Seks, Demokrasi dan Revolusi

| dilihat 1553

SHEREEN El Feki, seorang jurnalis dan penulis Inggris yang beken lantaran bukunya bertajuk, “Sex and the Citadel: Intimate Life in a Changing Arab World”, tiba-tiba saja menggugah saya. Seorang teman mengirimkan bukunya itu pekan lalu.

Jurnalis kelahiran Inggris, dari ibu seorang Welsh dan ayah berkebangsan Mesir, memang tak merepresentasikan peranakan Arab di Eropa, terutama di Inggris. Apalagi dia dibesatkan di Kanada dan meraih gelar PhD tentang imunologi di Universitas Toronto. Sebelumnya dia menuntut ilmu di University of Cambridge. Lantas, Shereen bekerja di Majalah The Economist sebagai koresponden kesehatan.

Untuk tak kehilangan ‘dimensi kulturalnya,’ Shereen kerap mengunjungi neneknya di Kairo. Tapi, ia baru belajar mendalami bahasa Arab, gara-gara serangan yang merontokkan World Trade Center – New York, 19/11 tahun 2001.

Dalam bukunya yang laris dan dibaca lebih sejuta pembaca, itu Shereen membahas realitas seksual (fungsi dan orientasinya) yang tak serta-merta terkait dengan perubahan politik, Arab Springs.

Arab, politik, dan cultural sex function (budaya ditinjau dari pemeranan manusia dan fungsi seks) memang merupakan isu yang tak pernah surut. Terutama di negeri-negeri berbasis patriaki. Nilai-nilai budaya dan religi tak serta merta hancur bersamaan dengan penghancuran sistem politik di Arab.

Harapan para agresor menghancurkan religi dan budaya Arab melalui penyebaran virus konflik untuk dan atas nama demokrasi. Harus menghadapi tradisi yang kokoh. Berbeda dengan perubahan sosial di Eropa selepas Revolusi Perancis, yang menebar virus hegellian dan marxisme.

Yang menarik dari pandangan Shereen adalah keyakinannya, perubahan yang berlangsung di Arab sekarang ini, perubahan pemeranan diri kaum perempuan bergerak secara evolutif. Pilihannya adalah transformasi, bukan reformasi, apalagi revolusi. Shereen mengutip sikap neneknya, sepanjang perubahan sosial tentang peran perempuan jauh dari bokongnya, tak ada keberatan terhadap perubahan itu.

Pepatah ringan itu hendak mengisyaratkan, proses perubahan sosial berbasis fungsi dan orientasi sex tak akan mudah. Artinya, LGBT (Lesbianisme, Gay, Besexual, dan Transexual) tak akan bergerak seperti pergerakan yang berlangsung di kancah politik praktis. Tak akan terjadi sexquake, guncangan orientasi seksual sebagai akibat dari perubahan yang dipicu oleh political earthquake.

Dunia Arab masih memegang teguh prinsip kesucian dan legalitas hubungan seksual bernama bernama zawaj. Karenanya, innerientasi (upaya menutup berbagai aspek tentang seksual perempuan) masih dijaga dan terjaga. Dalam konteks itu, tak berlaku kesetaraan dalam orientasi seks antara lelaki dengan perempuan.

Isteri, misalnya, tak bisa membalas penyimpangan seksual yang dilakukan para suami mereka. Karenanya, tak mungkin poligami berhadap-hadapan dengan poliandri. Jangankan sejauh itu. Keperawanan saja masih menjadi sesuatu yang teramat penting di  Mesir. Di beberapa bagian wilayah Mesir, bahkan masih berlaku tradisi: pengantin pria memamerkan bedsheet berdarah di malam pertama, untuk ‘mengumumkan’ kepada khalayak, isterinya sungguh masih perawan.

Hukum atas penyimpangan seksual masih sangat kuat. Perjuangan kesetaraan dan keadilan gender tidak merasuk sampai ke wilayah orientasi seksual yang memungkinkan berkembangnya LGBT (Lesbianisme, Gay, Biseksual, dan Transeksual). LGBT adalah perlawanan terhadap tradisi dan budaya.

Meski perlindungan perempuan dari kejahatan seksual menjadi komitmen kuat, seringkali jebol juga oleh perilaku yang terkontaminasi oleh virus lain yang dibawa serta oleh gagasan reformasi dan revolusi politik. LGBT merupakan salah satu senjata ampuh yang akan dipakai untuk merontokkan benteng tradisi dan budaya di kawasan Arab.

Amerika, Israel dan sekutunya akan memainkan jurus LGBT untuk sungguh melantakkan Timur Tengah, untuk dan atas nama demokrasi dan demokratisasi. Bagaimana dengan Indonesia? Proses penghancuran melalui aksi LGBT, tinggal sepenggalan galah, sepelemparan batu. |

 

Editor : Web Administrator
 
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 114
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 466
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 300
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 292
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2648
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 676
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1111
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya