Belajarlah Becermin Sebelum Buli Anies

| dilihat 760

Catatan Bang Sèm

Cyberbullying atau penggunaan media elektronik untuk mengancam dan mempermalukan atau mengecualikan atau menodai reputasi seseorang, termasuk mencerca dan memaki.

Di dalamnya ada pesan penghinaan, baik yang dilakukan persisten atau secara offensif. Termasuk merancang, menggagas, dan menyebarluaskan rumors, sambil menggunakan kata-kata atau kalimat untuk menyerang secara verbal.

Tentu saja, cyberbullying bukan kritik, karena berpangkal pada dengki, hasad, dan hasud. Biasanya yang melakukan hal semacam ini adalah lawan politik. Bisa juga mereka yang merasa kepentingannya terhambat dan terkendala.

Cyberbullying bukan ekspresi kemerdekaan dan semata-mata hanya merupakan luah kebebasan tanpa tanggungjawab, dan merampas hak orang lain untuk berekspresi dan berbuat kebaikan - kebajikan.

Sebagai konsumen media sosial terbesar di dunia, sebagian masyarakat Indonesia yang sering dijuluki netizen, banyak yang terjebak dalam situasi ini. Itulah sebabnya, negeri yang akan memperingati proklamasi kemerdekaannya ke 74 tahun, ini mudah riuh, mudah gaduh.

Anies Baswedan yang sedang menyandang amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta, salah seorang pemimpin kini dan masa depan yang menjadi sasaran cyberbullying. Jadi, tak salah ketika programa siaran Indonesia Lawyers Club (ILC) - tvOne, Selasa, 13 Agustus 2019, mengangkat tema: Anies dalam pusaran bully.

Karni Ilyas dan perancang programa siaran ILC punya kepekaan yang patut dipujikan dari perspektif naluri jurnalis atau media instink.

Yang kemudian menarik dari programa siaran itu adalah ketika separuh narasumber gagal menyelimuti bagasinya sebagai pencerca dan pembuli, karena gagap merumuskan pengertian dan hakekat bully itu sendiri.

Sangat tampak kepandiran mereka yang terbiasa bicara asal cangap atau asal bunyi, dan secara instinktif menghadirkan sosok hasad yang tersembunyi di balik kata-katanya.

Mereka tak cukup punya cara untuk menjelaskan sesuatu secara proporsional dan mengeritik dengan tepat, sebagaimana dicontohkan Bang Yos - mantan Gubernur DKI Jakarta, Yayat Supriatna - ahli tata kota Universitas Trisakti,  dan Eep Saifuloh Fattah - pemimpin Polmark.

Serangan-serangan mereka, pun tak terstruktur sebagaimana Mardani Alisera melakukan 'pembelaan' proporsional terhadap Anies yang menjadi sasaran. Pun tak mampu menganggit momen jenaka yang mengekspresikan kecerdasan sebagaimana tampak pada Ustadz Haekal. Tentu, tak mampu menggunakan logika seringan Rocky Gerung melakukannya, baik dengan cara normal maupun sarkastik.

Sebagai penonton kita beroleh gambaran kongkret, kualitas para pembuli atau pencerca di seantero negeri yang menurut Rocky di-konduktor-i dan di-koordinasi, tentu jauh lebih rendah kualitasnya dari 'representasi' pembuli dan pencerca yang tampil di acara itu.

Anies tampil di penghujung dan pada momen yang pas. Khalayak penonton kontan mendapat pembanding yang nyata -- seperti cuplikan sesi Anies bicara yang segera beredar di media sosial.

Anies menyatakan dirinya tidak dalam posisi menjawab kata-kata dengan kata-kata, melainkan menjawab kata-kata dengan karya-karya. Tugas utama dia memang bukan mengurusi kata-kata pembuli dan pencercanya. Tugas utama dia adalah memenuhi 23 janji politik yang disampaikannya selama kampanya, yang satu-satu dipenuhinya.

Anies juga menjelaskan, bagaimana cara dia bekerja, mulai dari mengolah gagasan, merumuskannya dalam narasi aksi, dan kemudian beraksi dalam karya, tidak untuk sebulan dua bulan atau setahun dua tahun, melainkan lima tahun, alias 60 purnama.

Anies juga mengungkap urut-urutan keperluan utama dalam konteks humanity need warga Jakarta, mulai dari kesehatan, stabilitas harga bahan pokok, dan kebahagiaan warga, sehingga terkoneksi semua esensi sesanti "maju kotanya, bahagia warganya."

Sesanti itu merupakan pendorong semangat bekerja untuk mewujudkan Visi Jakarta 2022, yakni: “Jakarta kota maju, lestari dan berbudaya, yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua.” Inilah visi kota modern yang sesuai dengan prinsip dasar visioneering, karena mengandung ideologi inti, nilai inti, dengan beragam parameter pencapaian (akselerasi).

Khasnya dalam wujudkan fungsi Jakarta, yang sampai saat ini masih menjadi pusat pemerintahan, pusat ekonomi nasional sekaligus penyeimbang dinamika ekonomi regional, pintu gerbang Indonesia dengan dunia global -- meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, budaya -- dan titik gerak pertahanan dan keamanan nasional. Pun, regional, karena Jakarta sekaligus merupakan ibukota ASEAN.

Dalam konteks itu, maka keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua warga Jakarta menjadi fondasi penting dalam pembangunan.

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Jakarta, jelas disajikan secara eksplisit, bahwa pembangunan Jakarta sebagai kota maju, didak hanya berupa pembangunan fisik seperti infrastruktur yang megah serta penggunaan teknologi modern dalam kehidupan sehari-hari, namun juga pembangunan manusia yang mencakup segala upaya perubahan positif untuk memperbaiki kualitas pendidikan, kesehatan, rasa aman, kesejahteraan, dan kebahagiaan semua warga.

Anies dan seluruh aparatus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bekerja dengan pendekatan pembangunan fisik dan manusia yang harus dilingkupi dengan pendekatan pembangunan berwawasan lingkungan, kebudayaan serta keterlibatan masyarakat. Tidak hanya sekedar berpartisipasi, masyarakat menjadi motor penggerak utama pembangunan yang ikut menentukan arah gerak pembangunan Jakarta ke depan.


Dengan perspektif ini, kebijakan pembangunan Jakarta mesti dipahami secara komprehensip. Termasuk, misalnya, logika tata kelola pembangunan sarana transportasi (mulai dari jalan kaki, kendaraan bebas emisi dan kendaraan listrik, kendaraan umum, dan kendaraan pribadi), yang terkoneksi tak hanya dengan ikhtiar menurunkan polusi udara. Melainkan, jauh dari itu, terkorelasi dengan budaya dan keberadaban.

Mengapa Anies dibuli dan dicerca? Selain karena alasan politis, tentu juga karena jauhnya jarak kecerdasan dan budaya antara para pembuli dan pencerca dengan Anies dan aparatus Pemprov DKI Jakarta. Bahkan, belum seluruh aparatus Pemprov DKI Jakarta mempunyai tingkat kecerdasan yang sama, kendati telah beroleh tanda pernah belajar di jenjang akademik, dan bahkan beroleh jabatan akademik tertinggi.

Anies dan jajarannya memang harus teguh pendirian memenuhi janjinya, dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta siasat (strategi) yang sebersih-bersihnya. Bahkan, boleh jadi, dia 'dilarang lelah,' untuk melakukan proses edukasi kepada khalayak (baik warga Jakarta maupun se Indonesia) yang membuli dan mencercanya. Khasnya, ihwal bagaimana mengelola tugas utama Gubernur sekaligus Kepala Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. Terutama, ketika mitra kerja (secara politik) masih sibuk tarik ulur dan bahkan sentak sengor, ihwal siapa yang bakal menjadi mintra fungsional dan proporsionalnya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Anies terbuka dikritik, dan untuk itu pengeritiknya harus cerdas dan mempunyai kecakapan pengetahuan dan keilmuan, meski tak pernah berpengalaman memimpin pemerintahan daerah dan kota.

Anies tak bisa menghalangi orang membuli dan mencerca dirinya, karena ada undang-undang dan penegak hukum yang punya otoritas memberantas para pembuli dan pencerca.

Belajarlah becermin sebelum membuli Anies. Tanya pada orang di cermin: "who are you?" - supaya mau bertanya, "who am I?."  Jangan terlalu sering berkisik, "Why You.. not me.." 

Anies tentu perlu teman, kalangan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga tidak menjadi beban bagi Anies, minimal mampu memberi solusi bagaimana mengurai persoalan yang selama ini menjadi problem generator ibukota Jakarta. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Humaniora
05 Okt 19, 22:25 WIB | Dilihat : 470
Lagu Soldier of Fortune Terdengar Lamat Lamat
12 Sep 19, 09:18 WIB | Dilihat : 1416
BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan
10 Sep 19, 00:10 WIB | Dilihat : 346
Hidup itu sederhana
25 Agt 19, 19:31 WIB | Dilihat : 297
Hantu Drum Roll di Rumah Mompesson
Selanjutnya