Bedegongisme

| dilihat 320

Bang Sém

Judul kolom ini mengutip satu kosakata dalam bahasa Sunda yang berkarakter. Bedegong. Satu kata dengan dua makna yang mengekspresikan perilaku negatif. Arogan sekaligus bebal.

Dalam dimensi kultur Sunda yang cenderung lembut dan estetis, secara konotatif dan denotatif, bedegong dapat dimaknai sebagai sikap lagu lajak.

Secara konotatif, sikap bedegong tumbuh dan berkembang karena persoalan internal : merasa diri paling benar, sehingga tak mau dan tak mampu melihat kebenaran lain, sebagai varian kebenaran itu sendiri, dan berujung pada sikap pembenaran.

Pangkal musabab sikap bedegong adalah egosentrisma dan egoisme yang kental dan mengkristal di dalam diri manusia. Antara lain ditampakkan dengan sikap :  "Mun ceuk aing kieu.. kieu" (kalau saya sudah menyatakan begini.., begini).

Bedegong laksana pedang yang melekat di diri manusia, dan akan menyakiti diri sendiri, membuat diri pongah, sentisif dan mudah marah tanpa sebab yang jelas, dan pada masanya akan memisahkan manusia dengan dirinya sendiri.

Manusia yang melekatkan bedegong di dalam dirinya, akan sulit melihat kebenaran sejati, karena sikap dan laku pembenaran yang berlangsung secara penetratif - hipodermis, akan menimbulkan sikap disharmoni. Muaranya adalah penghancuran diri sendiri.

Perilaku dan sikap bedegong hidup subur di lingkungan masyarakat terbelah akibat terbiarkannya proses pembebalan di tengah persoalan kehidupan sehari-hari yang tak terselesaikan. Mulai dari kesenjangan pendidikan, ekonomi (kaya miskin), geografis (desa kota), struktur sosial dan budaya,  yang mempersempit pandangan tentang realitas masyarakat yang sesungguhnya.

Pun, akibat pengaruh media, yang tanpa henti menyajikan informasi (yang tak sepenuhnya terverifikasi dan terkonfirmasi) tentang kemiskinan, kriminalitas, keterbatasan lapangan kerja, dan berbagai hal lainnya. Termasuk di dalamnya, polarisasi politik yang membelah masyarakat berdasarkan pengelompokan kentara dan tak kentara.

Kristalisasi terus berlangsung, tanpa menunggu sosiolog menyampaikan analisis mereka tentang fenomena, sekaligus fakta-fakta brutal yang berkembang lebih cepat.

Dalam satu tarikan nafas, para sosiolog tidak punya monopoli penafsiran apa yang terjadi dalam masyarakat. Kendati kontribusi mereka, kini lebih penting dari sebelumnya.

Sikap bedegong tumbuh dan berkembang cepat, kala masyarakat amah (awam) tidak memiliki jawaban atas begitu banyak pertanyaan: Mengapa ketidaksetaraan sosial terjadi? Mengapa kekerasan menjadi trén? Mengapa rasisme dan keragaman paham keagamaan menimbulkan disharmoni? Mengapa banyak kalangan kembali kepada kekeliruan pandang tentang fundamentalisme agama? Mengapa lapangan kerja tak tersedia? Mengapa kau dan kalian, bukan aku dan kami?

Bahkan ketika tak ada jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan spesifik, semisal : Mengapa anak perempuan lebih baik di sekolah daripada anak laki-laki? Bagaimana seorang anak muda menjadi tunggakan persoalan bangsa yang tak selesai? Bagaimana klaim berubah menjadi gerakan sosial?

Sejak gerakan reformasi tak mampu dikelola baik (sehingga menggelincir menjadi pusaran besar deformasi) yang dipicu perubahan konstitusi sarat kepentingan dan kegenitan akademik, sikap bedegong bergerak dan mengkristal dan menjadi bara polarisasi baru yang mengerikan.

Proses konsolidasi demokrasi belum juga memacu terjadinya transformasi demokrasi, ketika persoalan-persoalan abad ke 21 tak dipahami secara serentak dan serempak. Pluralisme dan multikulturalisme sebagai suatu realitas, tak dipahami sebagai realitas demokrasi yang mesti dikelola secara proporsional.

Setarikan nafas pemuka agama seperti kehilangan pengaruh spiritualnya, karena merendahkan diri sendiri, tergoda oleh politik praktis, dan mereka getun meninggalkan dan mengabaikan high politic. Pun demikian dengan kaum intelektual yang menafikan intelektualisma, terbakar oleh sikap ambisius meraih posisi-posisi struktural dalam kehidupan masyarakat, dengan mengabaikan fungsi sosial mereka (Kyai leungiteun aji, pandita ilang komara. Kahuruan ku napsuna).

Sikap bedegong berkembang menjadi bedegongisme. Dan, bedegongisme berbaur dengan persoalan-persoalan elementer di tengah dikotomi tentang radikalisme versus lamisme, fanatisme versus respek. Khasnya, ketika nilai-nilai global bergerak sebagai arus besar, seperti ekuitas dan ekualitas.

Melihat realitas bedegongisme, di benak saya muncul kembali persoalan elementer masyarakat dan agama pada dekade 80-an di berbagai belahan dunia, ketika muncul pertanyaan dari pemikiran umum : "Est-il possible de penser ce paradoxe et comment peut-on  réconcilier le respect des religions et la liberté de penser critique?"

Mungkinkah memikirkan paradoks (pemahaman tentang manifestasi ajaran agama dalam kehidupan sosial sehari-hari), dan bagaimana kita bisa 'mendamaikan' rasa hormat terhadap agama dan kebebasan untuk berpikir, secara kritis?

Pertanyaan itu mengemuka dalam konteks bertumbuhnya pemikiran kesetaraan, bahwa semua agama mulia, karena semuanya mengekspresikan aspirasi dan refleksi manusia tentang makna dan landasan dasar kehidupan, yang bersifat universal.

Dan para freedanker merespon sikap pemuka-pemuka agama yang berbeda dan tidak (mudah) menerima kritik di dalam atau di luar agama. Terutama, karena pemikiran dan sikap relatif para pemuka agama, bahwa para freedanker (termasuk freedanker separuh hati - dengan menggunakan label liberalisma) mengembangkan pemikiran bebas rasional dalam memahami agama sebagai nilai kebenaran superior yang tak terbantahkan dan suci, kebenaran ilahi, yang mereka tafsirkan secara inklusif. Berbeda sudut pandang dengan agamawan yang berfikir eksklusif dan berbasis dogma.

Dalam konteks ini, ketika masyarakat terbelah -- akibat terbiarkan oleh para pemuka agama yang sibuk terjun ke dunia politik praktis -- kristalisasi makin menguat dan polarisasi makin bertumbuh. Singularitas masyarakat yang dipengaruhi oleh cepatnya dinamika perubahan akibat dinamika dan perubahan cepat oleh teknologi informasi, berkecambahlah bedegongisme.

Terutama dari kalangan khas yang hendak melompat dari lingkungan eksklusif ke lingkungan inklusif, dengan pandangan-pandangan aneh dan mentah mengkritisi dogma, yang sesungguhnya tak bisa mereka hindari.

Mereka tak menyadari, apa yang mereka ucapkan dan pertontonkan lewat media massa, langsung dan tak langsung, di manapun, menebar bedegongisme yang kapan saja bisa menimbulkan friksi dan konflik sosial.

Peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimah tauhid (syahadat) di Limbangan - Garut, adalah contoh aksi bedegongisme itu. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 326
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 143
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2760
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 781
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 403
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 674
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 506
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya