Virus dan Kematian itu Bukan Fiksi

| dilihat 166

GUBERNUR Jakarta Raya, Anies Rasyid Baswedan melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Cengkareng.

Ia meninjau ke rumah sakit itu, untuk memastikan pelayanan yang diberikan di rumah sakit dalam pengelolaan Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jakarta, itu baik.

Hampir seluruh ruangan instalasi layanan rumah sakit itu, ia kunjungi. Dan, seperti biasanya dalam kunjungan kerja, dia cermat menyimak banyak hal, dan telaten bertanya tentang banyak hal terkait dengan layanan.

Bagi Anies, melayani itu mulia, dan kemuliaan melayani itu seringkali tak terkatakan, karena hanya mungkin dirasakan.

Lantas, dalam akun facebook-nya, Anies mengguunggah tulisan kecil yang menggugah. Begini:

"Pasien itu baru saja ditutup kain putih. Ikhtiar manusia berhenti di situ. Semua alat dilepas, Ia telah jadi jenazah. Kematian dalam kesendirian, tanpa ada keluarga di sampingnya.

Siang itu, menjelang pukul 14, di RSUD Cengkareng, berdiri di depan layar tv, di ruang kontrol yang memonitor setiap pasien ICU, kami menyaksikan dari dekat.

Peristiwa itu dekat. Apalagi kain putih itu menutup wajah dan badan orang yang kita kenal. Momen yang tak berjarak.

Tidak lama kemudian, Kami menemui keluarganya di depan pintu ruang jenazah. Duka mereka terasa teramat dalam. Sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan akan terjadi secepat itu. Kebersamaan dan gelak tawa berpuluh tahun keluarga itu, kini tersimpan menjadi kenangan.

Dalam hitungan jam, menjelang maghrib, jasad itu telah tiba di pemakaman dan siap dimasukkan ke peristirahatan terakhirnya di liang kubur.

Teman-teman semua, ini bukan fiksi dan bukan sekadar angka statistik. Ini akhir dari sebuah perjalanan anak manusia yang diterpa wabah: bermula dari tertular COVID-19 dan berujung pada kematian.

Penularan terbanyak saat ini menimpa klaster keluarga. Satu orang terpapar, lalu menularkan pada anggota keluarga lain.

Fakta saat ini, paling banyak yang terpapar adalah usia muda, tapi paling banyak meninggal adalah usia tua. Janganlah jadi penular. Ikutlah mencegah penularan.

Kurangi kegiatan di luar rumah, kecuali kegiatan mendesak dan mendasar. Saat pulang, maka taati protokol kesehatan. Mencuci tangan, memakai masker dan hindari kontak fisik dengan keluarga.

Pakai masker itu tidak nyaman, tapi ingatlah, terkena COVID-19 itu jauh lebih tidak nyaman.

Berjarak, tak bersalaman dengan keluarga itu terasa aneh, tapi ingatlah terpisah untuk isolasi bahkan berpisah selamanya itu jauh amat tidak nyaman. Jadi jangan lelah, jangan lengah.

Sekali lagi, virus itu bukan fiksi. Ini semua adalah nyata. Lindungi diri, lindungi keluarga, lindungi semua."

Ya virus itu bukan fiksi dan kematian itu amat dekat. Dia ada, bahkan pada jarak yang tak teramat jauh dari kita atau siapa saja. Di seluruh dunia, sudah hampir 100 juta manusia terjangkiti.

Badan kesehatan dunia (World Health Organization), per 24 Januari 2021 mencatat 99.406.775 orang terjangkiti, dengan jumlah terbesar di Amerika Serikat (25.566.789) dan India (10.655.435), yang kurang konsisten menjalankan protokol kesehatan. Penambahan kasus tepa mutakhir sebanyak 107.047, terbesar di Rusia (21.127), Mexico (20.057), Indonesia (11.778), Malaysia (3.346), dan kasus terkecil di Kamboja (2).

Data pada tanggal yang sama, juga menunjukkan jumlah korban mati di seluruh dunia mencapai jumlah populasi 2.132.043 dengan jumlah korban mati terbesar Amerika Serikat (427.635), Brazil (216.475), India (153.376). Penambahan jumlah korban mati pada hari yang sama dialami Mexico (1.470), Rusia (491), Indonesia (171), dan Polandia (110).

Di seluruh dunia, penderita yang sembuh dan mengalami pemulihan sebanyak 71.480.567 orang. Terbanyak di Amerika Serikat (15.330.949), India (10.316.786), Brazil (7.628.438), dan Rusia (3.131.760).

Di Jakarta, pada tanggal yang sama tercatat, 246 ribu kasus, 3.949 meninggal dunia. Mereka yang terpapar dan sembuh 219 ribu orang.

Kapan pandemi Covid 19 ini akan berakhir? Bergantung kita. Bila kita disiplin menjalankan prosedur kesehatan dan melakukan tindakan adil memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggar prosedur kesehatan, termasuk mengabarkan kala kita terpapar, mungkin kita mampu mempercepat petaka ini berakhir | nov

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
02 Feb 21, 19:50 WIB | Dilihat : 207
Penguasa Militer Myanmar Tak Peduli Ancaman Joe Bieden
01 Feb 21, 00:29 WIB | Dilihat : 176
Hari Hijab Nasional Filipina Mulai 1 Februari 2021
01 Feb 21, 22:43 WIB | Dilihat : 203
Titik Balik Demokrasi Masa Pandemi
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1690
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2062
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1222
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya