Hidup Gembira Hidup Bahagia

| dilihat 380

Catatan SémHaésy

Seorang nenek, panggil saja Nini Bagja, tiba-tiba naik ke atas panggung Mat Bitel di pelataran Hotel Geulis, kala berlangsung Car Free Day (CFD), Ahad 14 Juli 2019. Wajahnya sumringah. Dia menari mengikuti rentak dan hentak irama musik yang dimainkan Mat Bitel.

Tak sungkan Nini Bagja menari di atas panggung bersama Ferry Mursidan Baldan - mantan Ketua Ikatan Alumni UNPAD yang sekaligus pendiri dan pupuhu FMB - Forum Masyarakat Bandung. Suatu forum bagi siapa saja yang merasa 'tertanggung budi' dengan Bandung. Baik Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Bandung Barat.

Semangat Nini Bagja sudah nampak dan menarik perhatian, ketika melakukan jalan sehat dari Cikapayang sampai traffic light Dago. CFD di lintas jalan Dago berlangsung meriah dan penuh kegembiraan.

Aneka aksi dilakukan siapa saja yang melintas di situ, meski sayang, pejalan sehat dan penggoes sepeda masih campur baur.

Bagi Nini Bagja, CFD adalah momen penting untuk terus menggembirakan jiwa raga.

Baginya, hidup bahagia itu tewujud ketika kita mampu hidup gembira dalam keadaan apapun.

Rahasianya? Jangan pikirkan semua hal yang tidak diperlukan. Karena yang kudu dilakukan, menurut Nini Bagja yang berusia di atas 70 tahun, itu adalah bagaimana setiap kita mempunyai makna dan manfaat bagi orang banyak. Minimal di lingkungan sendiri.

Bagi Nini Bagja, jalan sehat di momen CFD adalah kebahagiaan, tetapi yang paling membahagiakan adalah ketika dikunjungi dan atau berkumpul dengan para cucu.

Menurutnya, bila mau mengetahui kondisi kehidupan nyata masyarakat, tidak usaha jauh-jauh berfikir. Lihat saja cucu. Kalau cucu gembira, pasti orangtuanya gembira, bila orang tua mereka gembira, insyaAllah masyarakat dalam situasi gembira. Dan kegembiraan itu dapat mewakili gambaran situasional tentang keadaan masyarakat yang sebenarnya.

Saya suka dengan jalan pikiran Nini Bagja. Dengan bahasa amat sederhana yang dipergunakannya, saya tak sengaja belajar tentang pencapaian yang dilakukan negara, paling tidak bila tolok ukurnya adalah indikator pembangunan manusia.

Kalau pemimpin - tidak terkecuali para akademisi - masih 'pasea' (berkelahi) di layar televisi dan tidak mampu berdiskusi dengan kecerdasan yang prima, masih adu otot atau 'sentak sengor,' 'ngabaceo,' artinya masyarakat kita belum sungguh berkualitas. Belum cendekia, baru sekadar keminter, minteri, nokoh-nokohi.

Kalau antrean di puskesmas, rumah sakit, dan loket BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Josial) kesehatan masih panjang, dan ratusan orang meninggal dunia karena bekerja dalam situasi understressed, itu maknanya masyarakat kita belum sungguh sehat.

Kalau dalam situasi gembira di sentra-sentra masyarakat (community center) masih banyak anak-anak dan ibu-ibu wajahnya tampak suntuk, bilangan utang masih tinggi, jumlah pengguna kartu debet menurun dan pengguna kartu kredit meningkat, seperti meningkatnya kriminalitas dan ganasnya debt collector merampas motor di jalan (karena cicilan yang tersendat) maknanya tingkat kemampuan masyarakat secara ekonomi belum baik.

Silakan para analis - akademisi - ilmuan politik - ekonomi - sosial menyigi indikator itu.

Pandangan sekilas Nini Bagja saya yakini. Rumusnya sederhana dan aktual: hidup gembira hidup bahagia. Baginya, yang paling mahal dari segala yang mahal di tengah kehidupan kita sehari-hari kini adalah kegembiraan dan kebahagiaan.

Indeks kebahagiaan manusia di Indonesia, memang jeblok. World Happiness Report menunjukkan, indeks kebahagiaan manusia Indonesia 2018, turun dibandingkan pencapaian 2015.

Laporan yang diterbitkan oleh United National Sustainable Development Solutions Network, Jejaring Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, itu menunjukkan pada tahun 2015, Indonesia masuk dalam peringkat 74. Setahun kemudian (2016) peringkat Indonesia turun menjadi peringkat 79. Pada tahun 2018, peringkat Indonesia semakin menurun dan ada pada peringkat 96.

Artinya, segala gembar-gembor kemajuan selama ini lebih banyak bualan belaka. Penurunan itu terjadi lantaran persepsi korupsi masih tinggi, bantuan sosial masih dikentit di perjalanan, calo jabatan terjadi -- bahkan di tingkat petinggi politik, dan ini yang paling tragis: rakyat nyaris tak punya lagi pemimpin yang bisa menjadi tumpuan harapannya.

Di tengah situasi demikian dan jauhnya jarak rakyat dengan kegembiraan dan kebahagiaan, prinsip hidup Nini Bagja ( sesuai nilai hidup Sunda) menjadi menarik: boga leungeun ulah sacabak-cabakna - punya otoritas jangan sembarang main kuasa comot sana comot sini -- boga panon ulah satempo-tempona - punya mata jangan sembarang melihat, kudu teliti -- lantaran tak semua yang terlihat itu fakta hakiki, terlalu banyak hal buruk dikemas baik sesuai prinsip era kebohongan - post trust era. Pun, boga ceuli ulah sadenge-dengena - punya telinga jangan sembarang dengar informasi, karena terlalu banyak gosip (ghibah) - hoax (buhtan) dan fitnah.

Hidup bahagia dan gembira, itu dalam prinsip hidup Nini Bagja adalah harmoni. Menyatukan yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, sesudah karib saling berkomitmen, saling memuliakan karena inilah salah satu tugas utama pemimpin (nu jauh urang deukeutkeun, geus deuekuet urang paheutkeun, geus paheut urang layeutkeun, geus layeut silih wangikeun).

Saya berguru pada Nini Bagja, di sepotong pagi : pagi menyingsing / belajar bahagia / hidup gembira !

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
24 Agt 19, 09:12 WIB | Dilihat : 65
Melanesia Destinasi Perburuan Kepentingan Masa Depan
23 Agt 19, 16:41 WIB | Dilihat : 150
Segarkan Pertemanan
12 Agt 19, 11:00 WIB | Dilihat : 386
Umrah Digital
11 Agt 19, 13:59 WIB | Dilihat : 326
Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah
Selanjutnya
Budaya
24 Agt 19, 16:44 WIB | Dilihat : 127
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 378
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 572
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya