Apresiasi untuk Sikap Suprajarto

| dilihat 327

Bang Sèm

Bankir profesional Suprajarto yang sebelumnya Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan menolak hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLBs) Bank Tabungan Negara (BTN), tiga jam setelah keputusan itu diambil.

Beragam pandangan berkembang. Tapi Suprajarto mengemukakan, alasannya menolak keputusan RUPSLBs BTN tersebut, karena sebelumnya tak pernah diajak bicara tentang  hal itu.

Suprajarto yang berkarir dari bawah di BRI dan sempat menjabat Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) tersebut, selama menjabat Direktur Utama BRI, membawa bank yang dibentuk didirikan di Purwokerto, itu laba bersih setara dengan sepuluh kali laba bersih BTN.

Selama menjabat Direktur Utama BRI, Suprajarto memusatkan perhatian pada segmen UMKM, akan halnya BTN lebih fokus pada penyalur kredit kepemilikan rumah.

Penolakan Suprajarto mesti dinilai sebagai sikap profesional seorang bankir yang boleh jadi melihat bank yang dipimpinnya (BRI) dan akan dipimpinnya (BTN) beda kelas.

Dari sisi pemerintah (Kementerian BUMN) boleh jadi penunjukan Suprajarto merupakan penugasan untuk menggerakkan BTN agar lebih berkembang kinerjanya. Tapi, dari Suprajarto bisa berpandangan, dirinya tidak dihargai.

Secara subyektif, pandangan itu wajar-wajar saja, karena bisa menimbulkan banyak tafsir, antara lain men-down grade dirinya. Terutama karena aset BRI dan BTN satu dengan lainnya memang berbeda jauh. Apalagi, sebelum menjabat Wakil Direktur Utama BNI, dia adalah direktur jaringan BRI.

Dalam perkembangan cepat kalangan profesional di dunia, sikap yang diambil Suprajarto sangat wajar, terutama ketika pemegang saham bukan lagi merupakan tolok ukur utama.

Hampir 200 eksekutif puncak yang tergabung dalam Business Roundtable Jamie Dimon, telah melakukan reorientasi, dan meninggalkan pandangan lama, bahwa kepentingan pemegang saham dan investor didahulukan.

Jamie Dimon dan lusinan pemimpin eksekutif puncak perusahaan besar dunia, seperti CEO United Oscar Munoz, CEO Abbott Miles White dan CEO Boeing Dennis Muilenburg — berpandangan, bahwa tugas CEO dalam suatu perusahaan adalah untuk melayani semua stakeholders (pemegang saham) dan stakeholders (pemangku kepentingan), termasuk karyawan, pelanggan, investor dan masyarakat pada umumnya.

Artinya, korporat tidak lagi hanya melayani kepentingan pemegang saham semata. Terutama dalam situasi, ketika semua orang, kapan saja dapat menjadi stakeholders atas suatu perusahaan, dan layak mendapatkan ekonomi yang memungkinkan setiap orang untuk berhasil melalui kerja keras dan kreativitas dan untuk menjalani kehidupan yang penuh makna dan martabat.

Indonesia saat ini, khasnya UMKM yang menjadi fokus BRI merupakan kalangan yang sedang berjuang mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk tumbuh menjadi usaha kreatif mandiri.

Titik beratnya adalah produktivitas UMKM yang akan merupakan generator bagi pengembangan produktivitas rakyat di tengah pusaran arus besar perubahan reorientasi ekonomi dari Amerika - Eropa ke Asia Pasifik, juga di tengah pusaran perang dagang China dengan Amerika Serikat.

Akan halnya BTN lebih fokus pada penyaluran kredit yang lebih cenderung konsumtif, orientasi produktivitas lebih cenderung pada pemain sektor property. Bila Suprajarto di-down grade ke BTN, energi profesionalnya untuk melakukan pergeseran atau reorientasi nilai profesional untuk ikut berkontrinbusi memecahkan persoalan laten bangsa (produktivitas, kreativitas, dan inovasi) di kalangan rakyat, nyaris akan mengalami hambatan.

Apalagi, pergeseran dalam prioritas perusahaan muncul seiring dengan meluasnya ketimpangan pendapatan dan meningkatnya biaya hidup rakyat, termasuk untuk perawatan kesehatan dan pendidikan tinggi.

Di Amerika Serikat realitas ketimpangan, itu telah mendorong sejumlah politisi dan kritikus mempertanyakan kemungkinan perubahan asasi premis fundamental kapitalisme Amerika.

Beberapa eksekutif puncak, bahkan mengeluh terkait fokus yang terlalu besar pada harga saham dan hasil triwulanan, yang dalam banyak hal menghambat kemampuan mereka untuk membangun bisnis jangka panjang.

Di Amerika Serikat terjadi pergulatan pemikiran para eksekutif profesional puncak yang tak lagi mengikuti alur pemikiran Business Roundtable 1997 yang menganut gagasan, bahwa bisnis ada terutama untuk memberi manfaat kepada pemegang saham. Bukan kepada masyarakat pada umumnya.

Reorientasi perusahaan untuk melayani seluruh stake holders,  menuntut penguatan tata kelola perusahaan sesuai dengan prinsip-prinsip good corporate governance. Muaranya adalah interaksi gagasan antara para eksekutif puncak profesional dengan para stakeholders untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, yang gagal diatasi oleh pemerintah. Intinya adalah bagaimana perusahaan berkontribusi lebih besar untuk mengangkat kemampuan masyarakat.

Dilihat dari kinerjanya sejak memangku jabatan BRI, sekitar dua tahun lalu, Suprajarto berhasil menempatkan BRI bergerak kembali ke core bussiness-nya, melayani rakyat. Antara lain dengan berbagai upaya, termasuk peluncuran satelit. Dengan aksi korporasi demikian, tiga persoalan dasar relasi rakyat dengan bank, yaitu penguatan akses kepada modal, pasar, dan informasi akan terpenuhi. Termasuk menggerakkan inklusi keuangan.

Di bawah kepemimpinan Suprajarto BRI tak lagi hanya sebagai sebuah bank, melainkan sebagai pusat layanan jasa keuangan yang meliputi berbagai keperluan rakyat. Orientasi ini, pernah membuat BNI mengatasi berbagai persoalan di tengah krisis 2008.

Suprajarto dari berbagai informasi yang saya peroleh, juga berhasil menggeser perubahan pemasaran dari tumpuan product centric ke costumers centric. Pengalamannya di BNI dan kekuatan aset BRI yang dikelolanya, serta spirit sebagai bankir yang ditempa di BRI, yang menempa dirinya melihat tugas dan tanggungjawab bank, bukan hanya melayani keperluan operasional banking semata-mata.

Di masa Suprajarto, kedai-kedai langsam penduduk di kampung-kampung telah menjadi outlet BRI untuk berbagai keperluan keuangan rakyat.

Agaknya, hal ini yang tak terekam dalam review Kementerian BUMN atas Suprajarto. Khasnya dalam berkontribusi mengatasi aneka persoalan dalam realitas pertama kehidupan rakyat.

Kita hargai sikap Suprajarto.  |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber