Menilik Drama Politik September Malaysia (2)

Anwar Ibrahim Konsisten Memburu Kursi PM

| dilihat 170

Bang Sém

NAJIB melawan Mahathir, dia menggusur Mukhriz Mahathir dari posisinya sebagai Menteri Besar Kedah. Mahathir kian pedas menyerang Najib.

Muhyidin merapat ke Mahathir, dan besama-sama sejumlah kalangan yang keluar dari UMNO/BN, termasuk Mukhriz mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM).

Muhyiddin dipilih sebagai Presiden PPBM. Kolaborasi PPBM dengan PKR dan DAP kian menjadi, lantas melakukan Delarasi Rakyat Malaysia.

Jelang PRU XIV - 2018, Anwar keluar dari Penjara. Dia langsung turun gelanggang, berkolaborasi dengan DAP dan PPBM para deklarator Deklarasi Rakyat Malaysia dan serempak menyerang Najib.

Anwar sadar diri dengan posisinya, karena sudah gagal berulangkali menumbangkan BN/UMNO yang sudah berkuasa selama 64 tahun.

Anwar menggalang komunikasi intens dan membuat berbagai kesepakatan dengan Kit Siang, Mahathir, dan Muhammad Sabu (Partai Amanah) untuk berkoalisi dan membentuk Pakatan Harapan (PH).

Mereka sepakat meminta Mahathir memimpin PH, bahkan di saat-saat menjelang Pilihan Raya Umum XIV, ketika PPBM tak diperkenankan mengikuti pemilihan umum itu dengan logonya sendiri, disepakati menggunakan logo tunggal PKR.

Naluri politik Anwar memang tajam. Dia memaklumkan, bila PH memenangkan PRU XIV, Mahathir akan menjabat Perdana Menteri, didampingi Wan Azizah sebagai wakil Perdana Menteri, dan dia akan menjadi Prime Minister in Watiting

9 Mei 2018, hasil PRU XIV PH berhasil memenangkan suara mayoritas rakyat dan dapat membentuk pemerintahan. Mahathir dilantik sebagai Perdana Menteri kali kedua dan Wan Azizah menjadi Wakil Perdana Menteri perempuan pertama di negeri jiran itu.

Anwar pun mengumbar informasi terus menerus, bahwa Mahathir dan Wan Azizah hanya akan memimpin selama dua tahun. Dia memaklumatkan, sudah ada kesepakatan dengan Mahathir, bahwa dirinya yang kelak akan menjabat PM menggantikan Mahathir.

Anwar -- setelah menerima pengampunan Sulat Muhammad V - Yang di-Pertuan Agong Malaysia XV -- mencari jalan untuk kembali ke parlemen dengan semangat menjadi Perdana Menteri ke 8 menggantikan Mahathir.

Anggota parlemen Port Dickson dari PKR, Danyal Balagopal, pun mengikhlaskan diri, menarik diri dan mengosongkan kursinya.

"Saya sedia mengosongkan kerusi Parlimen Port Dickson bagi membolehkan Anwar bertanding dalam pilihan raya kecil di kawasan itu," ungkap Balagopal. "Saya yakin Anwar akan menang dan menjadi Ahli Parlimen dan akan menjadi Perdana Menteri kedelapan," lanjutnya.

Seluruh dedengkot PH, termasuk Mahathir dan Kit Siang turun berkampanye untuk Anwar di Port Dickson.

12 September 2018, Anwar Ibrahim diumumkan memenangkan pemilihan itu dan berhak kembali menduduki kursi parlemen Malaysia no P.132. Dia beroleh 31.016 suara dan mayoritas suara sebanyak 23.560.

Anwar mengalahkan enam rivalnya, Mohd Nazari Mokhtar (PAS) dan mantan Menteri Besar Negeri Sembilan, Isa Samad (BEBAS). Calon lain yang dikalahkan Anwar adalah Lau Seck Yan, Saiful Bukhari Azlan (yang pernah bersumpah mubahalah di mahkamah wilayah persekutuan telah diliwath Anwar), Stevie Chan dan Kan Chee Yuen.

UMNO/BN memainkan peran baru sebagai pembangkang (oposisi), walau masih nampak canggung. Lantas membentuk koalisi Muafakat Nasional dengan PAS.

Akan halnya para menteri yang mendampingi Mahathir dan Wan Azizah, karena terlalu lama menjadi pembangkang (oposan) juga masih suka lupa, kalau kini sudah memerintah (berkuasa). Mahathir mengatakan itu, ketika menerima para pemimpin redaksi dan jurnalis senior Indonesia di kantornya (19/02/20).

Di dalam kabinet Mahathir para menteri kanan diisi oleh para petinggi PKR (Azmin Ali - ekonomi), DAP (Lim Guan Eng - keuangan), PPBM (Muhyiddin - dalam negeri), AMANAH (Mat Sabu - hankam).

Senin, 24/02/20 Mahathir menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia, Yang di-Pertuan Agong ke 16, Sultan Abdullah, tak berhasil membujuknya, sehingga pengunduran diri itu diterima. Pemerintahan PH pun bubar setelah dua tahun berkuasa. Mahathir dilantik sebagai PM interim.

Untuk mengonfirmasi berbagai klaim perolehan suara mayoritas anggota parlemen untuk menjabat PM Malaysia ke 8, Sultan Abdullah memanggil satu persatu dan mewawancarai 222 anggota parlemen. Ini pertama kali terjadi di Malaysia.  

Anwar Ibrahim gagal menjabat PM Malaysia ke 8, karena ternyata Muhyiddin Yassin yang memperoleh suara mayoritas anggota parlemen karena dukungan BN/UMNO, PAS, dan petinggi PKR (anak ideologisnya sendiri) Azmin Ali dan Zuraida Kamaruddin yang memang kritis. Keduanya kemudian dilantik sebagai menteri dalam pemerintahan Perikatan Nasional (PN) yang dipimpin PM Muhyiddin Yassin.

Juli 2020, Presiden BN/UMNO Ahmad Zahid Hamidi melontarkan isu, UMNO fokus menguatkan koalisi Muafakat Nasional (MN) dengan PAS dan menyiapkan diri memenangkan sejumlah pemilihan raya kecil di tingkat negeri dan Pilihan Raya Negeri (PRN) Sabah yang berlangsung September ini. UMNO dan PAS menurunkan para tokohnya ke Sabah untuk merebut suara Warisaan yang berkuasa.

Tun Mahathir menilai PRN tak sepatutnya dilakukan, karena pemerintahan Warisan sudah sah, hasil PRU XIV. Lagi pula, situasi pandemi di Sabah terbilang rawan.

Ketika semua petinggi partai sedang fokus bertarung di Sabah, Anwar bergerilya dengan agendanya sendiri, merebut kursi Perdana Menteri yang bertengger di Putrajaya. Dia konsisten memburu kursi PM.

Rabu (23/9/20) tetiba dia mengumumkan, dirinya menerima dukungan mayoritas anggota parlemen, artinya pemerintahan PN yang dipimpin Muhyiddin telah tumbang.

Dia juga sudah meminta Yang di-Pertuan Agong 16 menerima dirinya dan isterinya Wan Azizah untuk menghadap, tapi ditunda, karena Sultan Abdullah masuk Institut Jantung Nasional dan dirawat di sana.

Politik Malaysia pun gonjang ganjing. Ada yang menilai, Anwar sengaja sedang memainkan siasatnya untuk menghadang seluruh lawan politiknya, termasuk dalam PRN Sabah.

Lim Guan Eng, Sekretaris Jenderal DAP merespon biasa saja pernyataan Anwar dan menyatakan dukungan, tetapi dia mengingatkan, bila PH kembali memerintah, DAP mendukung Anwar. Tetapi, bila ternyata suara mayoritas dukungan kepada Datuk Seri Shafie Apdal -- Presiden Partai Warisan Sabah sebagai calon PM lebih besar, Anwar juga harus memberikan dukungan.

Guan Eng, Rabu (23/9/20) malam, dalam suatu konperensi pers menyatakan, "Kami menyokong Anwar untuk mendapat jumlah itu, tetapi jika beliau tidak mampu, kami perlu memberi Shafie peluang dan penghormatan sewajarnya kepada Perdana Menteri pertama dari Malaysia Timur."

Kontan pernyataan Guan Eng disergah Nurul Izza, puteri Anwar bekas Wakil Ketua PKR, yang mengingatkan Guan Eng untuk fokus memenangkan PRN Sabah, bukan berlomba-lomba melanggar semangat setia kawan.

Akan halnya Mahathir Mohammad yang belum lama ini mendirikan Partai Pejuang, berkomentar ringan saja, "wait and see."

Mahathir mengingatkan, Anwar pernah mengeluarkan pernyataan semacam ini tahun September 2008. "Kita harus tunggu untuk melihat apakah ini episode lain selepas gagal membuktikan klaimnya sebelum ini," kata Mahathir yang populer dipanggil Tun Dr. M, itu.

Presiden UMNO Zahid Hamidi mengatakan dirinya tak bisa menahan anggota parlemen dari partainya bila memberikan dukungan kepada Anwar Ibrahim, karena BN/UMNO bukan pendiri Pakatan Nasional yang sedang memerintah, meskipun kader-kadernya menjadi menteri dalam pemerintahan Muhyiddin Yassin.

Boleh jadi Zahid Hamidi masih kesal, karena Muhyiddin tak bereaksi ketika mahkamah memutuskan hukuman berganda atas mantan Presiden BN/UMNO - PM Malaysia, Najib Razak atas kasus korupsi 1MdB.

Muhyiddin Yassin menyerukan rakyat tenang dan menyatakan dirinya merupakan Perdana Menteri yang sah dan bersama kabinetnya sedang bekerja mengatasi pandemi wabah Covid-19 dan memulihkan ekonomi untuk kepentingan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Presiden PAS Hadi Awang menyatakan, seluruh anggota parlemen PAS mendukung dan berada bersama kepemimpinan Muhyiddin.

Dari Istana Negara keluar informasi, Yang di-Pertuan Agong 16, Sultan Abdullah menunda untuk menerima Anwar Ibrahim dan isterinya, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada PM Muhyiddin, dan berbagai kalangan, termasuk Anwar Ibrahim yang sudah mendoakan dirinya untuk segera pulih dan aktif kembali memimpin negara.

Akan halnya Prof. Dr. Shamrahayu Abdul Azis, pakar konstitusi Malaysia kepada Sinar Harian, mengatakan, hanya Perdana Menteri Muhyiddin Yassin yang layak menghadap Yang di-Pertuan Agung Malaysia untuk menyatakan dirinya masih memperoleh kepercayaan mayoritas dari anggota parlemen atau tidak.

Shamrahayu menyatakan, dengan memaklumatkan dirinya memperoleh mayoritas dukungan untuk menjabat PM, Anwar sudah mengecoh (mengelirukan) orang ramai mengenai peranan Yang di-Pertuan Agong. Dikemukakannya, saat ini Sultan Abdullah tidak berperan dalam menentukan siapa yang memiliki atau hilang kepercayaan atau dukungan mayoritas, karena tidak ada kekosongan jabatan Perdana Menteri.

Yang di-Pertuan Agong, Sultan Abdullah baru menggunakan kekuasaannya untuk melantik anggota parlemen dengan dukungan mayoritas, bila terjadi kekosongan jabatan Perdana Menteri.

Pakar konstitusi Malaysia itu menegaskan, pernyqataan Anwar tentang  perkenan Yang di-Pertuan Agong mengenai kehilangan majoriti atau jatuhnya pemerintaqhan telah mengecoh (mengelirukan) orang ramai dalam konteks peranan Agong, berkaitan Perdana Menteri yang kehilangan kepercayaan mayoritas anggota parlemen. Dia mengingatkan, rakyat jangan keliru memahami, karea Anwar bukan Perdana Menteri.

Dia menyarankan, agar Anwar menggunakan haknya melalui saluran demokrasi di Dewan Rakyat melalui usul mosi tidak percaya terhadap Muhyiddin untuk membuktikan, bahwa anggota parlemen Pagoh, itu memang sudah kehilangan dukungan kepercayaan mayoritas. Hal itu sesuai dengan Pasal 43 (4) Konstitusi Persekutuan Malaysia.

Jika Perdana Menteri tidak mendapat kepercayaan mayoritas anggota Dewan Rakyat, maka dia harus meletakkan jabatan dan kabinetnya atas permintaannya, parlemen dibubarkan, dan PRU - pemilihan umum diselenggarakan. Saat ini, dalam kondisi pandemi wabah Covid-19 dan resesi ekonomi, tidak elok menyelenggarakan PRU.

Dikatakannya, saat ini jabatan Perdana Menteri dan kabinetnya tidak kosong. Dan Anwar tidak berhak memohon kepada Agong, karena dia bukan Perdana Menteri.

Anwar mesti kendalikan ambisinya, bersikap lebih tawakkal, dan tidak mengorbankan rakyat Malaysia untuk kepentingan syahwat politiknya.. |

 

BACA JUGA : Anwar Ibrahim Sang Aktor

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
13 Nov 20, 10:04 WIB | Dilihat : 149
Anies Baswedan dan Kaum Amburadulian
10 Nov 20, 08:35 WIB | Dilihat : 144
Demokrasi Amerika Serikat di Punggung Perempuan
06 Nov 20, 09:03 WIB | Dilihat : 162
Menimbang Biden Melihat Hubungan AS dengan Asia Tenggara
03 Nov 20, 06:37 WIB | Dilihat : 282
Perang Verbal dan Kekerasan
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1548
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1960
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1095
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya