Unang Hita Marbada

| dilihat 158

Bang Sém

Jalan sehat di ujung pekan ini menyenangkan bagi Atok Sengon, Tete Misai, dan Ete Dapolo.

Meski Tuo Baretta belum juga bersua. Jalan sehat di perbukitan hutan tutupan hari ini diikuti juga oleh Opung Steel.

Saat akan melintasi tanjakan, dari belukar sebelah kanan, mereka mendengar orang sedang bertengkar.

"Lu tahu? Patukbesi gue yang asli. Patokbesi lu palsu," kata seorang yang berbadan agak kurus.

"Muke gile lu ye.. Patukbesi gue yang asli, tahu. Patukbesi lu gak sah," balas lawan bicaranya yang agak gemuk.

"Jadi lu mao ape?" tanya yang agak kurus.

"Ape aje gue mao.. gue jabanin sampe pu'un sengon begoyang, kalo perlu," kata yang agak gemuk.

"Lutung kampung makan kentang. Kentangnye jatoh ke gorong-gorong. Pantang buat gue nantang. Kalo lu jual, gue borong," kata yang agak kurus.

Keduanya lantas siap dengan jurus silatnya masing-masing.

"Apa itu Patukbesi?" tanya Ete Dapolo.

"Kalau tak salah, itu nama organisasi. Mak Ijah pernah bagitahu.. Persatuan Anak Turunan Kong Basri, disingkat Patukbesi. Ada dua ketuanya. Yang satu dipimpin Cang Uncu, satu lagi dipimpin Cing Nasir," jelas Atok Sengon.

Opung Steel tidak menunggu waktu keduanya saling hajar di belukar. Opung langsung lompat dan mengejutkan kedua orang yang sedang bertengkar, itu.

"Ampapaga dolok / Ampapaga sibulun / Unang hita marbada / Ai hita do marsogot hita haduan," seru Opung Steel.

"Opung bicara apa, itu?" tanya Ete Dapolo.

"Mungkin mantra.. supaya yang bertengkar itu diam. Coba perhatikan, keduanya langsung diam..," sambar Tete Misai.

"Wah.. Opung Steel punya simpanan, rupanya. Semacam mantra pengunci mulut, barangkali," ungkap Ete Dapolo.

"Kupikir, itu mantra pencuci mulut..," cetus Atok Sengon.

Tampak Opung Steel memisahkan kedua orang itu. Opung mempersilakan yang rada gemuk naik ke bukit dan yang agak kurus, turun melalui lintasan yang sering mereka lewati.

Opung Steel menoleh ke arah mereka bertiga, memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan. "Kita jumpa di simpang tiga rumpun bambu," teriak Opung.

Berkas sinar mentari bagai menghunjam di sela dedaunan pokok sengon dan pinus. Tete Misai memberi isyarat kepada Atok Sengon dan Ete Dapolo untuk segera melanjutkan jalan. Naik ke punggung bukit.

Ketiganya terus berjalan. Terdengar Tete Misai berdendang : Oh.. to utus-utusku / Imbo kita monsuani tano / Tano saluan kakayaan to / Tamo nu tuma kai lokonto / Busung tonang boliokolilimi / Bobolok bangkok ka' pelengaut / Mamba i bondoi dagi olajangi / Majoon na poso'olean.

Tiba di simpang tiga rumpun bambu, ketiganya duduk di atas batu. Atok nampak serius melihat ke arah puncak bukit. Nampak dari kejauhan seorang lelaki sedang jongkok ditemani seekor elang di belakangnya. Langit nampak jingga.

"Jangan langsung duduk. Bahaya.. nanti shockbreaker kambuh lagi," ujar Tete sambil menunjuk dengkul Ete Dapolo.

Atok Sengon melirik ke Ete Dapolo sambil senyum melihat Ete Dapolo langsung berdiri.

"Serius sekali, tengok apa?" tanya Ete Dapolo.

"Lihat lelaki di puncak itu.. Apa yang dia pikirkan?" ujar Atok Sengon sambil menunjuk ke arah puncak.

"O.. dia sedang memikirkan jalan turun..," seru Tete. "Saya menduga, lelaki itu seorang pemimpin yang separuh baik," sambungnya.

"Kenapa separuh baik?" tanya Ete.

"Pemimpin yang baik, tahu cara naik dan mencapai puncak, berapa lama akan berada di puncak, tahu juga kapan turun, cara turun, dan jalan turun," sambung Tete.

Ete mengangguk. Atok Sengon beringsut dan berjalan ke arah Tete dan Ete.

"Boleh jadi sekarang terlalu banyak pemimpin separuh baik. Mereka hanya punya hasrat untuk naik dengan beragam cara, enggan turun, tak tahu cara dan jalan turun."

Tete tersenyum. "Saya sepakat.. itu sebabnya seringkali rakyat mesti berseteru dalam friksi dan konflik ketika ada pemimpin naik dan pemimpin yang akan turun," ujarnya.

"Pertengkaran yang menguras pikiran, hati, dan tenaga rakyat," sambar Ete.

Opung Steel pun tiba di titik simpang tiga rumpun bambu, itu.

"Lain kali, dalam situasi pemimpin naik dan turun, kita akan minta Opung Steel berbagi ilmu dan pengalaman," ujar Ete.

"Ilmu dan pengalaman apa itu?" tanya Opung.

"Ilmu mantra peredam seteru dan membungkam mulut mereka yang berseteru," timpal Atok Sengon.

"Waduh.. saya tak pandai soal itu..," ujar Opung sambil melepas senyum khasnya.

"Ah.. jangan suka menyembunyikan ilmu. Tadi, kita bertiga melihat dan mendengar Opung ucapkan mantra dan dua orang yang bertengkar langsung diam," ujar Tete.

Opung terbahak. "Ooo itu... tadi saya cuma baca umpasa saja.. semacam syair.. Ampapaga dolok / Ampapaga sibuluan / Unang hita marbada / Ai hita do marsogot hita haduan," ujarnya mengulang syair yang disangka mantra oleh  Tete, Ete dan Atok.

"Apa maknanya?" tanya Ete Dapolo.

"Janganlah bertengkar, karena esok kita, lusa juga kita," ungkap Opung.

"Bagaimana setiap kita akan sampai ke esensi umpasa itu? Maksudku, apa lakonan hidup, sehingga manusia tak harus bertengkar untuk urusan remeh temeh," tanya Atok.

Opung tersenyum. Tete dan Depe memperhatikan dengan serius.

"Ada beberapa pedoman hidup yang harus dimiliki. Pertama, tanda lagum asa hasea ho. Metmet si hapor punjung diujung do dimanjunjungna. Ini amsal tentang belalang yang selalu kepala junjungannya," ujar Opung.

"Maksudnya?" tanya Ete.

"Kita harus mengenali diri sendiri. Tahu diri," lanjut Opung, sambil melanjutkan.

"Yang kedua, najagar dijolo dijolo, najagar dipudi pudi girgir manangi nangi, bakkol makkahaton jala serep marroha. Maksudnya, kita harus menyiapkan diri kita mendengar, menyimak, optimistis, tapi harus pandai mengkomunikasi, dan tetap rendah hati," ungkap Opung.

"Jadi, untuk itu kita harus terus giat belajajar, termasuk belajar pada semesta?" tanya Atok.

"Tepat Atok.. Ijuk dipara-para, hotang diparlabian, nabisuk nampuna hata naoto tupanggadisan. Ya harus terus belajar, karena orang pandai akan mendapat yang lebih baik..," sambung Opung.

Ete mengangguk. Tete serius memperhatikan Opung sambil mengelus-elus misainya.

"Hal lain yang tak kalah penting adalah sopan santun, akhlak.. pantun dohangoluan tois do tuhamagoan. Sopan santun atau akhlak adalah cikal bakal kehidupan yang baik. Selebihnya adalah bekerja keras. Pidong harijo, pidong harangan sitapi, pidong toba, nagogolo mangula do butong mangan, najugul marguru do dapotan poda.." ujar Opung.

"Maksudnya?" tingkah Tete dan Ete berbarengan. Keempatnya tertawa.

"Orang gigih bekerja mudah mendapat rejeki, yang gigih belajar akan beroleh ilmu yang banyak," jelas Opung.

"Apa yang harus dilakukan untuk mencegah pertengkaran macam tadi di balik semak?" tanya Atok Sengon.

"Baris baris ni gaja turura pangaloan molo marsuru raja naikkon do oloan. Taat hukum dan aturan, taat juga dengan senior.." lanjut Opung.

Keempatnya ngakak. "Ini mesti diberitahukan kepaada Tuo Baretta..," seru Atok Sengon.

Lantas.. yang kudu beradaptasi tinggi, kata Opung. "Muba dolok. Muba duhutna, Muba laut, Muba uhumna sidapot, solup do naro."  Terutama ketika merantau. Maksudnya, kata Opung, setiap daerah punya habitus dan istiadat yang berbeda, siapa saja yang datang ke daerah itu, kudu menerima dan mau beradaptasi.

"Tapi, intinya adalah unang hita marbada. Begitu kan?" sela Ete Dapolo. Opung mengangguk lantas tertawa.

Tete mencolek Atok Sengon. "Sudah saatnya kita turun," ujarnya. Keempat lelaki baya itu pun turun, melintasi jalan setapak, tanpa harus merusak belukar. |


BACA JUGA : Stratak Catty
 

 

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
06 Nov 19, 11:12 WIB | Dilihat : 758
Penguatan Profesionalisme Transformasi BUMN
05 Nov 19, 11:16 WIB | Dilihat : 861
Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region
04 Nov 19, 13:44 WIB | Dilihat : 520
Benahi Hukum dan Prasarana Utama Investasi
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 224
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1339
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya