Platinum Track

Pada Idi Pada Ilo Sipatua Sipatokong

| dilihat 1381

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SALAH satu nasihat penting dalam mencapai sukses adalah: “berusahalah membuat mitra kerja dan mitra usaha sukses”. Bagi insan yang berakalbudi dan visioner, menciptakan kondisi kesuksesan bagi mitra kerja dan mitra usaha adalah keniscayaan. Karena dengan demikian akan terbangun trust.

Kultur korporasi yang berkembang di berbagai belahan dunia menunjukkan, upaya kolektif menciptakan sukses bersama, merupakan jalan yang terbaik dan terindah. Karena sukses kolektif mempunyai nilai pertumbuhan dan kemajian yang berkualitas. Di dalamnya senantiasa terdapat prinsip asasi: silih asih, silih asah, dan silih asuh, yang memungkinkan terjadinya proses social empowerment di lingkungan sosial manapun juga.

Prinsip asasi seperti ini selalu dilandasi oleh sikap positif untuk saling memuliakan. Dalam bahasa kearifan lokal dari tanah Sulawesi Selatan, disebut pada idi pada ilo sipatua sipatokong.

Saling menghargai dan saling memandang segala hal secara positif, untuk akhirnya menjadi kerja kolektif saling memuliakan. Suatu nilai budaya kerja yang berpegang pada hakekat kerjasama: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kebersamaan hakiki.

Dalam konteks agama, Tuhan memberikan contoh dengan berbagai model kerjasama. Pertama, model kerjasama an namal, yang diperlihatkan dalam bentuk kerjasama semut, memindahkan satu masalah dari satu tempat ke tempat lain. Gotong royong berbasis kesamaan kekuatan dan keterpaduan semata. Kedua, model kerjasama an nahl, yang diperlihatkan melalui keseluruhan performa lebah. Suatu model kerjasama yang dilandasi oleh soliditas dan solidaritas, produktivitas dan profesionalitas, serta ekuitas dan ekualitas.

Bila pada model kerjasama semut, yang terbangun hanya naluri kebersamaan, dalam model kerjasama lebah, yang terbangun adalah tanggungjawab sosial untuk saling bertanggungjawab. Dimulai dengan kesadaran memperoleh sumber energi positif dari segala hal yang clean dan clear. Lalu kesadaran awal untuk membangun medium bagi berkembangnya produktivitas, melalui cara dan sikap kerja yang benar.

Di dalamnya terdapat kepatuhan kolektif untuk mewujudkan loyalitas dan dedikasi, baik terhadap komunitas, organisasi, dan kemudian: pemimpin. Akan halnya pemimpin, bertanggungjawab melakukan proses empowermentship, dalam bentuk tanggungjawab atas berlangsungnya suksesi dan regenerasi. Memberdayakan seluruh potensi yang ada sesuai dengan fungsi dan kualitas kerja masing-masing anasir di dalam komunitas atau organisasi. Karena itu, pada komunitas lebah, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil menyiapkan kader penggantinya.

MENYIAPKAN kondisi bagi kesuksesan orang lain, khususnya para kader pengganti, merupakan pekerjaan utama sang pemimpin (ratu lebah). Semua dilakukan atas dasar keikhlasan memimpin. Karenanya, pemimpin yang sukses tidak mempunyai pretensi lain, kecuali menyiapkan jalan sukses bagi siapa saja yang berpotensi, berkualitas, dan ikhlas menjalani tugas dan kewajibannya. Sekaligus membebaskan dirinya dari berbagai kecenderungan melakukan pengelompokan invisible hand.

De Bono, dalam konteks leadership imagineering, mengisyaratkan pentingnya pembebasan diri dari penguasaan sukses diri sendiri dan kelompok (primordialitas), yang lebih banyak hanya memuja keunggulan kelompok (asal usul etnis, daerah, kampus, golongan, dan sejenisnya). Mereka yang hanya berfikir bagaimana memajukan dan membuat sukses berdasarkan pertimbangan primordial, akan terjebak oleh kemubaziran yang pandir.

Membuat sukses orang lain, khasnya generasi baru, merupakan bagian penting dari suatu inovasi. Karenanya, seorang pemimpin yang memilih sukses lewat platinum way, selalu mempunyai catatan penelitian dan rancang pengembangan (secara personal) setiap potensi di lingkungan sosialnya. Termasuk catatan independen tentang personil di dalam organisasinya yang berkualifikasi: highly qualified and effective people. Bukan siapa ‘orang dekat’ dan ‘orang jauh’.

Dengan demikian, maka jelas, suksesi kepemimpinan dan kesuksesan organisasi, diciptakan melalui kesadaran dan tanggungjawab kolektif mereka yang sungguh memberi kontribusi besar terhadap organisasi atau komunitasnya. Di setiap lingkungan sosial dan organisasi, selalu tersedia sumberdaya manusia yang ‘layak dan patut sukses’ dalam proporsi yang tepat untuk suatu kurun waktu tertentu.

Anda ingin sukses di bawah lindungan Tuhan, buatlah orang lain (generasi pengganti) sukses, meskipun Anda tidak pernah tahu asal-usulnya. Jangan pernah penjarakan sukses masa depan dengan primordialitas yang tidak perlu. Ciptakan sistem yang memungkinkan setiap orang yang ‘layak dan patut sukses’ memperoleh kesuksesan, meski ia hanya seorang yang datang dari kaum amah, kaum biasa-biasa saja •

Editor : Web Administrator | Sumber : [ dari Platinum Track ]
 
Budaya
23 Jun 20, 15:34 WIB | Dilihat : 172
Malim Ghazali PK Berpulang di Tengah Tirani Sastra
18 Jun 20, 20:40 WIB | Dilihat : 168
Seni Dayak Titian Surgawi
Selanjutnya
Energi & Tambang