisi atau pun bentuk dari produk budaya itu sendiri. Pakem dapat dikatakan acuan tata nilai dalam suatu produk budaya sehingga maksud dan tujuan dalam sebuah produk budaya dapat tersampaikan.
 
Dengan mengacu kepada pemahaman pakem sebagai pola aturan, banyak dari masyarakat Indonesia berasumsi bahwa budaya harus dilestarikan. Padahal, pola pikir melestarikan menempatkan suatu produk budaya hanya menjadi tontonan untuk memangkitan romantisme masa lampau, bukan untuk dimaknai tata nilainya. Selain itu, ketika budaya hanya dilestarikan maka berakhirlah budaya hanya sebagai sebuah objek.
 
Keberagaman kebudayaan lokal di Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga tata nilainya dapat terus tersampaikan pada generasi selanjutnya. Pola pikir mengembangkan menempatkan pakem sebagai acuan tata nilai yang terdapat dalam suatu budaya. Dengan begitu, pengembangan budaya akan berkelanjutan dan tata nilai pun akan tersampaikan sehingga pola budaya pada generasi selanjutnya bisa lestari.
 
Pola pikir melestarikan hanya akan menempatkan budaya dan segala produk-produknya menjadi sesuatu yang statis. Padahal, budaya memiliki sifat dinamis dan terus bergolak bersamaan dengan perkembangan peradaban. Budaya yang dipandang statis hanya akan berakhir menjadi kenangan dalam relung-relung museum. |Muhammad Khairil.
Editor : Nur Baety Rofiq
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1689
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2062
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1222
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Energi & Tambang