K U K U

| dilihat 2628

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SEKALI sekala, tengoklah kuku di jari jemari tangan dan kaki kita. Coba tanya, seberapa penting keberadaannya bagi keseluruhan hidup kita. Secara harafiah, boleh jadi, kuku adalah zat tanduk tipis yang tumbuh melekat pada ujung jemari. Boleh juga disebut sebagai bagian ujung jari, yang ketika dibiarkan bisa sangat panjang hingga melingkar. Bisa juga pendek, runcing, dan tajam.

Secara alamiah, kuku memang merupakan bagian anatomis tubuh manusia yang mempunyai posisi sangat khas. Sama halnya dengan kuku yang dimiliki kucing, harimau, elang, garuda, dan berbagai hewan lainnya. Bahkan bagi sebagian insan, khasnya perempuan, kuku sangat begitu berarti. Baik ditinjau dari aspek artistik dan estetik, maupun dalam konteks fungsi.

Perkembangan budaya dan peradaban manusia, menempatkan kuku sebagai bagian dari keindahan yang memerlukan perhatian khas. Berbagai salon kecantikan, menyediakan jasa khas merawat kuku. Hal itu sangat mungkin, karena kuku pada kalangan tertentu dianggap sebagai bagian dari ekspresi kelas sosial.

Berbagai bangsa dan etnis di dunia, bahkan memiliki tradisi khas yang terkait dengan kuku. Mereka mempunyai ramuan khas penghias kuku yang populer disebut pacar, yang membuat kuku berwarna merah kecoklatan. Ada juga bangsa lain yang mengolah potensi sumberdaya alamnya untuk membuat cat dan penghias kuku. Bahkan dengan kemajuan sains dan teknologi mendorong mereka mengembangkan industri cat dan penghias kuku bernilai ekonomi besar. Lantas menyerap tenaga kerja yang tak sedikit.

Para industriawan negara-negara industri - yang melihat kuku sebagai bagian tak terpisahkan dari fashion -, tak ragu menanam investasi dalam bilangan sangat besar pada industri ini. Mereka beroleh profit yang juga tak sedikit dan rela mengeluarkan belanja komunikasi dan media yang sangat besar. Khasnya, untuk menggerakkan tradisi menghias kuku entah sampai bila.

Di Indonesia, secara etimologis, kuku juga dipergunakan sebagai amsal untuk menjelaskan hakekat sinergi dan kolegialitas, seperti tercermin dalam pepatah: “bagai kuku dengan daging.” Suatu ekspresi dari realitas sinergi dan kolegialitas yang tak pernah terceraikan. Secara konotatif, sesuai dengan perkembangan budaya politik berdimensi kekuasaan, juga berlaku amsal: “belum berkuku hendak mencubit.” (belum pun mempunyai kekuasaan sudah hendak mencari-cari kesalahan orang).

Amsal lain: “diberi kuku hendak mencengkeram,” diberi kekuasaan sedikit saja sudah hendak menindas orang lain. Atau, “sudah berkuku dia sekarang,” untuk menggambarkan seseorang yang baru saja beroleh kekuasaan. Sedangkan mereka yang akan mengakhiri jabatan, sering disebut, “duduknya sudah di ujung kuku.” Akan halnya yang ditengarai sedang berada dalam keadaan kekuasaan yang kritis, disebut “bergantung di ujung kuku.”

Dalam konteks kiasan, sudah lumrah, ketika melecehkan seseorang, dipergunakan ujung kuku jempol menjentik belakang kuku jari manis, sambil berucap: “Ah, dia sih tak seujung kuku.” Maknanya, bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Sebaliknya, pandai dan hebat yang pendiam dan rendah hati, sering dibilang, “laiknya harimau menyembunyikan kuku.” Dan, mereka yang yang mempunyai kekuasaan besar namun hartanya sedikit, sering dijuluki, laksana harimau berdaging sekuku.

Lepas dari bagaimanapun kuku hendak ditengok, disimak, dan diposisikan, Tuhan menciptakan kuku sebagai bagian dari anatomi tubuh yang multi fungsi. Karenanya, sejak kanak-kanak sebagian besar ibu dan guru kita selalu mendidik kita membersihkan kuku. Bahkan pada masanya, kondisi kuku menjadi bagian dari disiplin siswa dan terkait dengan kebersihan dan kesehatan. Ibu atau guru akan marah, ketika menyaksikan kuku kita dibiarkan panjang dan ‘membahayakan.’ Ibu dan guru juga akan marah ketika menyaksikan kuku kita kotor.

Untuk mereka yang berkuku (baca: kekuasaan) dan hendak selamat menjalankan kekuasaannya, ingatlah baik-baik makna di balik kemarahan ibu dan guru, itu. Maknakan saja sendiri: kuku tak boleh terlalu panjang, sebagai isyarat untuk tidak berlebih-lebihan dengan kekuasaan. Kuku pun tak boleh kotor, karena kekuasaan harus dilaksanakan secara bersih. Tidak dikotori oleh sifat kemaruk dan sikap korup. Jadi? Periksalah kuku setiap saat ! |

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto dokumentasi
 
Sporta
Lingkungan
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 241
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 802
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1486
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
Selanjutnya