Memelihara Harapan

| dilihat 195

Noch

DALAM keterbatasan hidup secara multidimensi, ketika krisis kesehatan belum mampu diatasi, resesi ekonomi datang membekap, politisi sibuk bertarung untuk kepentingannya sendiri, dan media sosial banyak sekali diracuni oleh informasi sampah, apa sungguh yang harus dilakukan?

Banyak jawaban yang bisa diberikan. Intinya adalah memelihara harapan, karena hidup adalah kemungkinan-kemungkinan, dan manusia beroleh pilihan yang paling mungkin untuk menjalani kehidupan.

Pameo "peliharalah optimisme seakan hidup seribu tahun lagi, peliharalah kesadaran imani seolah akan mati esok pagi," berlaku pada situasi kita terjepit saat ini.

Firman Allah yang menegaskan, bahwa di balik kesulitan ada kemudahan dan manusia berkewajiban memungkas kerjanya untuk kemudian melanjutkan dengan kerja-kerja baru (QS Al Insyirah), mengisyaratkan dengan jelas, bahwa di balik kesulitan selalu ada inspirasi.

Allah menyiapkan alat hidup paling sempurna kepada manusia (nalar, naluri, rasa, dan dria) untuk menjawab berbagai pertanyaan yang mengemuka dari fenomena kehidupan, sehingga manusia selalu mampu berfikir - bersikap - bertindak paradigmatik.

Dalam situasi sulit, manusia mesti pandai melakukan perubahan minda untuk melihat, bahwa hidup bahagia dan berjaya adalah hak semua insan. Karenanya kewajiban manusia adalah ikhtiar dan menguatkan keyakinan, bahwa sumber kehidupan adalah Allah, kausa prima kehidupan. Bukan yang lain.

Intinya adalah bagaimana mengelola seluruh instrumen yang diberikan Allah secara seimbang. Bagi sebagian orang, memang tidak mudah memadukan optimisme dengan apatisme. Terutama, ketika manusia hilang kesadaran untuk pulang ke dalam dirinya, menghidupkan sikap disiplin.

Setiap orang atau insan, semestinya memasukkan disiplin sebagai salah satu nilai moral dan harus dipraktikkan sepanjang hidupnya. Disiplin merupakan aspek paling asasi yang diperlukan setiap manusia untuk merancang, menata, dan menjalani kehidupan yang sungguh ingin dijalani.

Dimulai dari disiplin pribadi. Karena disiplin pribadi merupakan disiplin terbaik dan paling produktif, karena datang dari kesadaran diri sendiri. Terutama, ketika disiplin dipahami sebagai  sesuatu yang dilakukan atau tidak dilakukan sesuai dengan kemerdekaan diri, karena modal dasar yang dimiliki manusia adalah kemerdekaan. Independensi.

Kemerdekaan untuk mengelola diri sendiri untuk memperoleh haknya dengan menjalankan kewajibannya. Bangun sebelum fajar, mensyukuri nikmat, bahwa Allah masih memberi kemungkinan hidup, lantas menunaikan kewajiban untuk bersujud kepadanya.

Secara alamiah, setiap orang mengalami siklus kehidupan yang dipandu oleh dinamika yang berada di dalam anatomi tubuhnya, yang sesungguhnya merupakan isyarat untuk beraksi.

Mulai dari membuang masalah secara rutin, membersihkan dan menyegarkan diri, mematut diri, lantas menyiapkan diri untuk menjalankan kehidupan harian: menjawab tantangan dengan mengenali potensi diri, merumuskan dan menciptakan peluang, mengenali kelemahan diri, dan merumuskan kekuatan atau kelebihan apa yang harus dimiliki untuk mewujudkan apa yang dihasratkan.

Subuh adalah agenda harian setiap insan untuk sekurang-kurangnya melakukan dua hal. Pertama, melihat masalah paling pelik yang harus ditemukan solusinya; Kedua, mengolah nalar untuk menemukan solusi dan melaksanakannya.

Lakukan identifikasi masalah, pilih urutan prioritas, dan wujudkan dengan tindakan. Menentukan prioritas adalah penting, karena tidak semua manusia mampu menyelesaikan masalah dalam waktu bersamaan.

Manfaatkan masa antara subuh sampai tengah hari untuk mewujudkan prioritas yang sudah dipilih, boleh mengisi jeda dengan melaksanakan salat dhuha untuk memperkuat keyakinan.

Pada tengah hari, ketika tiba waktu dzuhur, ambil peluang untuk 'berkomunikasi dengan Allah.' Mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya, ketika prioritas pertama menemukan solusinya. Sampaikan juga kepada-Nya permohonan untuk selalu diberi kesadaran, bila sampai tengah hari masih ada masalah yang belum selesai. Lalu, rehat sejenak, untuk kemudian melanjutkan lagi ikhtiar.

Jangan pernah buang waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Ketika ashar tiba, lagi 'berkomunikasi' dengan Allah, bersyukur ketika masalah sesuai prioritas sudah selesai dan bahkan ada beberapa kerja baik yang mampu dihasilkan. Manfaatkan juga peluang untuk mengadu kepada-Nya, ketika masih ada masalah belum selesai. Selepas itu, rehatlah.

Segarkan kembali diri. Berikan hak tubuh untuk selalu disegarkan dan dibersihkan, sampai senja berakhir dan malam tiba. Lagi, 'berkomunikasi dengan Allah.' Sekurang-kurangnya untuk melakukan tiga hal: berterimakasih sudah diberikan daya hidup untuk ikhtiar sepanjang hari; bersyukur dengan tulus, bahwa sepanjang siang banyak bersinggungan dengan beragam peristiwa dan beroleh hikmah; dan, bersyukur masih diberi peluang untuk menjumpai malam sebagai waktu yang khas untuk rehat dan kian karib dengan keluarga dan Dia.

Kala tiba waktu isya, lagi lakukan 'komunikasi dengan Dia,' sambil terus mempelajari dan memahami, sekaligus melakukan evaluasi diri, melakukan satu hal ketika kita tahu, kita harus melakukannya, suka atau tidak suka. Sekaligus memahami, tidak pernah ada yang memaksa kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu, kecuali diri kita sendiri.

Evaluasi diri dan bersyukur itu penting, paling tidak untuk mengenali diri, apakah sepanjang siang, kita sudah menjalankan hakikat insaniah kita sebagai manusia untuk menyadari diri kita sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Mengevaluasi bagaimana kualitas kebaikan kita sebagai manusia, apakah kita sudah sungguh menjadi manusia yang berkebajikan, atau kita masih menjadi hewan yang berakal, yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan hak orang lain yang harus kita berikan.

Evaluasi itu juga penting untuk memahami, bahwa disiplin diri memang tidak mudah dipraktikan, tetapi setiap orang berpotensi dan punya daya untuk melakukannya. Setiap orang lebih tahu tentang dirinya dan tidak ada orang lain yang lebih tahu tentang diri orang lain.

Jangan pernah berpikir, bahwa setiap kita bisa mendisiplinkan orang lain, bahkan anak, istri/suami dan anggota keluarga lain, bila kita sendiri tidak disiplin.

Pada malam, sebelum tiba masa memberikan hak kepada tubuh untuk rehat yang cukup, pahami evaluasi lagi kemampuan disiplin diri masing-masing, umpamanya dalam bekerja, melakukan pekerjaan dengan baik, tepat serta efektif - efisien menggunakan waktu, dan lainnya.

Sambil rebah atau berbincang dengan istri/suami, lakukanlah evaluasi tentang pencapaian kinerja hari itu, sekaligus menilai dengan jujur, seberapa dekat ikhtiar yang dilakukan dan hasilnya dengan harapan yang dipikirkan dan dibayangkan. Sekaligus mengetahui, apa saja faktor yang masih menjadi penyebab harapan itu belum mewujud.

Rehatlah dan jangan pikirkan lagi apa yang sudah berlalu, supaya bisa bangun tengah malam dan kembali 'berkomunikasi' dengan Allah yang kita yakini sebagai pemberi solusi. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 493
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
01 Nov 20, 12:10 WIB | Dilihat : 169
Jakarta Jawara Dunia Tata Kelola Transportasi
04 Okt 20, 16:55 WIB | Dilihat : 184
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 747
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
Selanjutnya
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 94
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 122
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 03:42 WIB | Dilihat : 89
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 100
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya