Terpicu Kartun Nabi Muhammad dan Kematian Profesor Samuel

Boomerang Radikalisme Menghantam Balik Presiden Macron

| dilihat 154

Tique

Profesor Samuel Paty, 47, guru besar sejarah dan geografi dari sebuah universitas di Conflans-Sainte-Honorine (Yvelines), terjungkal dan tewas di Conflans-Sainte-Honorine pada Jum'at, 16 Oktober 2020.

Polisi menangkap Abdullakh Anzorov, mahasiswa asal Chechnya yang mengaku menyerang guru besar, itu bersama beberapa belia -- berusia 14 - 15 tahun -- yang diajaknya melakukan aksi pembunuhan itu.

Media Perancis mengeksplorasi pemberitaan itu dan langsung memberi stempel, pembunuhan itu dilakukan oleh kelompok teroris islam.

Amat sedikit media yang memberitakan, serangan yang dipimpin Abdullakh Anzorov dan menewaskan Samuel Paty, dipicu oleh aksi guru besar itu memperlihatkan tabloid Charlie Hebdo, yang menampilkan karikatur yang menghina nabi Muhammad SAW di halaman muka.

Aksi sang profesor memantik kemarahan dan dendam pada Abdullakh Anzorov di tengah kemarahan terpendam atas tindakan Charlie Hebdo yang kembali gencar menampilkan karikatur yang menghina nabi Muhammad secara penetratif hipodermis dan membangkitkan gairah kelompok anti islam untuk kembali melecehkan nabi Muhammad dan islam.

November 2015, Charlie Hebdo pernah melakukan hal yang sama, sehingga kantornya diserang sekelompok orang yang mengaku muslim fanatik, dan menewaskan beberapa karyawannya.

Pada masa itu, protes umat islam minoritas di Perancis meluas dan bertumpu di luar kampus Sorbonne Universitè, dan menewaskan beberapa dosen dan mahasiswa. Presiden François Hollande, kala itu (13 November 2015) datang dalam upacara hening cipta selama satu menit.

Setelah itu berdiri Collective Against Islamophobia in France (CCIF) dan Barakacity, lembaga swadaya masyarakat kemanusiaan Islam. Suasana konflik, bahkan friksi sosial berbasis sentimen agama, reda. Bahkan, hampir lima tahun kehidupan damai antar umat beragama mulai bertumbuh. Hanya sekali dua muncul kasus penyerangan atas masjid dan pengurus masjid di salah satu perfektur.

Belakangan, sejak September 2020, Charlie Hebdo gencar kembali memasang karikatur yang melecehkan nabi Muhammad SAW, sehingga komunitas muslim minoritas di Perancis dan berbagai negara Islam di Timur Tengah merespon negatif. Tapi, Macron cuek saja. Akhirnya, tewaslah Samuel.

Presiden Macron spontan bereaksi. Dia langsung mengeluarkan pernyataan, "Dia (profesor itu) dibunuh karena para Islamis menghendaki masa depan kita. Mereka tahu, mereka tak pernah memiliki pahlawan pendiam seperti dia."

Tentang pelecehan yang dilakukan Charlie Hebdo? Macron berkilah, hal itu adalah hak kebebasan yang sudah ada sejak era Republik ketiga. Presiden Turki, Erdogan bereaksi, dan meminta Macron memeriksakan kesehatan mentalnya, karena sikap 'tidak wajar' dia membiarkan Charlie Hebdo melecehkan Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Memuji Samuel, Menyerang Islam

Merespon peristiwa berdarah itu, Macron mengeluarkan pernyataan dan menunjukkan sikap yang mengeneralisasi tindakan Abdullakh itu sebagai aksi terorisme Islam.

Stigmatisasi Macron atas muslim di dunia dan hendak membentuk format baru 'muslim Perancis dengan rencana pembubaran (CCIF), dinilai sejarawan Perancis Dominique Vidal mengamati bahwa Perancis di bawah Macron bergerak hari demi hari ke ekstrem kanan, liberalisme. Menurut Vidal, penyimpangan tersebut terjadi pada tiga tingkatan: retoris, politik dan praktis.

Meski berjanji membuka ruang debat atas islamophobia di masa pemerintahannya, sesungguhnya Macron sedang menutup dialog dan tak memungkinkan terjadinya dialog yang dia omongkan.

Ketika menyampaikan pidato pada penghormatan kematian Samuel, Rabu - 21 Oktober 2020 malam di halaman kampus Sorbonne, mengulang apa yang pernah terjadi November 2015, Macron menyebut guru besar, itu sebagai wajah Republik (Perancis).

Dalam pidatonya malam itu, Macron menyatakan, perjuangan melawan politik radikalisme islam yang mengarah kepada terorisme yang jahat. Dia mengatakan,  tidak akan berbicara tentang prosesi teroris, kaki tangan mereka dan semua pengecut yang melakukan serangan itu terjadi.

"Saya tidak akan berbicara tentang mereka, orang barbar. Malam ini, saya tidak akan berbicara lebih banyak tentang persatuan esensial yang dirasakan semua orang Perancis, untuk berbicara dengan baik dan bertindak sesuai permintaan. Tidak!" kata Macron.

"Malam ini, saya ingin berbicara tentang putra Anda, saya ingin berbicara tentang saudara laki-laki Anda, paman Anda, orang yang Anda cintai, ayah Anda. Malam ini saya ingin berbicara tentang rekan Anda, guru Anda yang tersungkur karena dia memilih untuk mengajar, dibunuh karena dia memutuskan untuk mengajar murid-muridnya menjadi warga negara. Mempelajari pekerjaan rumah untuk menyelesaikannya. Mempelajari kebebasan untuk melatihnya. Malam ini saya ingin berbicara dengan Anda tentang Samuel Paty," lanjut Macron.

Macron memuji, "Samuel Paty menyukai buku, pengetahuan, lebih dari apapun. Apartemennya adalah perpustakaan. Hadiah terbaiknya, buku untuk belajar. Dia suka buku untuk ditransmisikan kepada murid-muridnya dan juga kerabatnya, hasrat akan pengetahuan, rasa kebebasan."

Macron mengemukakan, mengapa peringatan dilakukan di halaman kampus Sorbonne. Karena menuruitnya, Samuel Pay, "Setelah mempelajari sejarah di Lyon dan mempertimbangkan untuk menjadi seorang peneliti, dia telah mengambil jalan yang diikuti oleh Anda, orang tuanya, guru dan kepala sekolah di Moulins, dengan menjadi “peneliti dalam pedagogi” seperti yang dia suka untuk mendefinisikan dirinya sendiri, dengan menjadi seorang guru. Jadi tidak ada tempat yang lebih baik daripada Sorbonne, tempat pengetahuan universal kami selama lebih dari delapan abad, tempat humanisme, bagi bangsa untuk memberikan penghormatan ini kepadanya."

Pada bagian lain pidatonya, Macron mengemukakan: "Jadi mengapa Samuel dibunuh? Kenapa? Jumat malam, pertama-tama saya percaya pada kegilaan sembarangan, kesewenang-wenangan yang tidak masuk akal: satu lagi korban terorisme serampangan. Bagaimanapun, dia bukanlah target utama para Islamis, dia hanya mengajar. Dia bukanlah musuh agama yang mereka gunakan, dia telah membaca Alquran, dia menghormati murid-muridnya, apapun keyakinan mereka, dia tertarik dengan peradaban Muslim."

Macron juga menegaskan, "Samuel Paty dibunuh karena semua itu. Karena ia mewujudkan Republik yang terlahir kembali setiap hari di ruang kelas, kebebasan yang ditularkan dan diabadikan di sekolah."

Menurut Macron, "Samuel Paty dibunuh karena Islam menginginkan masa depan kita dan mereka tahu bahwa dengan pahlawan pendiam seperti dia mereka tidak akan pernah memilikinya. Mereka memisahkan orang beriman dari orang kafir. Samuel Paty hanya mengenal warga negara. Mereka memakan ketidaktahuan. Dia percaya untuk mengetahuinya. Mereka menumbuhkan kebencian terhadap orang lain. Dia terus-menerus ingin melihat wajahnya, menemukan kekayaan keanehan."

"Samuel Paty adalah korban dari konspirasi fatal dari kebodohan, kebohongan, penggabungan, kebencian terhadap yang lain, kebencian terhadap apa, secara mendalam, eksistensial, kita," lanjut Macron.

Lantang, Macron menyatakan, "Samuel Paty pada hari Jumat menjadi wajah Republik, keinginan kami untuk menghancurkan teroris, untuk mereduksi Islamis, untuk hidup sebagai komunitas warga negara bebas di negara kami, wajah dari tekad kami untuk memahami, untuk belajar, untuk terus 'untuk mengajar, untuk bebas, karena kami akan melanjutkan, guru."

Dia juga menyatakan, "Kami akan membela kebebasan yang Anda ajarkan dengan baik dan kami akan menjunjung tinggi sekularisme. Kami tidak akan melepaskan karikatur, gambar, bahkan jika yang lain mundur. Kami akan menawarkan semua kemungkinan bahwa Republik berhutang kepada semua pemuda tanpa diskriminasi apapun."

Aksi Boikot Negara Muslim

Pernyataan dan kebijakan Macron menghasilkan efek boomerang secara internasional, banyak pengamat Perancis memperkirakan, dampaknya adalah, pamor Macron di dalam negeri bakal terus merosot, hingga teruk. Bahkan lebih parah dibandingkan dengan apa yang pernah dialami oleh Presiden Sarkozi di penghujung kekuasaannya tahun 2012.

Alih-alih mencari tahu sebab musabab terjadinya peristiwa, itu dan mencari solusi yang damai, Macron malah menggunakan kata-kata pongah bahwa peristiwa itu bagian dari rencana aksi kaum radikal Islam minoritas.

Aurelien Tache, anggota parlemen dari partai Macron mengungkapkan keraguannya atas pendekatan yang dilakukan Macron. Tache menyatakan, dengan pendekatan Macron, ektrimisme Islam yang sangat kecil tak akan hilang, bahkan akan memperkuat ekstremisme lainnya - ekstrem kanan alias ekstrimitas golongan konservatif di Perancis."

Reaksi pun berkembang di berbagai negara, melalui aksi unjuk rasa. Selain di Turki, juga berlangsung di Al Jazair, Kuwait, Lebanon, dan lain-lain. Reaksi internasional lainnya berkembang secara bertahap. Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengkritik keras Macron. Khan menganggap, "pernyataan publik yang didasarkan oleh ketidaktahuan Macron akan menciptakan lebih banyak kebencian, Islamofobia, dan ruang bagi kaum ekstremis."

Kuwait, bahkan bertindak lebih awal, memboikot seluruh produk Perancis di negara itu. Seruan boikot menyebar ke seluruh Dunia Muslim. Supermarket di Kuwait, Qatar, Jordan sudah mengosongkan gerainya dari produk Perancis. Pemerintah Perancis cemas dengan gerakan ini.

Macron tidak merespon positif reaksi yang dikemukakan para pemimpin negara-negara muslim yang menyerukan aksi boikot atas produk Perancis di masing-masing negara. Dia malah menuduh para pemboikot sebagai bagian dari 'minoritas radikal'. Perilaku merendahkan itu memperburuk perasaan negatif terhadap Perancis dan merugikan ekspor Perancis di saat resesi global.

Ketika kemudian Macron berbalik arah karena gencarnya serangan, dia terperosok dalam jebakan fantasinya, berselimut libertè - kebebasan yang sudah hidup sejak fase 'Republik Ketiga.'  Macron, lantas menjadi  Presiden Perancis yang paling tidak populer sepanjang sejarah.

Di dalam negeri reaksi negatif rakyat sudah mengemuka, sejak Juli 2020 lalu, ketika Macron melakukan reshuffle kabinet. Lantas memasukkan konco-konconya ke dalam senarai menteri. Khasnya, ketika dia memasukkan Gérald Darmanin sebagai Menteri Dalam Negeri. Aksi demonstrasi berlangsung di beberapa perfektur, karena Darmanin pernah terjebak dalam  kasus pelecehan seksual.

Di tengah situasi gaduh menyusul kematian Samuel dan protes atas kelakuan binal kaum anti islam di balik tabloid Hebdo Charlie yang kerap menampilkan kartun satir nabi Muhammad, Menteri Dalam Negeri Darmanin mengeluarkan pernyataan, akan membubarkan Collective Against Islamophobia in France (CCIF). Lembaga swadaya masyarakat, itu dibentuk selepas meletup kasus penyerangan terhadap kantor Hebdo Charlie.

Kabinet Macron yang dijuluki 'lemari pakaian' yang mencampur pakaian bersih dan pakaian kotor, tak berkutik menghadapi Macron dan para konco-konconya yang kian menjadikan kekuasaan yang berpusat di Istana Elysee justru 'mencekik' seluruh program untuk membangkitkan kembali peradaban Perancis yang ramah kemanusiaan.

Kepemimpinan Macron Terburuk

Menurut Tarek Cherkaoui, pernyataan dan aksi Macron hanya untuk kepentingan politik sesaat. Ahli komunikasi strategis, yang penulis buku "The News Media at War: The Clash of Western and Arab Networks in the Middle East," ini (TRT World, Senin, 26 Oktober 2020) ini, mengemukakan (Senin, 26 Oktober 2020), sikap islamophobia -- ketakutan berlebihan terhadap Islam  secara berlebihan -- sengaja dipergunakan Emmanuel Macron untuk mendongkrak popularitasnya yang makin teruk, melorot tajam.

Ekspresi radikal Macron terpantik pula oleh kekuatirannya tidak terpilih kembali secara berlebihan, karena dia telah gagal dalam mengatasi berbagai persoalan utama yang sedang dihadapi rakyat Perancis saat ini.

Dengan meletupkan sikap islamophobia, yang diidap oleh sebagian kecil rakyat Perancis, Macron yang mengidap gejala kejiwaan oedipus complex, itu berharap, rakyat dari masyarakat Perancis akan fokus pada masalah lain.

Macron diprediksi bakal terjungkal dalam pemilihan presiden Perancis mendatang. Jajak pendapat IPSOS, September 2020, mengungkapkan bahwa rakyat Perancis ragu pada kepemimpinan dirinya.

78 persen responden mengatakan bahwa Perancisa akan sulit bangkit dan bakal terus merosot di bawah kepemimpinan Macron. 27 persen responden lain menyatakan, kemerosotan Perancis tersebut sulit diubah.

Macron gagal membangun kepercayaan rakyat dan kian menunjukkan kepandirannya dalam melayani rakyat, yang sedang secara individual sedang fokus menghadapi pandemi nanomonster Covid-19, menurunnya daya beli akibat resesi ekonomi, dan buramnya masa depan, karena sistem jaminan sosial yang tidak terkelola dengan baik.

Rakyat Perancis memandang, pemerintah di bawah kepemimpinan presiden Macron sangat buruk dalam menangani ketiga masalah utama kehidupan mereka saat ini.

Macron gagal mengambil keputusan yang diperlukan untuk melindungi negara sejak tahap awal pandemi. Pemerintahnya melakukan kelalaian kriminalis ketika kepada rakyat Perancis, dia mengatakan tidak perlu memakai pelitup (masker). Akibatnya, Perancis merupakan salah satu negara di dunia, yang teruk dan tak berdaya menghadapi serangan pandemi pada fase awal.

Di sisi lain, kebijakan ekonomi Macron telah membawa Perancis ke moda resesi buruk, dengan kemerosotan pertumbuhan terburuk sepanjang sejarah. Apalagi, kebijakan Macron juga menggoyahkan jaminan sosial Perancis demi agenda neoliberalnya, yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai dasar Perancis: sosialisme populis.

Boomerang radikalisme yang dibalingnya sedang berbalik arah menghantam dirinya.

Hari-hari ini, boleh jadi Presiden Perancis Emmanuel Macron (39), tak lagi bisa menikmati hari-hari senggangnya mencumbui Brigitte Macron (64) isteri yang lain sebagai ibunya.

Macron, lelaki dengan oedipus complex, yang menyunting istri 25 tahun lebih tua terkesan sedang menunjukkan kondisi psikisnya, yang cenderung emosional mudah memantik ketegangan dan kegaduhan, dan mudah mengeksplorasi kebencian datau kesukaan 'tersembunyi' secara berlebihan. Kondisi psikis yang mencerminkan watak mereka yang mengalami oedipus complex, seperti pernah dikemukakan Guy Corneau, dalam Le Complex D'Oedipe Ou Le Conflit Oedipien.|

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 172
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 155
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 213
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 345
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 385
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1298
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2179
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya