Pemakaman Presiden RI ke 3 Prof. Dr. Ing. BJ Habibie

Menghantar Bapak Demokrasi, Mengenang SU MPR 1999

| dilihat 1339

RABU, 12 September 2019 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Matahari Jakarta memancar terang dan agak menyengat. Proses pemakaman Bapak Prof. Dr. Ing Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie), masih dalam persiapan, tetapi beberapa tenda untuk tamu - khasnya kalangan petinggi pemerintahan, nyaris sudah penuh terisi.

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Wan Azizah Wan Ismail didampingi Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Bakar melangkah menuju lokasi upacara, disertai sejumlah staf. Sejumlah Duta Besar dan korps diplomatik dari berbagai negara juga melangkah ke arah yang sama.

Juga Ketua MPR Zulkifli Hasan dan para wakilnya, Osman Sapta dan Muhaimin Iskandar.

Tak lama kemudian, terlihat Ibu Sinta Nuriah Abdurrachman Wahid juga menuju ke lokasi yang sama, disusul Presiden RI V - Megawati Soekarnoputri dan rombongan. Lantas terlihat Edhie Baskoro Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono, masing-masing bersama istri.

Kemudian Presiden RI VI, Susilo Bambang Yudhoyono berjalan berdampingan dengan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla disertai sejumlah petinggi.

Lalu, Menteri Perindustrian/Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Ibrahim bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita. Menteri Energi Sumberdaya Mineral Ignasius Jonan, juga terlihat bergegas di antara rombongan. Setelahnya, Gubernur Jakarta Anies Baswedan, disusul Menko Maritim Luhut B. Panjaitan.

Tak berapa lama, dalam suasana syahdu, jenazah Presiden RI III, Prof. Dr. Ing. Bacharudin Jusuf Habibie, diiringi Presiden Joko Widodo - yang menjadi Inspektur Upacara, Ilham Habibie dan Tareq Habibie bersama keluarga besar mendiang Bapak Demokrasi Indonesia, itu.

Di sana sini, juga saya lihat para mantan menteri dan petinggi negeri, termasuk mantan anggota parlemen, berada di tengah ribuan pelayat yang menghantar allahyarham ke peristirahatannya terakhir, di sebelah pusara mendiang isterinya, allahyarham Ainun Habibie.

Saya berada di antara sejumlah kalangan, mantan anggota parlemen, yang menjadi pelaku sekaligus saksi sejarah Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 20 Oktober 1999, yang melantik Abdurrachman Wahid sebagai Presiden RI keempat dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pemakaman yang khidmat, itu ditutup pidato Ilham Habibie atas nama keluarga, yang memberi artikulasi pada esensi cinta mendiang Presiden RI III, baik cinta kepada Ibu Ainun Habibie, anak-anak, menantu dan keluarganya, cinta kepada tanah air, negara dan bangsa, hingga cinta kepada sains, teknologi, dan perdamaian dunia. Pun segala ikhtiarnya dalam membuka ruang demokrasi yang nyata bagi Indonesia, yang menurut Presiden Joko Widodo, kini kita nikmati.

Pesona demokrasi macam bagaimana yang dikuak ruangnya oleh allahyarham BJ Habibie?  Dua pelaku sekaligus saksi sejarah Sidang Umum MPR 1999, itu masing-masing Sofhian Mille dan Ferry Mursidan Baldan, sama menyebut: demokrasi untuk mencapai harmoni kebangsaan, dengan segala dinamika dan prosesnya.

Ferry menyebut, allahyarham BJ Habibie, sosok demokrat sejati dan pionir praktik demokrasi yang sesungguhnya.

"Beliau memberi ruang kepada bangsa ini untuk melihat politik sebagai seni dan merupakan ekspresi peradaban suatu bangsa. Sikap demokratis beliau menjadi teladan luar biasa dalam  mempraktikan demokrasi tak hanya sebagai ruang kebebasan semata. Melainkan ruang pencarian nilai peradaban yang akan terus berproses," ungkap Menteri Agraria dan Tata Ruang (2014-2016) itu.

"Beliau mengelola demokrasi dengan riang, tanpa dendam, cepat move on, dan tidak mengutamakan kekuasaan. Melainkan menjadi kekuasaan sebagai cara berkhidmat kepada bangsa. Beliau tidak ngoyo dan ngotot berburu kekuasaan, dan jabatan bukan segala-galanya. Yang segala-galanya bagi beliau ada rakyat dan bangsanya," ungkap Ferry.

Menurut Ferry, apa yang terjadi dalam SU MPR yang sebagian anggotanya menolak laporan pertanggungjawabannya, adalah sejarah yang tak boleh dilupakan sebagai peristiwa politik ketika bangsa ini masih gagap mempraktikan demokrasi. Ada yang menampakkan kematangan budaya, ada juga yang baru sekadar mengekspresikan kebebasan dengan mengabaikan nilai budaya bangsa yang, konon, santun ini.

Allahyarham BJ Habibie, tak mau melanjutkan pencalonannya dalam pemilihan Presiden di Sidang Umum MPR, itu karena pertanggungjawabannya ditolak sebagian anggota.

"Rayuan agar beliau terus maju, beliau tolak dengan senyum," ujar Ferry lagi. Kala itu Ferry, anggota DPR/MPR dari Fraksi Golongan Karya (Golkar).

"Padahal," menurut Sofhian Mile, selisih suara antara yang menerima dan menolak pertanggungjawaban itu, kalau tak salah, kurang lebih enam belas suara saja.

Sofhian dan Ferry hanya tersenyum ketika dihadapkan dengan logika, pada saat itu, suara Fraksi Golkar tidak solid. Keduanya juga hanya tersenyum, ketika dihadapkan dengan pertanyaan tentang kemungkinan terjadinya pengkhianatan. Padahal, kala itu allahyarham BJ Habibie merupakan Ketua Dewan Pembina Golkar.

Kenangan Sidang Umum MPR 1999

Sofhian Mile bercerita, kala itu sudah dua hari Sidang Umum MPR berlangsung. "Allahyarham Pak AA Baramuli mengajak kami -- beberapa orang -- berkunjung ke kediaman Presiden BJ Habibie. Kami duduk di teras samping tempat biasa pak Habibie duduk, jika mau pergi dan pulang dari kantor," cerita Sofhian.

"Saat itu," katanya, "Pak Habibie masih di Istana. Saya ingat -- saat itu -- ada Agung Laksono, Paskah Suzetta, Ibrahim Ambong, Simon Petrix Morin, Pak Baramuli, dan saya, Hujan turun cukup deras, hingga suasana agak dingin," lanjutnya.

Setelah hujan mereda, cerita Sofhian, "Presiden Habibie tiba dari kantor dan langsung menemui kami. Beliau mengawali pembicaraan dengan cerita ihwal dasi yang dia pakai saat, itu.  Sambil memegang dasi itu, beliau cerita, dasi itu dipilihkan oleh cucunya. Ada beberapa warna, tapi dasi yang dipilih warnanya selalu kuning.. Kami tertawa bersama, karena kuning adalah warna identitas Golkar."

Lantas, cerita Sofhian lagi, berlangsunglah pembicaraan politik, berkisar pada hitungan di sidang umum MPR, kemungkinan yang akan menerima pertanggung jawaban Presiden. Hasilnya, meski hanya selisih enam belas suara, laporan itu ditolak. "Kami kalah," tegasnya.

Fraksi Karya Pembangunan (FKP) - Golkar, saat itu ditengarai terpecah ada sebagian kecil yang menolak pertanggung jawaban Presiden BJ Habibie.

Ternyata, hitungan itu tak salah.  "Yaaa.. ini sekedar catatan saja, masih sangat segar dalam ingatan, siapa saja yang berkhianat," lanjut Sofhian sambil tersenyum, melangkah meninggalkan gerbang utama Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Kekalahan itu, berbalas. Formasi calon dari BJ Habibie versus Megawati, berubah menjadi Megawati versus Abdurrachman Wahid - yang muncul kemudian. Nama Kyai dari Jombang yang juga penggerak demokrasi, itu diusulkan oleh 'poros tengah' dengan mengejutkan. Salam kalkulasi politik, melihat perbandingan jumlah yang menolak dan menerima Laporan Pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie, orang menduga Megawati Soekarnoputri yang akan terpilih sebagai Presiden.

Kekalahan tak boleh berulang. Taktik dan strategi dirancang seketika. Hasilnya, allahyarham KH Abdurrachman Wahid yang terpilih sebagai Presiden RI ke 4, dan Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Wakil Presiden.

"Pada saat pelantikan Presiden Abdurahman Wahid di sidang umum MPR, Pak Habibie duduk di sayap kanan ruang sidang bersama para undangan VVIP, kami para anggota MPR yang duduk di barisan dekat dengan sayap kanan bisa mendengar perbincangan yang berlangsung di antara para undangan VVIP sederet dengan Presiden Habibie," cerita Sofhian lagi.

"Wajah Pak Habibie tetap sumringah, dan sangat hangat dengan siapa saja saat bertemu. Ketika selesai sidang istimewa, bergegaslah keluar anggota dan para undangan dengan iringan lagu Indonesia Pusaka dan lagu lainnya.  Pak Habibie ikut bernyanyi sambil berjalan keluar. Beliau benar banar seorang demokrat sejati. Sikapnya sangat simpatik," ungkap Sofhian.

"Kami kagum dan terpukau, terutama mengingat kembali peristiwa saat saat Presiden BJ Habibie memasuki ruang sidang umum MPR, itu,"  katanya.

"Saat Presiden BJ Habibie memasuki ruangan sidang umum, hadirin dipersilahkan berdiri. Saya dan sejumlah anggota MPR, taat asas dan tata krama, spontan berdiri. Tapi, di belakang saya mendengar suara tokoh dari partai lain. Terdengar, beliau bertanya: apakah kita perlu berdiri?" cerita Sofhian.

Faktanya, jelas Sofhian lagi, tokoh yang juga sudah wafat, itu memang tidak berdiri diikuti para kolega yang duduk di dekatnya. Ekspresi wajah mereka nampak senang, dan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya yang tetap menghormati aturan protokoler,  berdiri dengan sikap sempurna.   

"Sikap tidak taat aturan protokoler, itu menggambarkan, sebagian kita tidak sabar, ingin selalu terburu-buru dan bernafsu. Ingin segera menggantikan posisi Pak Habibie. Padahal selama lima belas bulan mengemban amanah sebagai Presiden, bapak BJ Habibie berhasil dengan gemilang menyelesaikan problem besar yang di alami bangsa ini, saat itu," ungkap Sofhian.

Misalnya, mengatasi merosotnya nilai tukar rupiah yang anjlok sampai Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Lantas membuka keran kemerdekaan pers dan memungkinkan rakyat bebas bicara tanpa rasa takut. Sekaligus mengatasi gejolak politik, meredam ancaman disintegrasi bangsa, dan persoalan pelik bangsa lainnya. Karena gagasan dan eksekusinya jelas dan tepat sasaran.

Suasana di Sidang Umum MPR saat, itu memperlihatkan sejumlah petinggi politik yang ingin segera mendapat porsi duduk dan duduk kembali di tampuk kekuasaan.

'Kemarahan' terhadap allahyarham BJ Habibie saat itu, menutut Sofhian, datang dari kalangan yang kesal. Sering terdengar, kala itu, ucapan, "Kita tumbangkan Soeharto, tapi kok Habibie yang naik jadi Presiden."

"Mereka tidak paham proses ketatanegaraan," lanjut Sofhian.

"Mereka masih berada di panggung politik kita saat ini?" tanya saya.

"Masih ada..., dan termasuk yang masih genit dalam bermain politik," ungkap Sofhian, dengan mata berkaca-kaca, dan sangat terkesan dia kehilangan figur negarawan yang dihormatinya.

Perbincangan kami berakhir, lantaran banyak para politisi yang mengenalnya menghampiri dan menyalaminya. | bang sém


BACA JUGA: BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
19 Okt 19, 10:03 WIB | Dilihat : 271
Obsesi Keindonesiaan
17 Okt 19, 20:45 WIB | Dilihat : 419
Langkah Anies Sudah Tepat dan Berprestasi
10 Okt 19, 12:06 WIB | Dilihat : 658
Buah Peluh Tanpa Keluh Bangsa Melayu
09 Okt 19, 09:40 WIB | Dilihat : 472
Utusan Melayu itu pun Akhirnya Ditalqinkan
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 189
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1308
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 1315
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
Selanjutnya