Getar Good Voice Rasil

| dilihat 337

Bang Sém

Pertama kali saya dengar nama Rasil dari Geisz Chalifah. Produser Jakarta Melayu Festival, itu cerita tentang radio. Rasil sendiri singkatan Radio Silaturrahim lewat gelombang radio AM720 Khz. Sejak itu saya rajin menikmati siarannya.

Radio ini mengudara sejak sebelas tahun lalu dari studionya di Cibubur, Bekasi, Jawa Barat.

Sesanti Rasil, "Untuk Islam Yang Satu." Ini radio syiar, dakwah. Pemiliknya dua kakak beradik bin Thalib, Faried Thalib dan Ichsan Thalib, yang ketika mahasiswa aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kini Pemilik Rasil adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan umat Islam, karena kedua pemilik asal itu sudah mewakafkan seluruh aset Rasil (baik di Cibubur maupun Batam). 

Sesuai namanya, radio ini memainkan peran strategisnya sebagai medium syiar yang memediasi perbedaan dan mengedepankan persatuan umat. Semangat musyawarah dan muzakarah, terasa dalam siaran-siarannya, melalui sejumlah programa siaran.

Inspirasi, informasi, dan inovasi edukasi mengalir melalui siaran-siarannya. Ini yang menarik, islam yang indah, tanpa harus dipoles menyeruak melalui suara. Islam salam salima, penebar keselamatan hidup bagi umat manusia.

Islam yang terpancar melalui perilaku muslim - muslimah yang kaffah, sekaligus mencerminkan intelektualita, kreativitas, inovasi, invensi, dedikasi, tanggungjawab serta mencerminkan public conscience - kesadaran keumatan. Muranya adalah masyarakat adil makmur dalam ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rasil menawarkan alternatif formula syiar dan komunikasi Islam yang khas dan berbeda di tengah proses perubahan media ke yang lebih beragam dan multiplatform.

Dua juta pendengar secara khas dan muslim pada umumnya di berbagai daerah di Indonesia merupakan basis khalayak Rasil dapat mengembangkan platform berdasarkan perkembangan teknologinya.

Dengan  pengembangan platform, Rasil dapat memperluas wilayah khalayak pendengar (baik secara psikografis maupun geografis) -- termasuk Rasil Batam, tentu -- untuk membangun kesadaran umat terhadap umat islam yang juga berbagai mazhab, sehingga akan membuka cakrawala. Ketika mengelola programa siaran Televisi Pendidikan Indonesia bersama Abdullah Fahmi Alatas (ayah Ismal Fajrie Alatas - Profesor Antropologi Islam dan Timur Tengah di New York University ), dengan pandangan semacam pandangan Rasil - saya menyebutnya wasathiyah -- dan bersikap adil terhadap berbagai pemikiran keislaman -- perluasan platform berdampak langsung pada penyebaran khalayak.

Pengalaman saya di dunia brodkas dalam memelopori penayangan kuliah subuh -- pertama kali di layar televisi--, lazuardi imani dan International Islamic Society dengan prinsip atau metode wasathiyah - moderasi -- yang tersusun sebagai rangkaian programatik, getaran atau resonansi keislaman amat terasa.

Saya menyebut siaran Rasil sebagai 'good voices' dalam pengertian yang dimensional. Terutama karena pendiri sekaligus pemilik Rasil melakukan konektivitas antara siaran Rasil dengan dakwah bil hal dalam pengelolaan manajemen Yayasan Waqaf Rumah Qur'an Silaturahim.  Peruntukan dan kepentingannya jelas, dakwah islamiyah dan kesinambungan perjuangan.

Yayasan ini telah mengtelola wakaf Masjid Umar bin Khattab Jatinegara, Jakarta Timur. Termasuk aset Rasil Cibubur, Rasil Batam, dan Masjid Umar Bin Khattab Jatinegara, dan bangunan IMC (Islamic Boarding School), yang bernilai sekitar Rp77,5 miliar.

Aksi nyata tentang wakaf ini, menjadi modal nilai luar biasa, ketika wakaf disajikan sebagai materi dalam programa siaran. Maknanya adalah Rasil melakukan transformasi nilai yang luar biasa, dan memberi model baru kepemilikan media. Dan itu dilakukan Rasil terjadi, ketika sejumlah media yang kukuh memperjuangkan platform perjuangan nilai, pengembangan inisiatif kebajikan dan orientasi kebenaran sedang collaps.

Meminjam pandangan Gregory Kent dari Pusat Studi Internasional - Universityas Plymouth - Inggris, tentang Islam dan media di tengah perang media dan pencitraan di era Post Truth, Rasil adalah model 'media kecil' yang menggerakkan daya kesadaran keislaman yang besar. Bahkan, bila kelak dikembangkan dengan jaringan frekuensi satelit, seperti yang pernah diisyaratkan oleh Alterman dan Sardar, Rasil sebagai radio dakwah milik Allah dan umat Islam secara inisiatif dapat membalikkan pemikiran tentang media secara keseluruhan. Khasnya, bila hendak dikaitkan dengan triangle of era - post modernism: media, budaya, dan masyarakat.

Saya, selalu cenderung memandang frekuensi (yang hanya sekali saja diciptakan Allah) - seperti tembok metal yang dibangun Dzulkarnain -- atas perintah Allah -- untuk melindungi umat dari pengaruh Ya'juj dan Ma'juj. Keberadaan Ya'juj dan Ma'juj telah mewujud dalam berbagai platform media yang kini mempengaruhi umat secara penetratif hipodermis.

Dari sudut pandang imagineering (rekacita), saya membayangkan, kelak Rasil dapat menjadi wadah penggerak transformasi (bukan reformasi atau revolusi) yang melalui tebaran pemikiran dalam siarannya, menjadi reaktualisasi dakwah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat era Mardova ( dimensi perdaban umat masa Madinah al Munawwarah sampai Cordova) di abad ke 21.

Pada masanya sebaran nilai keislaman yang indah dan menjadi ruh peradaban pernah dilakukan di abad ke 19 dan 20, seperti yang dicatat Mandaville dan Miladi, ketika khutbah-khutbah Saytyid Quthb, Ali Shariati dan Mawdudi direkam dalam kaset dan diduplikasi sekaligus dipancarkan melalui radio di berbagai negara.

Kent mencatat,  di berbagai lingkungan masyarakat Islam, pola layanan penyiaran radio dakwah islam, sebatas memancarkan siaran khutbah Jumat dari masjid utama. Pada dekade 70-an RRI (Radio Republik Indonesia) menyiarkan kuliah shubuh dari Masjid al Azhar.

Ketika teknologi transistor mulai berkembang di Indonesia dan radio amatir marak, syiar dan dakwah KH Abdullah Syafi'ie (kemudian dilanjutan H. Tutty Alawiyah) melalui Rasio Asy Syafi'iyah dan KH Thahir Rohilie (kemudian dilanjutkan H. Suryani Thahir)  melalui Radio At Thahiriyah.

Di Qatar, pada dekade awal abadi 21 TV Negara Qatar melakukan siaran langsung khutbah Jum'at selama 58 menit dari Masjid Umar bin Khattab di Doha.

Rasil dalam formula dan format lain menjadikan keragaman faham dalam dakwah islam menjadi harmoni keislaman, kebangsaan, dan keumatan dalam irama yang indah.  Karenanya melihat keberadaan Rasil yang sudah selama sebelas tahun berkiprah, kita mendapatkan suasana selesa (nyaman).

Dari siarannya, saya beroleh kesan mendalam, Rasil adalah model tata kelola media dakwah dan ruang tantangan kreativitas dan inovasi yang luas, yang memberi banyak peluang.

Bila saja sejumlah universitas Islam -- terutama fakultas dakwahnya -- mau melakukan kajian tentang media dan strategi komunikasi dakwah, mulai dari pemodelan, broadcasting programmatic system, sampai communication visioneering dapat meriset lebih dalam tentang Rasil. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Polhukam
20 Okt 20, 18:46 WIB | Dilihat : 60
Drama Politik Malaysia Kaya Lakonan
13 Okt 20, 17:07 WIB | Dilihat : 83
Politik Airmata Buaya Kim Jong Un
13 Okt 20, 10:02 WIB | Dilihat : 89
Komunikasi Politik Buruk Membakar Adab
Selanjutnya