Siapa Resik versus Siapa Jorok

| dilihat 186

bang sém

Nanomonster Covid-19 tak hanya menawarkan was-was dan watir bagi manusia, masyarakat, negara dan bangsa. Tak juga menawarkan sejumlah tantangan.

Virus yang bermula menyebar dari Wuhan China, akibat manusia lumayan rakus dalam memenuhi syahwat perutnya, menyantap hewan yang tak semestinya (bahkan diharamkan) untuk dimakan secara sensasional. Hewan-hewan yang sengaja dicipta Tuhan untuk menjaga keseimbangan semesta.

Nanomonster Covid-19 yang kudu dihampiri dengan kemampuan nanoteknologi medis, ini juga membuka tirai terang benderang, siapa manusia paling resik dan siapa pula manusia paling jorok. Baik konotatif maupun denotatif.

Makhluk yang tampak kasad mata ini, memberi manusia pelajaran amat berharga untuk memahami, bahwa yang paling bersih adalah mereka yang paling konsisten menegakkan dan mewujudkan mewujudkan commitment, kualitas dedikasi institusi dan pemimpinnya untuk mewujudkan tujuan dan mission sacre melayani rakyatnya. Kualitas dedikasi yang menjadikan institusi dan pemimpinnya mengemban amanah secara bersungguh-sungguh dan sebagaimana mestinya.

Karenanya, dalam mengemban amanah yang diberikan rakyat kepadanya mereka selalu berfikir, bersikap, dan bertindak objective. Tidak dipengaruhi oleh interpretasi atau prasangka (presumsi) yang dalam banyak hal dipengaruhi oleh kepentingan diri dan kelompoknya, berdasarkan fakta, sehingga tidak bias dalam mengambil kebijakan atau keputusan.

Karena itu mereka mempunyai viability, kemampuan untuk sungguh bekerja berdasarkan kompetensinya, berkompetisi dengan cara yang benar untuk mencapai puncak kinerja, yakni keberjayaan atau sukses secara kualitatif sesuai dengan parameter yang disepakati.

Baik secara personal maupun kelembagaan, mempunyai integrity atau integritas, kualitas kejujuran dan prinsip moral yang kuat. Institusi dan pribadi yang mempunyai integritas, berdiri di atas honesty, uprightness, probity, rectitude (yang kesemuanya adalah ragam rupa kejujuran) dan honorius - kehormatan. Kejujuran paling sederhana adalah, ketika dirinya terbukti positif terpapar Covid-19,  mengakui secara terbuka -- terutama karena mereka menyandang posisi jabatan publik, apalagi memikul tanggungjawab mengkoordinasi percepatan aksi penanggulangan pandemi Covid-19.

Anies Baswedan - Gubernur Jakarta, Sandiaga Uno - mantan calon Wakil Presiden RI,  dan Doni Monardo - Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) adalah role model pribadi yang semacam ini. Karena kejujuran dan kejelasan (transparansi) adalah 'dua sisi dari koin yang sama.'

Dengan keempat anasir parameter pemikiran, sikap, dan tindakannya itu mereka mewujudkan seluruh kerjanya untuk mencapai kualitas dedication (dedikasi), pengabdian kepada tanah air, negara, dan bangsa, serta beribadah kepada Tuhan.

Cermin Kejujuran

Sebaliknya, persona yang paling jorok adalah yang amat tega dan biadab melakukan corruption (korupsi, fraud, suap menyuap), terutama melahap dana bantuan sosial dan berbagai proyek ikutannya. Pun, korupsi yang berdampak pada rusaknya ekologi dan ekosistem alam. Institusi paling jorok adalah yang membiarkan personil atau kadernya melakukan aksi biadab semacam itu.

Lantas, dia juga persona yang opportunistic. Lembaga atau persona yang mengubah peluang berbuat baik bagi kepentingan rakyat secara luas, dimanfaatkan hanya untuk kepentingan kelompok, golongan, dan dirinya sendiri, sehingga menimbulkan kesenjangan (sosial dan ekonomi) di tengah masyarakat. Karakter oportunistik membuka celah bagi berlangsungnya bencana sosial.

Akibat sikap dan perilaku yang semacam itu, institusi dan persona yang paling jorok adalah yang membiarkan terjadinya volatility.  Pembiaran atas sesuatu masalah berkembang menjadi masalah berkelanjutan, karena menyadari pergerakan kehidupan terus berubah secara cepat, menimbulkan kegamangan dan perubahan dramatik setiap saat, yang sulit ditentukan sebab akibatnya, karena lebih disebabkan oleh presumsi-presumsi. Terutama dalam penegakan hukum yang membiarkan terjadinya ketidak-adilan. Akibatnya terjadi ketidak-pastian, keribetan, dan keterbelahan di dalam masyarakat.

Pembiaran itu tersebab oleh sikap impulsive inconsisten dan improvisatoric dalam mengelola persoalan. Mèncla-mènclè, pagi delè sorè tèmpè. Melakukan sesuatu hanya mengandalkan perasaan, mengabaikan nalar dan nurani kebenaran, 'tiba saat, tiba akal.'  Lebih sibuk mendulang alasan dan bukan menemukan cara mengatasi persoalan.

Institusi dan persona yang jorok, membiarkan terjadinya proses deformation atau perubahanan tatanan kehidupan (sosial, ekonomi, politik dan budaya) melalui berbagai aksi tekanan. Antara lain dengan melakukan pembiaran atas terjadinya interaksi komunikasi distorsif di tengah masyarakat, yang menyuburkan rumors (ghibah), perwadulan atau hoax (buhtan), dan fitnah (fithan). Akibatnya, tumbuh berkembanglah trash information (informasi sampah) yang menghambat semai kembang trust (kepercayaan).

Kesemua kejorokan ini, secara penetratif hipodermis, menciptakan squalid society - masyarakat yang jorok, yang perlahan dan pasti berkembang menjadi traipse society, masyarakat yang tersesat.

Kalau ada yang mengatakan sebel, karena masyarakat terkesan di benaknya, jorok. Ada baiknya, mesti dihadiahkan honesty mirror untuk melihat dirinya lebih dulu, supaya tahu diri. |

Editor : delanova
 
Lingkungan
04 Feb 21, 08:23 WIB | Dilihat : 200
Dahsyatnya Ular Betina
02 Feb 21, 09:26 WIB | Dilihat : 223
Anjing
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 220
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
05 Des 20, 16:53 WIB | Dilihat : 264
Menghirup Udara Bersih Adalah Hak Asasi Manusia
Selanjutnya
Humaniora
23 Feb 21, 07:46 WIB | Dilihat : 102
Pengemudi Taksi itu Bernama Tuti
13 Feb 21, 20:24 WIB | Dilihat : 230
Neo Nihilisme
13 Feb 21, 09:34 WIB | Dilihat : 250
Mengenang Sosok Cendekia Sinyo Harry Sarundajang
12 Feb 21, 00:36 WIB | Dilihat : 350
AHY
Selanjutnya