Politik Malaysia Memanas

Tun Mahathir Umumkan Deklarasi Rakyat Singkirkan Najib

| dilihat 1766

PETALING JAYA, AKARPADINEWS.COM | BEKAS Perdana Menteri Malaysia yang juga bekas Presiden UMNO (United Malay Nation Organization), Tun Dr. Mahathir Mohamad, memelopori penanda-tanganan Deklarasi Rakyat atau ‘Citizen’s Declaration,’ di Petaling Jaya, pinggiran Kuala Lumpur, Jum’at (4/3/16).

Deklarasi dibacakan langsung oleh tokoh pembangunan Malaysia yang biasa dipanggil Tun Dr. M, itu dilanjutkan dengan sidang media dengan wartawan. Selain Tun dan isterinya, Tun Dr. Siti Hasmah Mohd Ali, dan puteranya Mukhriz Mahathir yang belum ini meletakkan jabatannya sebagai Menteri Besar (MB) Negeri Kedah.

Secara keseluruhan, 58 orang pemimpin dan bekas pemimpin pemerintahan dan politik Malaysia menanda-tangani deklarasi itu. Antara lain, bekas pemimpin kanan : bekas Timbalan Perdana Menteri Tan Sri Muhyiddin Yassin – yang masih menjabat Timbalan Presiden UMNO, bekas Menteri Besar Kedah Datuk Mukhriz Mahathir, bekas Presiden MCA Tun Dr Ling Liong Sik, dan bekas Menteri Besar Selangor Tan Sri Muhammad Taib.

Antara pemimpin pembangkang yang hadir terlihat penasihat DAP Lim Kit Siang, Menteri Besar Selangor Datuk Seri Mohamed Azmin Ali, Presiden Parti Amanah Negara (AMANAH) Mohamad Sabu, Timbalan Presiden Amanah Salahuddin Ayub dan Ketua Penerangan PAS (Partai Al-Islam se Malaysia) Datuk Mahfuz Omar. Juga nampak aktivis politik dan NGO (Non Government Organization) : Hishamuddin Rais dan Ambiga Sreenivasan.

Di hadapan wartawan, Tun Dr M menegaskan komitmen kebersamaan mereka yang dipandang sebagai aspirasi rakyat Malaysia, untuk memberi tekanan kepada Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Mohd Najib Tun Razak untuk meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia. Ketika Deklarasi itu dibacakan, Najib sedang melaksanakan ibadah umrah di Mekkah, Sudi Arabia. Sebelumnya, Najib melakukan kunjungan kerja ke Pusat Pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia di Ryadh. Sudi Arabia adalah negara yang sejumlah kalangannya diduga memberikan donasi melalui rekening Najib, yang oleh Tun dan kalangan rakyat Malaysia dinilai sebagai penyimpangan atas dana 1MDB oleh Najib.

Dalam Deklarasi itu, termaktub pernyataan, mereka melakukan aksi penyingkiran Najib dari posisinya dalam negara. Butir pertama deklarasi itu menyebut, “Penyingkiran Najib sebagai Perdana Menteri Malaysia tanpa menggunakan kekerasan dan undang-undang yang dibenarkan.”  Penyingkiran Najib sekali dilakukan dengan, Menyingkirkan semua orang yang bekerjasama dengannya.”

Butir 3 Dekalarasi, itu menyebut, “Pemansuhan semua undang-undang dan perjanjian yang dibuat baru-baru ini yang melanggar hak-hak asasi yang dijamin oleh Perlembagaan Persekutuan dan melemahkan pilihan dasar.”

Deklarasi itu menegaskan, upaya penyingkiran Najib dan semua pengikutnya, untuk : Mengembalikan integriti institusi yang telah dilemahkan, seperti polis, SPRM (Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia), Bank Negara Malaysia dan Jawatankuasa Kira-kira Wang Negara (PAC).

Dalam pengantarnya, Tun Dr. M mengatakan, para penanda-tangan selaku warga Malaysia, menyatakan kebimbangan mereka terhadap keadaan politik, ekonomi dan sosial dalam negara. “Kami ingin menarik perhatian rakyat Malaysia terhadap kerosakan yang telah dilakukan kepada negara di bawah pentadbiran Perdana Menteri Dato' Sri Najib Tun Raza,” tegas pernyataan itu.

Tun Dr. M dan para penanda-tangan deklarasi menyebut, di bawah kepemimpinan Najib, negara jatuh menjadi salah satu dari 10 negara yang paling banyak tindakan rasuah (korupsi dan suap) seperti disebut dalam laporan Ernst and Young Asia Pacific Fraud Survey Report Series 2013. Malaysia juga telah jatuh empat anak tangga Indeks Persepsi Rasuah 2015, dari 50 ke 54. 

Kondisi itu, diyakini penanda-tangan deklarasi, tersebab Najib percaya dengan politik uang, yang mempastikan kedudukannya sebagai Perdana Menteri Malaysia. Dia percaya bahawa duit adalah segala-galanya. "Cash is King."  

Penghematan yang dilakukan pemerintah untuk belanja pembangunan untuk semua Kementerian dan institusi awam termasuk universiti disebabkan oleh ketandusan kewangan (krisis keuangan pemerintah). Walaupun telah diperuntukkan, tetapi tidak ada sumber keuangannya.

Para penandatangan menilai, tahun 2009, Najib telah membentuk Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund) yang bertujuan untuk menjana pendapatan bagi Kerajaan. Najib juga telah membentuk 1 Malaysia Development Berhad (1MDB) yang kemudian dibebani utang sebanyak RM42 bilion yang tidak dapat ditanggung. 1MDB, sebut mereka, tidak lagi menjadi Dana Kekayaan. Sebaliknya, menjadi Dana Hutang Negara. 

1MDB dicurigai telah meminjam RM20 bilion untuk membeli tiga janakuasa elektrik pada harga RM12.1 bilion, yang melebihi harga pasaran. Walaupun diberi kontrak untuk membina janakuasa baru selain lanjutan bagi konsesi yang hampir tamat, syarikat-syarikat (perusahaan-perusahaan) janakuasa 1MDB ini telah dijual pada harga RM9.83 bilion dengan kerugian berjumlah RM2.27 bilion. 

Selain itu,1MDB dinilai telah melabur (berinvestasi) atau meminjamkan sebanyak US$1.83 bilion kepada Petrosaudi International (PSI) Limited antara tahun 2009 dan 2011 di datam projek-projek dan aset yang fiktif.

Bank Negara Malaysia telah meminta supaya 1MDB mengambil kembali semula dana tersebut ke Malaysia, karena kebenaran yang diberi untuk pelaburan (investasi) berdasarkan kepada maklumat yang tidak tepat.

Para penanda-tangan deklarasi ini curiga, dana sebanyak US$1.45 bilion telah secara langsung atau tidak langsung disalurkan kepada syarikat Good Star Limited dan lain-lain perusahaan dibawah penguasaan Low Taek Jho.  Untuk menutup kehilangan dana tersebut, 1MDB telah melupuskan pelaburan dan Pinjaman ke PSI untuk US$2.318 bilion, dengan menyatakan seolah-olah telah membuat keuntungan sebanyak US$488 juta. Padahal, tidak ada sesen pun daripada jumlah ini yang dipulangkan ke Malaysia. sebaliknya 1 MDB menyatakan dana tersebut telah diinvestasi ke dalam dana di Kepulauan Caymans, yang kemudian telah dibongkar sebagai sebuah firma investasi tak berizin. KPMG telah disingkirkan oleh pemerintah sebagai juruaudit 1MDB karena enggan mengesahkan nilai investasi dana Caymans yang penuh misteri.

Deklarasi Rakyat itu terlahir dan diumumkan, juga karena banyak faktor yang terkait dengan tindakan Najib dan pemerintahannya berbagai aksi korporasi yang salah urus. Akibatnya 1MDB akhirnya terombang-ambing dalam hutang, termasuk kepada Deutsche Bank. Najib juga dianggap tang mengindahkan permintaan yang disampaikan oleh Bank Negara terkait dengan berbagai hal mengenai dana 1MDB.

Deklarasi itu juga lahir akibat Najib, baik sebagai Perdana Menteri maupun Menteri Keuangan sudah melakukan tindakan-tindakan yang merugikan rakyat. Antara lain menaikkan biaya tol.

Dalam pernyataan yang disampaikan dalam sidang media, itu Tun Dr.M, yang kini berusia 80 tahun, tapi masih ‘sharp’ merujuk kepada pemberitaan Wall Street Journal (WSJ) yang memberitakan, Najib mempunyai dana sebesar US$681 juta Dolar di dalam akun peribadinya di Ambank. “Mulanya Najib membantah, tetapi kemudian mengakui bahawa dia mempunyai sejumlah wang pada akun peribadinya.

Najib pernah menyatakan akan menggugat WSJ melalui pengadilan, tetapi dia tak melakukannya. Dia malah meminta kepada pengacaranya bertanya kepada WSJ mengapa menerbitkan laporan tersebut. Hingga ke hari ini WSJ terus menerus menerbitkan laporan demi laporan dengan fakta terperinci berkenaan dengan duit sejumlah US$681 juta yang terdapat akun peribadinya. “ Dia masih tidak mengambil tindakan saman terhadap WSJ, sesuatu yang boleh dilakukan di negara di mana WSJ diterbitkan,” tegas penjelasan Tun Dr. M.

Semalam (Kamis, 3/3/16) puteri Anwar Ibrahim – Naib Presiden PKR Nurul Izzah menegaskan, ayahnya – pemimpin oposisi Malaysia, mendukung aksi yang dilakukan oleh Tun Dr. M. Anwar Ibrahim pernah menjabat Wakil Perdana Menteri di era kepemimpinan Tun Dr. M. Dan diberhentikan karena tindakan indisipliner, bahkan kemudian dipenjarakan untuk pertama kalinya karena kasus penyimpangan seksual. Kasus itu juga yang kemudian membuat Anwar Ibrahim keluar masuk penjara.

Tahun 2013, melalui pemilihan kecil di Permatang Pauh, Anwar Ibrahim memenangkan pemilihan dan kembali menjadi anggota parlemen, menggantikan isterinya, dr. Wan Azizah. Tapi, kemudian masuk kembali ke penjara, karena kasus yang sama.

Dalam konteks deklarasi rakyat yang hendak menyingkirkan Najib, Anwar menyatakan, sebagai Ketua Umum Parti Keadilan Rakyat (PKR) ia bersetuju dengan Tun Dr. M. Namun, tuntutan perubahan itu, menurutnya, perlu melibatkan refomasi institusi utama dalam negara. “Hak rakyat Malaysia perlu dikembalikan melalui sistem pemilihan umum yang bersih, serta badan kehakiman dan media yang bebas,” tegas Anwar, seperti disampaikan Izzah. Anwar, masih mendekam di penjara Sungai Buloh. | S. Yusof 

Editor : sem haesy
 
Seni & Hiburan
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 668
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 689
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 204
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya