Suara dari Pendopo

Para Penjilat Penguasa

| dilihat 783

Tok Sengon

 

malam merambat

angin utara berembus

pujian palsu

 

Pendopo itu sudah semakin rapuh. Sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Sekali sekala, para pengolah bubur kertas, menjemur lapisan bubur kertas yang sudah menjadi karton.

Malam itu, kami menggelar tikar di pendopo yang tak lagi berdinding, itu. Kami mulai lagi tradisi lek lekan, sekali sepekan. Itu pun, bila saya sedang ada jadual mengajar di salah satu perguruan tinggi kota, itu.

Ki Lurah Kamijan duduk di tengah, berdampingan denganku. Beberapa teman, sebagian besar petani cabai, tembakau, dan padi di desa Podo Mulyo. Ada juga beberapa kadus (kepala dusun).

Pertemuan itu sendiri digagas Purwoko, salah satu kadus yang sangat aktif, berani, sekaligus menganut paham sukses dengan satu istri (sudesi).

Ki lurah buka cerita. Ada penyakit lama yang belum hilang hingga kini di desa, itu. Banyak orang, yang sempat menjadi tim pemenangan, ketika dia mengikuti pemilihan kepala desa tiga tahun lalu, masih sibuk nenyanjung dirinya. Padahal, yang diperlukan Ki Lurah sekarang adalah pandangan dan sikap kritis.

"Sanjungan membikin saya lupa diri," cetus Ki Lurah.

Saya mengangguk. "Tok Sengon monggo.. Sudah lama gak denger nasihat jenengan," ujar Purwoko, usai mendengar paparan Ki Lurah.

Saya tatap teman-teman yang hadir malam itu. Saya teringat apa yang pernah diomongkan Den Mas Ripai yang biasa yang panggil Kang Mas Pai atau Kang Pai, ketika beberapa kali saya berkunjung ke pertapaannya di Watulumbung, Parangtritis.

Saya kutipkan omongan Kang Pai, yang mengutip pitutur orang tua, entah siapa. Saya lupa namanya.

"Dene kang padha nggunggung, pan sepele iku pamrihipun, mung warege wadhuk kalimising lathi, lan telese gondhangipun, reruba alaning uwong," ujar saya menyampaikan ulang pitutur itu.

Maksudnya: Mereka yang senang menyanjung sangat sederhana keinginannya, yaitu kenyang perut, basah lidah dan tenggorokan dengan menjual keburukan orang lain.

Dalam suatu lingkungan sosial yang diikat oleh traditional authority relationship, hubungan relasi yang dipengaruhi oleh kekuatan otoritas tradisional, penyakit menyanjung dan memuji itu hidup sangat subur.

Tujuannya sederhana saja, pemegang kekuasaan senang hati dan memberinya percikan otoritas yang akan membuatnya beroleh kesenangan. Cukup pangan, cukup sandang, dan kalau perlu cukup papan.

Orang-orang semacam itu, hanya memikirkan dirinya. Taktik yang dipergunakannya, seperti taktik orang membelah bambu. Mengangkat satu bilah dengan menginjak bilah yang lain.

Menyanjung atau menjilat atasan adalah cara yang dia pakai, supaya disayang oleh penguasa. Kala penguasa 'memakainya' dengan memberi porsi atau percikan 'kekuasaan,' atau kewenangan, dia tak pernah segan bertindak semena-mena. Menebar kecemasan, sekaligus memanfaatkan orang lain untuk kepentingan otoritasnya, sehingga beroleh upeti.

"Amrih pareke iku, yen wus kanggep nuli gawe umuk, pan wong akeh sayektine padha wedi, tan wurung tanpa pisungsung, adol sanggup sakehing wong," tutur saya menirukan ucapan Kang Pai.

Arinya: (Orang menyanjung penguasa) supaya dekat (dan terpakai). Jika sudah terpakai, lantas membuat ulah, menebar kecemasan, sehingga ia menerima upeti dari hasil menjual kemampuan orang lain.

Kepada Ki Lurah saya katakan, penguasa seperti dia kudu waspada dengan orang-orang semacam ini, lantaran mereka tak pantas dekat dengan penguasa atau petinggi.

"Yen wong mangkono iku, nora pantes cedhak lan wong agung, nora wurung anuntun panggawe juti, nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedheplok." lanjut saya, masih menirukan omongan Kang Pai.

Maknanya, orang seperti itu tidak pantas untuk berdekata dengan pembesar karena dapat mendorong untuk berbuat jahat. Meskipun begitu tetap ada kepantasannya, yaitu ditumbuk.

Maksudnya, orang semacam itu musti disingkirkan dari lingkar kekuasaan. Terutama, karena mereka, kapan saja bisa mencelakakan sang penguasa atau petinggi.

Mereka termasuk manusia yang termasuk kategori kakehan sanggup. Terlalu banyak tahu. Bahkan, mereka berani menempatkan diri sebagai seorang yang seolah tahu sesuatu perkara, meski tak pernah melihat perkara itu dengan mata kepalanya sendiri (durung weruh tuture agupruk).

Tetapi, di zaman kini, dengan sedikit kemampuan menulis dan retorika asal bunyi, mereka dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang punya kemampuan menggunakan teknologi informasi untuk mempengaruhi orang banyak, melalui opini-opinoi sesat. Kemudian mengklaim diri sebagai influencer.

Mereka itu menganggap semua orang seperti dirinya, suka menyanjung dan menjilat. Mereka mengira rakyat senang kepadanya dan menyanjungnya, padahal rakyat muak melihat mereka. (Pangrasane keh kang nggunggung, kang wus weruh amalengos).

Saya menirukan bagian nasihat yang ditirukan Kang Pai, berpesan, agar para sedulur yang hadir malam itu, mampu bersikap kritis dan berani menguji kebenaran, dan menyampaikan sikap apa adanya kepada Ki Lurah.

"Yang baik, katakan baik. Yang belum baik dan tidak baik, juga katakan apa adanya," ujar saya.

"Aja nganggo sireku, kalakuwan kang mangkono iku, nora wurung cinirenen den titeni, mring pawong sanak sadulur, nora nana kang pitados." Jangan bersikap seperti para penjilat (penyanjung), lantaran kelak para sedulur, rakyat, merekam dalam hati dan tak lagi percaya.

Hiduplah biasa-biasa saja, sing sa' madya, wajar-wajar saja. Kebersahajaan itu indah... |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
20 Okt 20, 18:46 WIB | Dilihat : 60
Drama Politik Malaysia Kaya Lakonan
13 Okt 20, 17:07 WIB | Dilihat : 83
Politik Airmata Buaya Kim Jong Un
13 Okt 20, 10:02 WIB | Dilihat : 89
Komunikasi Politik Buruk Membakar Adab
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 108
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 94
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 161
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 288
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya