Drama Politik Malaysia Kaya Lakonan

| dilihat 134

Catatan Bang Sém

Akibat ambisi politik yang senang bertarung kapan saja untuk kepentingan politik yang berjarak dengan kepentingan rakyat, 12,6 juta rakyat Malaysia atau sepertiga total rakyat yang berada di empat negeri dan wilayah, mulai menjalani isolasi diri alias 'tahanan rumah.' Stay at home, work from home.

Para istri mulai beroleh lagi haknya untuk tahu suaminya di mana dan sedang bagaimana. Anak-anak beroleh kembali haknya untuk tahu, ayah dan ibunya di mana, sedang bagaimana, dan mengamati langsung perilaku keduanya.

Seorang sahabat memposting di laman whatsapp group (WAG) dengan disertai kalimat, "impak ekonomi dan psikologi menakutkan sekali."

Para saudara dan sahabat di Malaysia, memang sedang menikmati kehidupan laiknya naik jet coaster.

Sejak September lalu. para politisi sedang beraksi di panggungnya, memainkan drama yang campur baru genrenya. Kadang lakonan komedi, kadang lakonan drama gaya bollywood atau telenovela, kadang lakonan a la bangsawan di masa lalu. Sekali-sekala lakonan gaya absurd model teater modern.

Sayang, pelakonnya hanya itu-itu saja. Aktingnya begitu-begitu saja. Aktor paling kerap memainkan lakon monolog adalah Dato Seri Anwar Ibrahim (DSAI).

Lakonnya, bilangan dukungan anggota Dewan Rakyat, sehingga dia yakini, dirinya kini beroleh bilangan melebihi dua pertiga anggota, sehingga beroleh mayoritas kukuh (baca: kuat), yang dengan sendirinya, menurut pernyataan monolognya, pemerintahan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin dah tumbang.

Dengan bilangan yang rahasia dan misterius -- karena harus dirahasiakannya -- dia menghadap Yang Di-Pertuan Agong Al Sultan Abdullah (Selasa, 13 Oktober 2020). Dia menyampaikan bilangan tanpa senarai siapa saja yang memberi bilangan dukungan baru kepadanya. (baca: Sultan Abdullah Nasihati Anwar Ibrahim Hormati Konstitusi)

Selepas itu, kepada khalayak ramai, melalui jumpa media, DSAI sampaikan kabar sukacita bagi dirinya dan para pendukungnya. Menurut cerita monolognya, Sultan sudah menerima dan akan menyimak senarai anggota Dewan Rakyat dan akan memanggil ke Istana para ketua partai, untuk mengesahkan kesahihan senarai itu.

Sela setengah jam kemudian, dari Istana Negara tersiar kabar, Sultan Abdullah yang arif dan bijaksana, menerima baik DSAI yang menemuinya selama 25 menit. Kabar yang tersiar dari istana juga membagitahu rakyat via media, DSAI tak menyerahkan dokumen apapun yang diklaim dan dikatakan kepada khalayak, melalui media.

Sultan, menurut kabar, itu lebih banyak menasihati DSAI supaya akur-akur saja dengan kawan dan lawan politik dan patuh kepada undang-undang, sesuai konstitusi.

Kemudian, Sultan menyampaikan nasihat untuk rakyat, agar jaga diri dari serangan nanomonster Covid-19.

13 adalah bilangan keberuntungan untuk Tun Baidhawi Abdullah atawa Pak Lah, Perdana Menteri pengganti Tun Mahathir Mohammad setelah 20 tahun berkuasa. DSAI diterima pada tarikh 13, yang tentu bukan bilangan keberuntungannya.

Lakonan yang dimainkan secara monolog oleh DSAI boleh menghibur Sultan yang kembali menjalankan aktivitasnya sebagai Kepala Negara, setelah beberapa hari dirawat di hospital. Juga penghiburan bagi rakyat yang sedang dihimpit was-was atawa khawatir karena tekanan nanomonster Covid-19.

Lakonan drama monolog DSAI boleh berubah menjadi lakonan komedi, ketika bersama Mat Sabu - Presiden Partai Amanah Nasional, yang memang senang menghibur dengan senda gurauannya.

Ketika bersama dengan Lim Guan Eng atau Lim Kit Siang dari Democratic Action Party (DAP), DSAI boleh memilih beragam lakonan. Boleh drama genre zaju yang berkembang di masa dinasti Yuan. Boleh juga mengambil lakonan bertajuk Tao Hua Shan karya Kong Shangren yang berkisah ihwal perasaan perubahan melalui perpisahan dan penyatuan kembali dua kekasih.

Terutama ketika DSAI membaca dengan jernih pernyataan media Sekretaris Jendral UMNO (United Malays Melayu Bersatu) butir 1, "UMNO membuat pertimbangan untuk menarik diri dari menyokong Perikatan Nasional dan akan memberi syarat baharu kepada kerajaan Perikatan Nasional bagi meneruskan kerjasama politik, secara perjanjian bertulis untuk dilaksanakan sedapat mungkin."

Pernyataan media Sekretaris Jendral UMNO itu, bak senyawa H2C (harap harap cemas) bagi DSAI. UMNO masuk ke panggung drama politik bangsawan dengan membawa skrip sendiri. Sekaligus memain-mainkan mufakat koalisinya dengan Partai al Islam se Malaysia (PAS) dalam Muafakat Nasional, yang hendak resmi didaftarkan sebagai koalisi.

DAP barangkali akan bawa skrip juga kepada DSAI, seperti lakonan karya Cao Yu bertajuk Lei Yu atau Badai Petir. Lakonan i ni luar biasa, karena lagu-lagunya juga populer dan dinyanyikan hampir seluruh rakyat di daratan Tiongkok.

Bila DSAI menjamin akan memainkan lakonan Tao Hua Shan dan mengubah skrip lakonan Lei Yu, sesuai pernyataannya, bertungkus lumus dengan melayu dan muslim tanpa menghilangkan hak warga negara etnis dan agama lain, boleh jadi Muafakat Nasional bisa berkongsi.  Tapi, tak mudah bagi DSAI memikat hati PAS yang sudah dicumbunya kala masih berada dalam Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), sampai kemudian dia hengkang ke UMNO.

Boleh jadi Ahmad Zahid Hamidi yang garis alisnya sering mirip dengan garis alis DSAI, boleh bersepakat dan berkongsi dengan DSAI dan Mat Sabu, kemudian membina koalisi baru Pariku (Pakatan Rindu Kuasa). Lalu melepas Lim Kit Siang dan Lim Guan Eng membawa DAP membuat lakonan sendiri.

Tetapi, tidakkah ia memperhitungkan Tun Mahathir Mohammad (Partai Pejuang) yang akan memainkan lakonan "Grandpa chatty in our homes" yang sangat mungkin berkongsi dengan Tuan Guru Hadi Awang yang amat piawai bersiasah. Lewat Tuan Guru, sangat mungkin akan terjadi islah antara Tun dengan Tan Sri Muhyiddin.

Bila hal ini yang terjadi, dan berhasil pula menjemput Shafie Apdal - Warisan masuk ke dalam koalisi, lakonan di panggung politik Malaysia akan lebih seru, mengujakan.

Drama politik Malaysia kaya lakonan, kaya aktor dan aktris. Karenanya perlu penulis skrip yang visioner, terutama untuk menuliskan lakonan drama serial dengan beragam genre, format, dan formula.

Supaya Yang Di-Pertuan Agong, para Sultan Negeri, dan rakyat senang, tidak sekadar menonton, karena mampu mewujudkan cita-cita Malaysia Selesa dan Bahagia, perlu melakukan perubahan minda, preposisi dari story oriented ke audience oriented. Masing-masing partai dan aktor politik wajib mengenali siapa rakyatnya, apa saja minat - hasrat - kepentingan mereka, kemudian menuliskan skrip dengan penuh pemahaman, sehingga lakonan menjadi sungguh diminati.

Bila semua proses itu sudah dilakukan, sila melakukan marketing secara integrated dan agresif untuk beroleh pendukung dan kader partai yang sungguh loyal. Muaranya adalah membawa Malaysia lebih maju dari sekarang, dengan sentiasa memberi kemanfaatan sangat luas kepada rakyat melalui pertumbuhan ekonomi, keadilan, dan kesejahteraan yang berkelanjutan (sustainable growth).

Jangan pula lupa harus disiapkan kaderisasi yang matang. Fase sekarang mirip dengan fase ketika Tun Mahathir serahkan jabatan Perdana Menteri kepada Pak Lah. Kini dari Tun Mahathir kepada Tan Sri Muhyiddin via Sultan.

Kelak boleh disiapkan para calon pemimpin baru untuk memikul tanggungjawab baru. Ada Hishamuddin Hussein, Shafie Afdal, Mukhriz Mahathir, Khairy Jamaluddin, Nurul Izza, Bung Mochtar Radin, Masdzee Malik, Azmin Ali, Azalina binti Othman Said, yang harus diseleksi secara ketat melalui proses assesment kepemimpinan yang betul.

Merekalah yang bertugas dan berkewajiban melakukan political trust improvement dari rakyat, fit in political infrastructure, sharpening political platform and program, dan sustainable political performance, melalui government action yang membahagiakan rakyat, membangun future strategic coalition melalui pemerintahan yang adil, bersih, cakap, dan terbukti mampu melakukan good governance di seluruh aspek kehidupan rakyat.

Jadikanlah momentum kali ini, momentum penghabisan para pemalu (pemain masa lalu - past players) menyudahi lakonan. Lupakan jalan reformasi - perubahan yang melelahkan, lakukan transformasi - perubahan dramatik. Di banyak negara yang memilih jalan reformasiu, hanya Lech Walesa yang mampu merumuskan dan mengendalikan reformasi secara benar. Para reformis boleh mengganti cita-cita hanya sebagai guru bangsa yang sangat mulia dan terhormat.

Hindari kemungkinan rakyat berteriak: Adis! Politik bikin puyeng ! |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 95
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 123
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 03:42 WIB | Dilihat : 90
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 100
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Okt 20, 09:24 WIB | Dilihat : 125
Serangan Cinta dari Utara
06 Okt 20, 11:37 WIB | Dilihat : 309
Warkah Pelangi di Ujung Cakrawala
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 394
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 455
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
Selanjutnya