Sapu Lidi

| dilihat 321

Bang Sèm

Beberapa hari berselang saya terpikat dengan sapu lidi. Ada beberapa sapu lidi di rumah dengan posisi yang berbeda satu dengan lainnya, meski bahannya tetap sama, dari lidi daun kelapa. Fungsinya juga sama, sebagai alat menyapu, yang berhubungan dengan kebersihan dan kerapihan.

Sapu lidi yang pertama saya lihat di sudut beranda dekat tempat wudhu untuk tamu, fungsinya membersihkan beranda dan sekitar tempat wudhu itu dari guguran daun kurma, daun sirih, dan daun mangga. 

Sapu lidi kedua, saya lihat di sudut kamar, diletakkan cucu saya di atas meja yang dekat dengan bibir tempat tidur. Tentu, fungsinya untuk merapikan tempat tidur, supaya sprey pembungkus kasur, bantal dan guling.

Sapu lidi ketiga, saya lihat di sudut sujud kamar tidur. Diletakkan cucu saya di situ, untuk merapikan sajadah dan gordein.

Saya teringat masa kecil, acapkali terkena sanksi makan tak habis, karena 'lapar mata.' Ibu mengganjar kami, anak-anaknya memenepis debu kasur yang di jemur di halaman rumah, setelah dipukul-pukul dengan 'penggebuk kasur' yang dirangkai dari simpul rotan.

Kepada cucu saya bercerita tentang sapu lidi. Mulai dari bagaimana lidi itu masih menjadi tulang daun kelapa dan proses panjang yang harus dilaluinya, sehingga sampai ke rumah. Tak hanya proses kerja dan bisnis masyarakat di era agraris yang masih terus berlangsung sampai era informasi dan konseptual, bahkan mungkin kelak, pada era Society 5.0 ketika perangkat artificial intelligent ( khasnya robot) menggantikan fungsi manusia untuk melaksanakan pekerjaan tertentu.

Ketika bersama-sama menyaksikan video Endang Caturwati menarikan karyanya, "Munajat untuk Bumi" yang menggunakan sapi lidi sebagai properti, saya jelaskan posisi dan fungsi sapu sebagai media simbol imajinatif untuk menyampaikan pesan dan spirit pembersihan diri (jiwa raga - lahir batin) sehingga bisa menghadapi ancaman nanomonster COVID-19 (penyakit yang ditimbulkan oleh jenis baru virus corona) yang tak nampak kasad-mata. Meskipun World Health Organization (WHO) tak memasukkan sapu lidi dalam protokol menghadapi virus yang mengancam paru-paru manusia dan mematikan, itu.

Sapu juga tidak akan dipakai sebagai alat untuk menghalau demonstran yang melakukan aksi protes sebagai dampak penanganan krisis kesehatan yang ditimbulkan COVID-19 yang tidak tepat, tidak fokus pada krisis kesehatan sebagai problem utama.

Saat melihat sapu lidi di tangan Endang -- koreografer tari yang juga guru besar ilmu seni budaya di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) -- yang sudah dicelup dulu dengan cat air, kemudian diberikan aksesoris tiga bunga dan beberapa butir mutiara hiasan -- pikiran saya melayang ke berbagai karya kreatif tari tradisi di Indonesia. Terutama peristiwa kolaborasi kreatif para penari dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Apalagi, menurut Endang, yang pernah menjabat Direktur Kesenian dan Pembinaan Perfilman (kemudian Direktur Kesenian) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, peristiwa semacam ini mengartikulasi esensi pelestarian dan pengembangan kreatif koreografer dan penari, sebagai praktisi seni profesional.

Tak jarang, dalam konteks tari, sapu lidi sebagai properti di pergunakan secara fungsional dan proporsional. Misalnya, untuk mengekspresikan dimensi kebangsaan dan keindonesiaan yang masih karib dengan pola pikir perlambangan.

Tari Sapu Jagad dari Jawa Tengah, misalnya, pernah menyajikan tarian dengan properti utama sapu lidi yang terikat erat dengan gerakan halus. Khasnya untuk menggambarkan persatuan Indonesia yang mesti dilakukan secara harmonis. Saya, secara subyektif menangkapnya sebagai ungkapan pemikiran positif, bahwa demokrasi sebagai cara mewujudkan harmoni kebangsaan.

Beragam pola gerak, dari gerak murni ke gerak imitasi penari bisa dilakukan, misalnya ketika sapu lidi terlepas ikatannya, dan bergerak sendiri-sendiri dengan keragaman gerak yang mencerminkan karakter yang berbagai. Misalnya, gerak teatrikal monumental patah-patah untuk menggambarkan keterberaian mudah dipatahkan. Bisa juga gerakan-gerakan dinamis dengan melecut-lecutkan lidi. Atau gerak lain yang melambangkan dimensi eksistensial manusia sebagai makhluk individual yang sekaligus sebagai makhluk sosial.

Di Ambon, ada tari Pukul Menyapu yang sekaligus merupakan salah satu tradisi yang mencerminkan kearifan dan kecerdasan Indonesia dari Timur. Tradisi yang berkembang sejak lama dan ditampilkan setiap Syawalan (hari ketujuh bulan Syawal) selepas Idul Fitri itu masih terpelihara di desa Mamala dan Morella, Maluku Tengah.

Tari Pukul Menyapu dimainkan oleh penduduk desa, dengan saling memukulkan sapu lidi, untuk menciptakan keakraban. Ekspresi sukacita dan persaudaraan, sekaligus menyiratkan makna, jangan suka menyakiti orang lain bila tak suka disakiti, atau sebagai simbol kolaborasi dan sinergi kuat rakyat, terutama pasukan Telukabessy kala berperang mempertahankan Benteng Kapapaha dari serangan penjajah.

Di Probolinggo, Jawa Timur, khasnya di lingkungan masyarakat Hindu Tengger, sapu lidi dipergunakan dalam upacara Pujan Kesanga, bulan kesembilan kalender Hindu Tengger. Upacara itu dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur dan permohonan kepada sang hyang widhi wasa Tuhan Yang Maha Esa, supaya senantiasa memberikan perlindungan, agar masyarakat terhindar dari mara bahaya. Upacara itu dimulai dengan rangkaian acara resik di rumah kepala desa setempat. Selepas itu, proses bergerak keliling kampung dengan membawa obor (pencerahan hidup), sapu lidi (kebersamaan dilandasi kebersihan jiwa dan raga), dan cangkul (lambang kerja kerasa). Prosesi itu diiringi musik gamelan yang mistis.

Di lingkungan masyarakat Jawa, pada beberapa daerah, misalnya sapu lidi dipergunakan untuk prosesi tolak bala, misalnya ketika melantunkan Ana Kidung Rumangsa ing Wengi, karya Sunan Kalijaga. Di Banten, sapu lidi juga dipergunakan sebagai bagian dari 'properti' tolak bala, mengusir penyakit, saat mantra atau jangjawokan dibacakan.

Ketika bocah, saya menyaksikan beberapa tetua datang dari Sajira - Lebak, setiap bulan Rajab. Duduk di halaman, menghadap ke rumah, lalu menggunakan sapu lidi dengan gerak 'menyapu udara' sambil membacakan salawat dan jangjawokan. Selepas itu, mereka bercerita, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari tradisi 'pembersihan rumah' jelang Ramadan.

Sapu lidi juga karib digunakan dalam tradisi masyarakat Betawi, setiap sore hari, membersihkan halaman rumah dari daun-daun kering yang kemudian dikumpulkan di satu lubang tertentu untuk dibakar.  Mambakar sampah itu sendiri disebut nabun. Biasanya dilakukan di belakang atau samping rumah. Asap tabunan itu mengurangi nyamuk, terutama di musim kemarau.

Simbolisma tentang sapu lidi juga diamsalkan oleh politisi yang senang dengan metafora dalam mengolah kemampuan retorika. Bung Karno, misalnya. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1963, Bung Karno berpidato. Dikatakannya, ratusan lidi akan tercerai berai, tidak berguna, dan mudah patah jika tidak diikat. Namun, jika lidi-lidi tersebut disatukan dan diikat maka tak akan ada yang mampu mematahkannya. Demikian pula rakyat Indonesia yang harus menjaga persatuan dan kesatuannya.

Retorika Bung Karno yang senang simbolisma, memang menarik. Terutama ketika menarik relasi metafora dengan aksentuasi dan substansi pemikirannya. Banyak petinggi negeri yang sering mengutip pidato dan bahkan sampai meniru gaya Bung Karno berpidato (walaupun hambar). 

Saya bercerita kepada cucu saya, di masa kecil saat membaca tuturutan - Juz Amma - selalu menggunakan sebilah lidi, seukuran 30 centimeter sebagai penunjuk huruf dan kalimat. Dia memandangi bilah penunjuk dari bambu yang dibuat rapi dan diamplas halus.

Di sisi lain, dalam konteks pemaknaan pohon kelapa, lidi ada bagian dari pohon kelapa yang seluruh bagiannya mempunyai manfaat. Dan lidi, seandainya dia terpisah dari 'beungkeut' ikatannya, juga punya manfaat. Minimal sebagai biting pengakit 'tekor' (wadah daun pisang) yang biasa dipakai penjual jajanan pasar sebagai pengganti pisin. Pesan sederhananya adalah, ibarat lidi, eksistensi manusia mesti bermanfat dalam suatu ikatan sosial ( dari keluarga sampai bangsa ), juga harus bermanfaat sebagai individu.

Sapu lidi yang bersih, akan mampu membersihkan lingkungan dan berguna secara proporsional. Kalau lidi bisa bermanfaat, mestinya manusia lebih bisa lagi dong.. |

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1266
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1656
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 838
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1262
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Budaya
23 Jun 20, 15:34 WIB | Dilihat : 173
Malim Ghazali PK Berpulang di Tengah Tirani Sastra
18 Jun 20, 20:40 WIB | Dilihat : 168
Seni Dayak Titian Surgawi
Selanjutnya