Pakaian Kebesaran

| dilihat 387

Saya tak tahu dan tak mau tahu, siapa nama aselinya. Lelaki berusia hampir 70 tahun,  itu, biasa saya sapa Mang Coeloen, mengikuti cucu saya biasa memanggilnya.

Kadang cucu saya yang lain memanggilnya Innocent Uncle. Dia sangat suka dipanggil seperti itu, katimbang dipanggil Mang Coeloen.  “Lebih berwibawa, Njid,” ungkapnya, memberi alasan, ketika suatu hari dia datang ke rumah.

Dia juga ikut-ikutan cucu saya, memanggil saya dengan sebutan Njid.

Setiap kali cucu saya liburan, Mang Coeloen selalu datang. Menantu saya, meminta dia memandu dua cucu saya membaca Juz Amma.’ Bacaan surahnya bagus, meski tak sepenuhnya fasih melafalkan huruf-huruf Arab. Aksennya, masih bercampur dengan aksen desa Bangkerok di pesisir Selatan Jawa Barat, kampung halamannya. Nama desa, itu  sesuai dengan produk kuliner tradisional unggulannya:  ketan bakar berbalur kelapa parutan.

Saya suka dengan Mang Coeloen. Banyak ceritanya. Suatu saat, dia bercerita ihwal ‘Pakaian Kebesaran.’ Begini:

Desa Bangkerok bakal kedatangan Gubernur yang akan melakukan kunjungan kerja. Kepala Desa meminta seluruh perangkat desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat mengenakan pakaian kebesaran. Termasuk Mang Coeloen, yang dituakan di dusunnya. Maka sibuklah dia mencari pakaian yang bila dikenakan, nampak kebesaran.

Hati Mang Coeloen berdebar-debar, was-was tak bisa mengikuti acara yang sangat penting di desanya itu. Sehari jelang hari H, dia sudah hampir putus asa.

Alhamdulillah, istrinya mengingatkan dia pada Barok, salah seorang sepupunya yang berbadan tambun dan gendut. Maka segeralah Mang Coeloen menghubungi Barok. Mang Coloen senang hati, Barok berkenan memberikan satu setel baju dan celananya untuk dipakai Mang Coeloen.

Mang Coeloen mesam mesem, kala mematut diri dengan baju dan celana sepupunya, itu di depan cermin. Memang sungguh sangat kebesaran dikenakan oleh dia yang rada kerempeng.

Tiba masa. Pada hari H, dia sudah mengenakan pakaian kebesaran, itu. Dengan percaya diri, Mang Coeloen melangkah pasti menuju Balai Desa. Dari kejauhan sudah terdengar suara sirene motor penghantar Gubernur, meraung-raung.

Mang Coeloen, mempercepat langkahnya. Karena berjalan kaki, dia kalah waktu dengan Gubernur dan rombongan. Ketika tiba di lokasi, meungpeung Gubernur dan rombongan masih rehat di ruang kantor Kepala Desa, Mang Coeloen bergegas menghubungi panitia.

Panitia yang dihubungi kaget melihat penampilan Mang Coeloen yang rada aneh. Tapi, dia buru-buru dipersilakan duduk di kursi, bagian depan. Lantaran dia akan menerima penghargaan dari Gubernur sebagai penjaga 'leuweung tutupan' yang berhasil melindungi hutan lindung dari para perambah.

Hanya saja hatinya gundah. Dia melihat semua yang calon penerima penghargaan yang hadir, mengenakan ‘pakaian adat’ lengkap dengan iket khas desa itu.

"Mang.. kenapa pake pakaian gedombrongan begitu?" tanya salah seorangt calon penerima penghargaan yang duduk di sebelahnya.

"Pan.. kata pak Kades kudu pake pakaian kebersaran. Setengah mati saya nyari. Untung aja ada Barok yang badag kandel itu ngasih baju dan celananya...," jawab Mang Coeloen. "Lha.. kamu kenapa pake pakean kampret begini? Bukannya pake baju kebesaran?" balik tanya Mang Coeloen.

Orang itu dan orang di sebelahnya tersenyum. "Mamang itu gimana sih? Pan ini pakaian kebesaran desa kita.. Kampret dengan iket..," seru orang itu.

"Hadeuuuh.. tahu begitu.. saya gak rungsing dua hari dua malem mikirin baju kebesaran," balas Mang Coeloen.

Acara pun berlangsung. Para calon penerima penghargaan dipanggil ke depan. Termasuk Mang Coeloen.

Ketika sampai giliran Mang Coloen, Kepala Desa dan Bupati mendelik. Gubernur juga.  Tapi nampak menahan diri untuk tidak tersenyum.

Semua orang memandang aneh ke arah Mang Coeloen dengan ‘baju kebesaran’ alias gedombrongan, itu. Mereka nampak saling berbisik-bisik.

Ketika kembali ke kursinya, Mang Coeloen mendengar ocehan dua perempuan yang duduk di belakangnya. "Jiga bebegig sawah..." Yang lain menimpali.. "Bukan.. jiga bebegig seroh.."

Gubernur nampak berempati. Dia panggil ajudannya, "Siapkan uang, kasih bapak yang pake baju kebesaran tadi.. mungkin dia gak punya uang beli baju kampret."

Mang Coeloen kesaldan mengungkapkan kemarahannya kepada Kades, karena dirinya menjadi bahan olok-olog orang ramai. "Laen kali kasih bewara tèh yang bener. Pake bahasa terang !" ungkapnya. Kades tak berkutik, karena masih menahan geli.

Gara-gara baju kebesaran itulah, Mang Coeloen akhirnya hijrah ke Jakarta. | njidsem

Editor : eCatri
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 382
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 448
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 618
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 380
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 279
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 259
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 335
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya