Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah

| dilihat 325

Catatan Kenangan Atique Florence

Bulir air mata saya selalu jatuh, setiapkali mendengar takbir, tahlil, dan tahmid. Di dalam benak saya selalu terbayang lembah Arafah, ketika melakukan wukuf pertama kali.

Saya menunaikan ibadah haji, setahun setelah mengucapkan kalimah syahadat (1999).

Arafah.. ya.. Arafah. Di salah satu bukitnya, yang bernama Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang) bertemu Adam dan Hawa, setelah terpisah lama, akibat menikmati sesuatu yang lezat bagi manusia, namun dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Arafah.. ya.. Arafah padang datar dikelilingi bukit batu, seolah cawan yang kerontang dan gersang, namun dikunjungi berjuta manusia setiap tiba musim haji, momen umat Islam melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Arafah adalah tempat manusia, terutama kaum yang bertauhid dan beriman, menemukan kembali bagian-bagian yang hilang dari dirinya.

Di sinilah kaum bertauhid menemukan kembali damai, ketika dunia dirusak oleh sengketa. Di sinilah kasih sayang kembali ditemukan setelah pergi karena dendam dan sakit hati. Di sinilah kesabaran dan keikhlasan ditempukan kembali, setelah lepas dari kehidupan, akibat begitu dahsyatnya intervensi pretensi.

Di sinilah, di bawah terik matahari, di bawah jutaan tenda yang terpasang hingga ke kaki bukit atau di antara peluh yang membasahi tubuh para jamaah haji yang melakukan wukuf di sela tebing batu dan puncak bebukitannya, manusia menghimpun kembali partikel-partikel kebaikan dan kebajikan ke dalam dirinya. Menyatu dalam integralitas ruuh dan raga.

Owh.. aku tertunduk dalam hening di sini, seraya menggumamkan do'a-do'a. Mendo'akan orang-orang terkasih yang memanduku melangkah di jalan tauhid, yang mengkaribkan aku dengan keindahan Islam.

Di sini, di Arafah, kutemukan pemahaman baru tentang atom-atom yang saling berinteraksi dan berkorelasi satu dengan lainnya, membentuk tubuh manusia yang semula terbentuk oleh big bang yang jelma jadi partikel-partikel buruk dan menyelusup lalu bermetamorfosa menjadi sifat buruk manusia.

Di sini, di Arafah, kurasakan matahari sebagai supreme planet yang berinteraksi dalam harmoni dengan planet lain, bintang-bintang dalam keserasian dan keselarasan bintang yang pertama dengan bintang-bintang yang kedua, ketiga, dan keempat sebagai satelit harmoni yang terhimpun dalam takdir Ilahi. Semua jelma dalam harmonitas galaksi,  di mana reaksi nuklir yang membentuk atom-atom yang lebih berat terjadi.

Di Arafah kukenali lebih asasi tentang poros bumi, matahari, rembulan, dan bintang dalam tatanan galaksi yang kemudian mengajarkanku tentang hakikat semesta dalam tautan relativitas, yang disempurnakan oleh kohesi dan adhesi fungsional.

Dengan derai air mata, kupahami, mengapa di sini, di hari nahr ini, Allah mempersilakan para malaikat mempersaksikan eksistensinya yang absolut, distinc, dan unique, sehingga Rasulullah Muhammad SAW memandu kita untuk belajar pada diri kita masing-masing.

Atmosfer Arafah, memanduku untuk berangkat dari pangkal kesadaran, bahwa sesungguhnya diri manusia adalah jagad besar yang terdiri dari molekul-molekul yang terdiri dari atom, kemudian membentuk organ, otot, tulang, darah, dan jaringan yang terbuat dari sel.

Allahu Akbar! Menyaksikan berjutan manusia berhimpun dalam kepatuhan untuk mengendalikan partikel-partikel buruk, melarang perbuatan fasik (rumors, hoax, fitnah, iri, dengki, hasad, hasud), serta pertikaian, pertembungan, segera menyadarkanku tentang hakekat diri bahwa kita sebagai manusia di alam semesta, hanyalah kumpulan miliaran atom. Yang membentuk diri kita seolah suatu konstruksi sempurna dari semua materi semesta, termasuk organik.

Aku merenungkan dan mengaminkan do'a-do'a yang terus digumamkan, mempertemukan matahati dengan matahari dan mengikuti pergerakannya, hingga siang bergerak ke petang.

Di sini, di Arafah, kala wukuf, kupahami hakekat semesta dan hakekat fungsional tugas suci Muhammad Rasulullah SAW dan umatnya menjadi rahmat atas semesta (rahmatan lil alamin). Insan suci itu dan pengikutnya, mesti memainkan peran fungsional utamanya, menghimpun seluruh partikel semesta: hidrogen, oksigen, karbon atau nitrogen untuk membentuk dasar kehidupan.

Kemudian, dengan sains dan teknologi, mengelola atom-atom, seperti garam mineral (natrium, kalsium, dan lainnya) dan logam (besi, tembaga, dan lainnya) untuk kepentingan kehidupan (manusia, flora, dan fauna).

Aku merunduk malu di hadapan-Nya, ketika suamiku mengajakku membaca Surah Al Rahman dan Surah Al Mulq sebelum petang tiba. Pada saat itu, pikiranku mengembara. Ketika keluar tenda, berdiri di tepi jalan dan memandang seantero Arafah, aku seperti melihat, semesta yang dipenuhi berjuta partikel tempat proton, neutron, dan elektron, yang bercampur dalam irama penghambaan sejati.

Ketika gerimis tiba-tiba turun dan awan berarak memayungi Arafah, subhanallah, pikiranku melintas ke pangkal teori semesta, ke menit pertama setelah big bang semesta digerakkan Allah, sehingga bumi dipenuhi laut dan samodera. Terbayang, kala itu suhu turun dari 10 hingga 1 miliar derajat, inti sel terbentuk dari proton dan neutron. Bahkan, 300.000 tahun kemudian, suhu telah turun sangat banyak, sehingga elektron mengikat inti sel ini dan membentuk atom hidrogen dan helium pertama, yang paling ringan dan paling luas di alam semesta.

Kupandangi bukit dan gunung-gunung yang melindungi Arafah. Segera terbayang ledakan supernova menyebarkan atom organik di seantero semesta. Lantas 200 juta tahun setelah big bang, ketika galaksi muncul, yang indikatornya diisyaratkan Allah melalui firman-Nya dalam Surah Yaasiin, terserap dalam kesadaran realitas hidup pertama, munculnya karbon, oksigen, besi dan lainnya, lahir di jantung bintang-bintang, dari fusi hidrogen menjadi inti semakin banyak, oleh reaksi nuklir.

Owh.. alangkah sangat kecilnya hamba sebagai insan, bila mengingat firman-firman-Nya tentang semesta, tentang materi berharga, yang tersebar di ruang angkasa oleh ledakan generasi bintang (dalam bentuk supernova). Berasal dari Tata Surya dan, pada akhirnya, kehidupan di Bumi. Karena atom-atom inilah yang telah berkumpul di lautan primitif untuk menciptakan molekul organik, lalu sel pertama, 3,5 miliar tahun yang lalu.

Di hari nahr, kala qukuf di padang Arafah ini, ketika kusaksikan linangan air mata suamiku yang terlihat buram, karena mataku pun basah oleh airmata, semua insan yang hadir di sini, mengekspresikan kesadaran batinnya sebagai insan berdosa. Dan, do'a-do'a yang digumamkan di sini, adalah pengharapan optimistik, Allah memaafkan dan mengampuni, sehingga kelak terbebas dari petaka akhirat.

Ibadah haji, rukun pamungkas kewajiban ibadat sebagai muslim, mukmin, muttaqin, adalah ibadah pamungkas. Dan Arafah adalah core-nya. Haji adalah wukuf di Arafah. Dalam hening di tengah riuh insan melantunkan do'a itulah pertobatan bertemu dengan pengampunan.

Inilah hari penyerahan, ketulusan, dan kesungguhan memaknai hakikat cinta dan kasih sayang, sekaligus hakikat pengorbanan dalam laku yang tunduk, patuh, dan menyerah hanya kepada-Nya saja.

Setiap detak waktu di sini, di benakku, yang mengalir adalah syukur, karena Allah membuka ruang fikir bersekutu dengan dzikir, ruang imaji berpadan dengan realitas, esensi ibadah haji, kurasakan sebagai wujud konsistensi dan konsekuen atas komitmen: laa ilaaha illa Allah, Muhammadan Rasuulullah.  Kesemua itu mesti menjelma dalam praktik ibadat sesuai aturan yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW, jelma dalam kehidupan sosial sehari-hari, dan akhlak kariimah.

Di bawah tenda mata dan hati sesama muslim dan mukmin bertemu, senyum mengirimkan pengertian dan persaudaraan muncul, dan kami adalah satu, sebagai muslim muslimah, setara dan adil. Di sini kita bersaudara.

Di sini tidak ada orang kaya atau miskin. Tidak ada orang muda atau orang tua. Yang ada hanya ada saudara sesama muslim dan mukmin. Di sini, Allah mempertemukan dan mempersatukan kami dalam perjalanan menuju keridhaan-Nya: Allah yang menciptakan kita, sumber segala kasih sayang dan cinta, Pencipta dan penata hidup insan ciptaan-Nya. Di sini, cinta kita kepada-Nya, melebihi cinta apapun, dan memberi nilai atas cinta kepada suami, istri, orangtua, anak, sanak kerabat, dan sahabat, sebagai cata mencintai dan mengasihi-Nya.

Hari itu (kala wukuf) aku tidak kenal siapa-siapa lagi, kecuali Muhammad Rasulullah penerang jalan hidupku, Al Qur'an pemandu kehidupan, dan Allah Prima Kausa penentu kehidupanku yang kelak akan menjadi tujuanku pulang.  Di sini, aku dan suamiku, tidak punya waktu untuk bercakap-cakap atau untuk pemikiran selain dari yang membawaku lebih dekat kepada Allah.

Di hari Arafah, Allah ke surga yang paling dekat dengan kita,  mendengarkan dan mengabulkan do'a kita. Kita mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW dan sanak kerabatnya, berkonsentrasi dan melipatgandakan ikhtiar, menuju keridhaan-Nya, seperti kusimak dalam khotbah hari Arafah.

Di padang Arafah, kutemukan cinta sesungguh cinta.|

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
24 Agt 19, 09:12 WIB | Dilihat : 62
Melanesia Destinasi Perburuan Kepentingan Masa Depan
23 Agt 19, 16:41 WIB | Dilihat : 147
Segarkan Pertemanan
12 Agt 19, 11:00 WIB | Dilihat : 386
Umrah Digital
11 Agt 19, 13:59 WIB | Dilihat : 326
Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah
Selanjutnya
Budaya
24 Agt 19, 16:44 WIB | Dilihat : 124
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 375
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 572
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya