Seri Kepemimpinan

Rakyat Tak Perlu Alasan Pemimpin

| dilihat 516

N. Syamsuddin Ch. Haesy

RAKYAT memerlukan pemimpin dan tauladan yang baik, maka jadilah pemimpin. Berikan tauladan kepada rakyat.

Di zaman kebohongan bertahta yang disebut sebagian kalangan sebagai post trust era, menjadi pemimpin tak lebih mudah. Di level manapun kepemimpinan itu dijalankan, pasti akan ada pro dan kontra.

Bahkan, rakyat sangsi kepada begitu banyak pemimpin, apakah mereka  dapat mengemban tugas yang diamanahkan rakyat dengan baik. Hanya sedikit pemimpin yang dianggap mampu oleh rakyat yang tidak lagi homogen.

Memang tidak mudah memimpin suatu negara dan bangsa. Khasnya negara dan bangsa yang Tuhan titipkan sumber daya alam dan modal manusia, yang banyak. Karena di negara dan bangsa yang sedemikian, pasti juga kaya dengan masalah.

Tidak terkecuali berbagai masalah masa lampau yang tak diselesaikan dengan baik di masanya, lantas dituntut penyelesaiannya secara paripurna pada hari ini.

Dari sudut pandang positif, dalam suasana demokrasi, setiap pemimpin, boleh jadi dapat memperlakukan semua masalah itu sebagai pemicu, cambuk, dan tantangan untuk dapat bekerja lebih baik.

Pemimpin yang berfikir mengabdikan dirinya hanya untuk rakyat dan ibadah kepada Allah, akan bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, dan bekerja tuntas. Karena kepemimpinan yang tersandangkan, ketika sudah mewujud, sesungguhnya adalah takdir Tuhan.

Tuhanlah yang sungguh Mahakuasa. Karenanya, hanya Tuhanlah yang meninggikan dan merendahkan, mengangkat dan menurunkan, memuliakan dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Tuhan jugalah yang menentukan kepada siapa rakyat mesti memberikan amanahnya untuk menjawab semua tantangan bagi kemajuan dan kebahagiaan bersama, dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan perjuangan kebangsaan.

Karena itulah, dalam mengemban amanah, setiap pemimpin mesti menerima takdir dengan sebaik-baiknya.

Para pemimpin harus sungguh yakin melaksanakan dan mewujudkan kepemimpinan. Caranya: bekerja dengan baik, benar, dan adil. Karenanya bekerja baik, benar, dan adil merupakan jawaban paling nyata bagi keraguan dan kesangsian rakyat. Rakyat memerlukan cara dan bukan alasan ketika menilai pemimpin.

Keraguan dan kesangsian rakyat yang sering diekspresikan siapa saja yang mengatasnamakan rakyat, tidak perlu dijawab dengan kata-kata dan pernyataan. Jawablah dengan kerja dan karya nyata.

Tugas seorang pemimpin adalah berpikir, bersikap, dan bertindak penuh keyakinan, melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sangat baik, benar, jujur, dan adil,  memandu rakyat dan bangsanya mengelola seluruh daya yang dimiliki untuk menjawab tantangan.

Setiap pemimpin, sejak matanya terbuka di pagi hari, harus paham dan mengerti, bahwa peran utamanya sebagai pemimpin adalah menjadi solusi atas seluruh masalah yang dihadapi rakyatnya.

Karenanya, tugas utama pemimpin adalah mencari, menemukan, dan melaksanakan berbagai solusi terbaik. Bukan justru hanyut dan menjadi bagian dari masalah.

Setiap pemimpin ditakdirkan Tuhan menghadapi cobaan, hujatan, dan ujian yang datang bagai ombak ke karang di tepi pantai.

Bagi pemimpin yang benar, baik, dan adil, kata kuncinya adalah keyakinan teguh untuk selalu mau dan mampu mengembangkan inspirasi, inisiatif, kreativitas, dan inovasi. Bahkan dalam hal-hal tertentu, melahirkan invensi yang menjadi keunggulan dirinya dan bangsanya di suatu masa.

Hindari aksi yang hanya sekadar political kitsch, mengemas diri untuk memperoleh citra baik, karena rakyat tidak perlu pencitraan.

Pada kenyataannya, cobaan selalu datang menghampiri dalam beragam bentuk, termasuk dalam bentuk berbagai kritik dan hujatan. Terimalah itu sebagai cermin, karena cermin tak semuanya jernih, ada juga cermin yang buram dan kusam.

Apapun juga, kritik dan hujatan adalah ujian yang mesti diterima untuk meningkatkan kualitas pengabdian pemimpin kepada rakyat, negara, dan bangsanya. Sekaligus merupakan cara Tuhan, agar pemimpin selalu konsisten meningkatkan kualitas keimanan dan ibadah kita kepada-Nya.

Setiap pemimpin mesti selalu berkeyakinan, khasnya keyakinan, bahwa kepemimpinan yang disandangnya adalah takdir Ilahi untuk berperan strategis sebagai pemandu utama dalam melangkah ke masa depan. Peran yang memerlukan keikhlasan dan ketulusan. Tak hanya cita-cita mulia untuk berbuat yang terbaik kepada bangsa dan negara. Apalagi hanya sekadar mimpi berbuat kebajikan.

Terkait dengan hal itu, bagi setiap pemimpin beserta keluarga, kerabat dan sahabat dekatnya, harus mempunyai pemahaman kolektif, menempatkan jabatan kepemimpinan sebagai amanah, kehormatan, kepercayaan, yang bila dilaksanakan dengan baik akan menjadi kemuliaan, tetapi dari perspektif lain adalah cobaan, ujian, dan tantangan, sekaligus jalan menuju kehinaan.

Sebagai insan ber-Tuhan, letakkan kepemimoinan dalam konteks kehidupan keagamaan. tempatkan jabatan sebagai tantangan, cobaan, dan ujian. Lantas ucapkannya "inna lillahi wa inna ilaihi roji'un," ketika memperolehnya. Suatu kesadaran, bahwa jabatan itu datang dari Allah dan kelak akan berpulang kepada Allah jua.

Pahamilah semenjak awal, bahwa menjalankan kepemimpinan adalah menjalani amanah dan kepemimpinan yang disempurnakan dengan kesiapan diri, keluarga, kerabat, dan sahabat dekat, akan mendapatkan reaksi, komentar, dan berbagai tanggapan pro kontra.

Tak hanya diri kita.  Lingkungan sosial terdekat kita, juga harus siap, tanggon dan tangguh menerima segala hal, begitu keyakinan ditabalkan. Kesemua itu merupakan ujian terhadap mentalitas dan kesabaran kita. Ujian terhadap tekad dan semangat yang harus kita junjung tinggi.  Semua harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa ketika kita bekerja dengan benar, baik, jujur, dan adil, pasti selalu ada yang dapat kita lakukan untuk kebaikan rakyat, bangsa, dan negara. Selalu akan ada kebaikan dan kebajikan yang terasakan oleh rakyat dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Tanggapan-tanggapan miring, hujatan, ketidak-percayaan, kesangsian akan sirna dengan sendirinya, seiring dengan hasil dan capaian proses bekerja dan berkarya dengan baik dan benar, sebagai manifestasi dari pemahaman: kepemimpinan merupakan salah satu cara  beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Jangan tipis telinga, jangan juga acuh dengan beragam reaksi rakyat, karena kepemimpinan yang baik, juga mewujud pada respon tangkas dan bernas, atas berbagai reaksi yang sudah berlebihan, di luar konteks kritik, dan dapat merusak konsolidasi demokrasi. Apalagi, ketika kualifikasinya sudah terbilang buhtan dan fitnah, kebohongan yang direkayasa secara sistemik.

Caranya? Tak usah menunjukkan emosi yang meletup, yang hanya akan mengekspresikan kelemahan diri. Tetapi, dengan cara memberikan penjelasan tentang kondisi yang benar dan sesungguhnya. Pada tingkat tertentu, boleh juga menggunakan jalur hukum sebagai contoh kongkret penegakan hukum dengan baik,  sesuai dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Tapi, jangan menempatkan pengeritikmu sebagai musuh.

Untuk itu, pemimpin wajib menempatkan orang-orang baik, benar, jujur, dan adil di sekelilingnya. Bukan penjilat yang adanya tidak menggenapkan dan tiadanya tidak mengganjilkan. Bukan pula para penikmat kekuasaan yang akan menjauhkan pemimpin dengan realitas pertama kehidupan rakyatnya.

Pujangga Hafez menasihati:

"Tetap tegarlah dalam usaha meraih tujuan, insyaAllah berhasil. Jangan duduk bersama mereka yang tidak mempunyai motivasi baik. Jika Anda melihat suatu fitnah (tuduhan keji), jauhkannya diri Anda darinya (dari fitnah dan mereka yang memicu datangnya fitnah). Jangan melalaikan kemampuan Anda dalam menghadapi berbagai kesulitan." |

                                                                   Bintaro, 170619 | Sitasi : Voul of Hafez (2010)

Editor : Web Administrator
 
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 541
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 373
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 491
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 619
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya
Energi & Tambang