Sarasehan Kebangsaan 2 Syarikat Islam

La Nyalla Terus Pelihara Nyala Bara Kesadaran Kebangsaan

| dilihat 350

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, La Nyalla Mahmud Mattalitti berdiri di panggung Sarasehan Kebangsaan 2 Syarikat Islam, Ahad (14/8/22) di halaman kantor Sekretariat Jendral Syarikat Islam, Jalan Taman Amir Hamzah No.4 - Menteng, Jakarta Pusat.

Bersama KH Solahul Aam Wahib Wahab (Gus Aam), putera Allahyarham KH Wahab Chasbullah - salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (yang juga mantan pemimpin Syarikat Islam afdeling Makkah).

La Nyalla diangkat sebagai Wakil Ketua Majelis Penasihat Syarikat Islam oleh Presiden DPP SI Hamdan Zoelva. Akan halnya Gus Aam diangkat sebagai anggota Majelis Penasehat DPP SI.

Selepas itu, La Nyalla menyampaikan pidato sebagai Keynote Speaker Sarasehan Kebangsaan 2 SI, tersebut. Ia menyebut sekilas pertemuannya dengan Presiden Jokowi beberapa waktu berselang untuk membicarakan kondisi mutakhir bangsa.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan sarasehan tersebut, yang diharapkannya, paling tidak, menghidupkan kembali semangat perjuangan menegakkan prinsip-prinsip dan desain dasar kebangsaan Republik Indonesia, yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

La Nyalla membangkitkan kembali kesadaran sekaligus ingatan historis khalayak yang hadir pada sarasehan yang menampilkan pembicara ahli hukum tata negara Refly Harun, ekonom Indonesia - Faisal Basri, dan pemikir kebangsaan Rocky Gerung, yang dipandu cucu Haji Agus Salim, Agustanzil Sjahroezah (Ibong) - Wakil Presiden DPP SI.

Menurut La Nyalla, untuk mewujudkan kemerdekaan sejati, bangsa ini mesti kembali ke Undang Undang Dasar 1945 (yang disahkan pada 18 Agustus 1945).

Konstitusi yang merupakan hasil pemikiran para pejuang kemerdekaan bangsa yang murni, dan sungguh ditujukan bagi kepentingan utama: tegaknya keadilan sosial, mewujudkan kecerdasan bangsa, dan kesejahteraan rakyat. 

Pembukaan, batang tubuh dan penjelasan UUD 1945 (asli) tersebut tidak terlahir sekejap. Ada proses panjang pergulatan pemikiran dan aksi perjuangan kemerdekaan di sebaliknya. Paling tidak, sejak 16 Juni 1916, ketika Yang Utama HOS Tjokroaminoto - pendiri SI menyampaikan pidato bertajuk Zelfbestuur (berpemerintahan sendiri).

La Nyalla mengutip pidato HOS Tjokroaminoto hampir empat belas windu lampau, di Societat Concorde (kini, Gedung Merdeka) Bandung, yang disimak ribuan rakyat dan umat, kaum SI, itu.

“Orang semakin lama semakin merasakan, baik di Nederland maupun di Hindia, bahwa zelfbestuur sungguh diperlukan. Orang semakin lama semakin merasakan, bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan seorang tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya!”

Pikiran-pikiran HOS Tjokroaminoto masih relevan hingga kini. La Nyalla meyakini, pikiran-pikiran tersebut akan terus menjadi semangat kaum SI. Secara bergotong royong, ungkap La Nyalla, mesti dibangunkan kesadaran kebangsaan secara kolektif, agar kita kosisten dan konsisten menyelenggarakan pemerintahan sesuai dengan cita-cita para pendiri negara ini.

La Nyalla tampak menarik nafas sesaat. Lalu menyatakan, "UUD45 naskah asli sudah diubah total sejak perubahan atau amandemen tahun 1999 hingga 2002 silam. Sejak saat itu konstitusi yang berlaku adalah UUD2002, yang tidak lagi  memiliki penjelaskan terkait Pasal 33, yang kalimatnya tidak karuan dari segi tata bahasa.."

Penjelasan Pasal 33 UUD 1945 dalam naskah asli tersebut, menurut La Nyalla, sangat terang benderang, bahwa perekonomian nasional berorientasi kepada kesejahteraan rakyat.

Pasal 33 tersebut mengatur tentang demokrasi ekonomi, mengutamakan kemakmuran masyarakat, kemakmuran semua orang, bukan kekayaan orang perorang.

"Bumi air dan kekayaan alam dalam bumi Indonesia adalah yang harus dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," tegas La Nyalla.

Dia memberi aksentuasi, "Pikiran para pendiri bangsa ini jelas. Indonesia adalah negara kesejahteraan. Perekonomian nasionalnya disusun, didesain dengan bleid, aturan. Bukan tersusun  dengan kebijakan yang bergantung kepada mekanisme pasar."

Saya menangkap kesan 'membara' dari nyala kebangsaan La Nyalla yang terpelihara. Terutama, ketika dia secara aksentuatif menyatakan seruan kesadaran kebangsaan untuk mewujudkan pesan tersurat dan tersirat dalam Pasal 33 UUD 1945 naskah asli dan penjelasannya.

"Jangan sampai potensi ekonomi nasional itu dirampok oleh bukan orang Indonesia asli dengan intervensi non militer," ungkapnya.

Kemudian La Nyalla mengemukakan, penjelasan UUD 1945 naskah asli, yang sangat terang benderang menjelaskan bagaimana mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional negara ini resmi dihapus total sejak tahun 2002.

Menurutnya, bila hari ini kita melakukan refleksi 77 tahun Indonesia merdeka, berpijak pada Proklamasi 17 Agustus 1945, sudah tidak nyambung lagi. Karena nilai perjanjian luhur bangsa Indonesia dan nilai Proklamasi sebagai suatu kelahiran baru suatu negara sudah dihapuskan.

La Nyalla yang belakangan hari menghadirkan sosoknya sebagai pemimpin  lembaga struktural negara yang tak henti menyalakan bara semangat semangat kebangsaan menuju kemerdekaan sejati berbasis kedaulatan politik, sosial, dan ekonomi, mewanti-wanti: "Saat ini bangsa Indonesia sedang dalam proses 'pencaplokan' oleh bukan orang Indonesia asli, dan mereka ingin menguasai tiga sektor kunci. Yaitu sistem politik, perekonomian dan menguasai Presiden atau Wakil Presidennya."

Ia menggambarkan, bila kita tak sadar terhadap realitas saat ini, rakyat akan tersingkir menjadi warga kelas bawah yang tidak kompeten dan tidak mampu bersaing. Katarstrop kemiskinan struktural dan kultural lah yang akan sengaja dilanggengkan

Oleh karena itu, LaNyalla mengajak semua elemen bangsa untuk kembali kepada UUD 1945 naskah asli yang disusun oleh para pendiri bangsa. "Kita kembalikan dulu ke naskah asli, sesudah itu baru kita sempurnakan melalui adendum yang sesuai dengan perkembangan zaman," tegasnya.

Hal itu perlu dilakukan agar desain dasar kebangsaan terus menjadi pegangan, terutama Pancasila sebagai staats fundamental norm. Agar Indonesia kembali dengan sistemnya sendiri, seperti diucapkan oleh HOS Tjokroaminoto dalam Zelfbestuur.

Pernyataan La Nyalla tersebut, selaras dengan sikap dan pandangan Syarikat Islam, untuk kembali ke garis azimuth kebangsaan. Tegas ia mengajak untuk seluruh elemen dan eksponen bangsa kembali ke sistem yang paling cocok dengan watak bangsa yang super majemuk, bangsa kepulauan yang disatukan oleh lautan.

La Nyalla mengingatkan, "Pilihan kita berbangsa tinggal dua, yaitu : tunduk pada oligarki yang menguasai sumberdaya ekonomi, atau menegakkan kedaulatan rakyat sesuai amanat konstitusi."

Rocky Gerung menyebut, bara semangat dan pikiran kebangsaan yang sehat, senantiasa menyala di kepala dan hati La Nyalla. | Bang Sém

Editor : delanova
 
Humaniora
06 Des 22, 14:02 WIB | Dilihat : 164
Mengeja Ferry Mursyidan Baldan
06 Des 22, 12:17 WIB | Dilihat : 23
In Memoriam Ferry Mursyidan Baldan
11 Nov 22, 22:45 WIB | Dilihat : 198
Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya