Menilik Kebangkitan Nusantara

Pemimpin Serantau Perlu Membuka Cakrawala Baru

| dilihat 425

Bang Sèm

MESKI secara sosiologis, antropologis, dan etnografi asal usul hubungan Indonesia – Malaysia sudah sangat jelas, datang dari sumber yang sama, namun berbagai peristiwa politik sejak abad ke 15 telah menanam benih perpecahan yang dahsyat. Terutama ketika bangsa-bangsa penjajah: Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris memecah rumpun Melayu dalam dikotomi proto Melayu – Austronesia secara paradoks.

Berbagai catatan masa silam yang ditulis oleh para pengembara Spanyol (Magelen) yang menyertakan juga penulis Italia (Antonio Pigafetta), pertukaran wilayah jajahan (Bengkulen, Batavia, Melaka) antara Inggris dengan Belanda, dan perbedaan kedua bangsa itu memperlakukan Malaysia dan Indonesia memberi petunjuk adanya kesengajaan menggunakan jalan politik untuk memisahkan kedua negara sejak awal, sebagai bagian dari strategi memecah Nusantara. Terutama untuk mendapat sumber-sumber pangan dan energi bagi Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris yang hanya diperolehnya dari wilayah Nusantara (khasnya Indonesia – Malaysia).

Strategi bangsa penjajah memarginalisasi bangsa Melayu di Nusantara yang sudah memiliki peradaban Dongsun dengan kemampuan mengelola logam sebagai perkakas kehidupan, merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan dominasi grand strategy 3 G (gold, gospel, dan glory) yang menemukan jalan buntu di Nusantara. Terutama karena Islam lebih tertanam kuat, menggantikan sistem nilai Hindu – Budha yang telah tertanam sejak awal.

Malaysia dan Indonesia sebagai dua kunci ‘bangsa yang hilang’ di ‘jaziraatul mulq’ (antara Melaka – Maluku) telah terlanjut ditafsirkan sebagai bangsa yang ‘pada masanya’ akan menghambat bangsa Yahudi menemukan tanah ‘yang dijanjikan’ dengan sesungguhnya. Bahkan menjadi fokus bagi bangsa-bangsa penjajah (Yahudi dan Nasrani) untuk merebut ‘wilayah gelap’ yang harus ‘diterangi.” Dalam konteks prediksi Ibnu Rusyd tentang bangsa besar yang akan membawa kejayaan Islam di masa depan, bangsa Melayu (Indonesia – Malaysia) sebagai bangsa yang akan menentukan kehidupan baru, ketika bangsa-bangsa Aria, Arab, Persia, Moor, Hindi, dan Kildan kehilangan daya. Itulah sebabnya dukungan terhadap Singapura Raya merdeka di abad ke 20, setelah sebelumnya Indonesia dan Malaysia merdeka, menjadi bagian dari strategi menghambat kemajuan Melayu.

Merujuk pada pandangan Prof. Arysio Santos dalam Atlantis dan Stephen Oppenheimer dalam Eden in The East : The Drowned Continent of East Asia, dari aspek peradaban, yang kini sedang menemukan masa pembuktiannya melalui dekade perubahan dari Eropa - Amerika ke Asia – Pasifik, Indonesia dan Malaysia (sebelum menyebut Nusantara), Indonesia dan Malaysia menjadi negara kunci untuk membangkitkan keberjayaan Melayu di dunia. Kedua negara inilah yang kelak akan menjadi kekuatan besar sumpah Hang Tuah : Tak hilang Melayu di dunia.

Kesadaran terhadap eksistensi Indonesia – Malaysia sebagai dua kekuatan besar bangsa Melayu (yang diprediksi Ibn Rusyd akan menjadi bangsa yang mampu mengalahkan dominasi Yahudi di seluruh aspek kehidupan), itulah politik pecah belah dan ‘adu domba’ dipergunakan. Dimulai oleh Raffles, kemudian oleh Snouck Hurgronje yang dengan tiangle strategy (berbasis di Banten - Jawa Barat, Aceh, dan Johor).

Strategi ini disusul dengan memasukkan komunisme via gerakan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet yang popular sebagai Henk Sneevliet (dengan nom de geurre Maring) yang mati di Jerman dalam pendudukan Jerman atas Belanda (Perang Dunia II). Gerakan ini kelak memengerahui aksi konfrontatif Bung Karno terhadap Malaysia, yang terobsesi oleh Borneo Diamond Line (Banjar, Kutai, Sabah, Brunei, dan Sarawak) dan Sulu (yang sekaligus memarginalkan Dayak), beranjak dari korelasi historis kejayaan Sriwijaya – Majapahit dan Sumpah Palapa Gajah Mada, dengan referensi Belanda dan Spanyol. Terutama karena kuatnya arus konflik Timur – Barat.

Pemikiran Barat (baik Herbert Feith, Lance Castles, George Mc Thurman Kahin, Howard M. Federspiel, maupun Bernard Hubertus Maria Vekkel) yang memandang Indonesia – Malaysia secara paradoksal, sampai kini masih banyak memengaruhi pandangan generasi baru di Indonesia dan Malaysia. Inilah yang terus berkembang sebagai dasar pemikiran dalam memandang hubungan Indonesia – Malaysia. Ruh integralitas Indonesia – Malaysia yang dibawa oleh orang-orang Bugis, Banjar, Jawa, Palembang, Minang, Deli, dan Aceh yang bersinggungan dengan etnis Arab, Hindi dan Tionghoa (China) terfragmentasikan oleh politik praktis dari masa ke masa.

Integralitas bangsa Melayu memang terbangun pada era peradaban agraris, lalu mulai terpolarisasi secara spasial pada era industri, dan kemudian dipertajam pada era informasi. Lalu menjadi kerikil-kerikil tajam dalam hubungan kedua negara di masa kini.

BILA hendak memandang ke masa depan, ke era peradaban baru (Conceptual Age) dengan beragam perangai tamaddun islami ( ya’lu wa laa yu’la alaihi, ummatan waahidah, ummatan wasathan) berbasis kearifan budaya, kini adalah masa bagi bangsa Melayu di Indonesia dan Malaysia untuk mengobarkan api perjuangan: éveiller le malais, Kebangkitan Melayu. Para pemimpin di kedua negara, harus sama menyadari, kedua bangsa memerlukan proses transformasi peradaban, menuju peradaban baru: Melayu sebagai sumber daya baru di Asia – Pasifik, secara setara dan adil (equal and equit) dengan China, Eropa, Amerika, Asia Selatan, dan Asia Timur. Terutama, ketika sejarah membuktikan, dalam era krisis perekonomian dan politik dunia kini, Asia Tenggara yang ditegakkan oleh Indonesia dan Malaysia, merupakan kawasan yang relatif stabil.

Para pemimpin Indonesia dan Malaysia harus sama membuka cakrawala pandang baru untuk menjadikan rantau Asia Tenggara sebagai sentral transformasi dunia yang sedang bergerak ke Asia – Pasifik. Baik di kancah sosial, ekonomi, politik, pertahanan, keamanan, dan budaya. Antara lain dengan menggerakkan kembali semangat kejayaan bangsa Melayu melalui aksi bersama Kebangkitan Nusantara. Dalam konteks tersebut, kedua pemimpin negara (terutama yang sedang berkuasa) harus giat membangkitkan rakyatnya melahirkan dan menghidupkan local genius. Terutama dalam menggerakkan transformasi kebangsaan sebagai bangsa yang mandiri, berdaya saing, dan berperadaban unggul.

Proses transformasi politik lokal di Indonesia dan Malaysia yang masih berkiblat pada arus politik global Amerika dan Eropa (yang terbukti gagal menciptakan politik beradab), harus diimbangi dengan proses pendidikan politik rakyat yang lebih mendasar. Terutama menjadikan demokrasi sebagai cara untuk mencapai harmoni, tidak semata-mata sebagai cara untuk berkuasa.

Dalam konteks inilah, aksi politisi harus diimbangi dengan kalangan akademisi, ulama, dan budayawan untuk tidak terjebak pada arus politik praktis, melainkan menciptakan kondisi yang memberikan arah baru praktik politik yang lebih berbudaya. Gerakan transformasi demokrasi berdimensi tiga dekade ke masa depan, harus dimulai dengan pembenahan sistem pendidikan dan ekonomi yang lebih memberikan bobot bagi terbentuknya kualitas ‘ahsanit taqwiim’ (sebaik-baik insan), melalui peta jalan pembinaan modal insan (human investment transformation roadmap) melalui kerjasama khas antar lembaga pendidikan tinggi dan lembaga pendidikan dasar dan menengah. Termasuk memperjuangkan penggunaan Bahasa Melayu sebagai bahasa kawasan ASEAN.

Di lapangan ekonomi, pemimpin kedua negara perlu bersatu padu membuat blue print kebangkitan ekonomi Melayu, mulai dari perancangan infrastruktur ekonomi (berbasis moneter) kawasan Asia Tenggara. Antara lain dengan membenahi sistem operasional, seperti asas resiprokal, industri perbankan dan jasa keuangan di dua negara. Selain itu, perlu dilakukaan penataan ulang pasar tenaga kerja level madya, sekaligus menghidupkan kembali poros perdagangan dengan menjadikan pelabuhan Tanjung Priok, Belawan, dan Port Klang sebagai hub perdagangan internasional di wilayah Barat. Hal lain yang tak kalah pentingnya, belajar dari sejarah masa lalu adalah menghidupkan kembali spirit kebangkitan puak melalui, melalui proses empowermenship. Antara lain dengan mengembangkan usaha kecil menengah (small medium enterprises) melalui pengembangan entrepreneurship Melayu. Selain itu, juga pemerintah kedua negara perlu menyusun dan mengatur regulasi bersama tentang investasi di kedua negara sebagai basis sistem investasi yang memberi pengaruh terhadap asas baru terbentuknya masyarakat ekonomi ASEAN.

Di lapangan sosial dan budaya, para penggiat hubungan persaudaraan sebatih rakyat Indonesia – Malaysia, perlu mengembangkan konter-konter budaya Melayu (Indonesia – Malaysia Cultural Counter) yang kelak dikembangkan sebagai sentra budaya Melayu Nusantara (Nusantara Cultural Center) di berbagai belahan dunia, terutama di Eropa, Amerika, China, Jepang, dan Timur Tengah. Kesemua itu berorientasi pada pencapaian tamaddun baru Melayu dengan melakukan berbagai aksi konkret melalui Konvensi Antara Bangsa Tamaddun Melayu untuk merumuskan dan menyusun Wawasan Melayu 2045.

Melalui aksi-aksi semacam itu, Indonesia – Malaysia berkewajiban memberikan cakrawala baru pemikiran generasi baru, yang nyaris mudah terpengaruhi oleh taktik dan strategi politik para politisi yang seringkali hanya bersifat jangka pendek. Bahkan, selama ini menjadi ‘pemelihara konflik dan friksi’ antara rakyat di kedua negara. Aksi-aksi politik praktis para politisi sengaja memelihara sentimen dan sensitivitas sosial antara rakyat  kedua negara, karena menyadari betul, dengan cara semacam itulah mereka akan mendapat keuntungan politik masing-masing.

Oleh sebab itu pula, ikhtiar generasi baru untuk membentuk Indonesia – Malaysia Champion Leaders yang berorientasi jauh ke masa depan, perlu perhatian dan memperoleh dukungan. Minimal para penggiat hubungan antara rakyat Indonesia – Malaysia, memfasilitasi. Terutama, karena pada mereka (generasi muda) itulah kita meletakkan harapan masa depan kebangkitan Nusantara sebagai cara untuk kejayaan Melayu di alaf baru.

Kita tidak boleh terjajah terus oleh berbagai pemahaman keliru para pemikir Barat tentang diri kita. Kita tidak boleh terbelenggu oleh romantisme asal-usul yang telah dikaburkan oleh pemikiran analis Barat yang terus menerus ingin mengerdilkan bangsa Melayu dan menafikan peran bangsa-bangsa serantau Nusantara untuk menjadi bangsa utama. Oleh karena itu, bangsa Melayu baik di Indonesia maupun Malaysia, harus segera keluar dari jebakan fantasi (fantacy trap) kegemilangan palsu. Kita harus bangkit dan mulai menentukan transformation kick off untuk mencapai transformation breakthrough dengan grand strategy yang matang dan visioner.

Kejayaan bangsa Melayu melalui Kebangkitan Nusantara adalah keniscayaan. Siapa saja yag menyumbangkan pemikiran dan dirinya bagi upaya kebangkitan itu, kelak akan tercatat dalam sejarah sebagai johan-johan tamaddun yang akan dikenang sepanjang masa. Caranya: ambil jeda sejenak dari berkata-kata, mulai mengubah kata-kata menjadi rancangan, dan mewujudkannya dalam aksi nyata.

Lantas.. ubah kebiasaan politik yang hanya berebut kekuasaan semata. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 298
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 156
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
08 Sep 19, 19:47 WIB | Dilihat : 147
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat
Selanjutnya
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 358
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 797
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1618
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2523
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya