Tancap Gigi Satu

| dilihat 208

Bang Sèm

Lama ngendon di kampungnya, di ujung pekan, Mang Coeloen tiba-tiba menampakkan wajahnya di luar halaman rumah.

Saya melihatnya, pas keluar rumah dan berdiri di beranda, yang terkena debu, sejak tetangga membangun dak di atas car port-nya.

Nampak dia sedang berdiri, dan agak serius melihat  para pekerja yang sedang ngecor tiang dan dak.

Para pekerja itu, bekerja rapi. Dalam sehari, beberapa kali tumpukan puing dan area kerjanya, termasuk halaman rumah saya yang terkena dampak debu, mereka siram.

Melihat saya, Mang Coeloen langsung kruten. Mungkin dia tersenyum, tapi saya tak melihatnya, karena separuh wajahnya tertutup pelitup (masker) kain warna hitam.

Saya juga mengenakan pelitup, setiap kali keluar rumah, meski hanya di beranda dan sekadar menyiram setelempap laman yang ditanami aneka tanaman, tapi didominasi oleh sirih dan belimbing waluh.

Saya membetulkan letak pelitup yang selalu merepotkan dan membuat nafas saya terganggu. Membuka pintu gerbang. Mang Coeloen segera masuk ke halaman. Saya juga segera membuka pintu samping, akses jalan menuju gudang dan tempat cucian.

Mang Coeloen masuk ke lorong dan menuju ke belakang, Saya menyempatkan diri menyirami tanaman, lalu duduk di pojok dekat keran air untuk ambil wudhu,' yang diinisiasi istri saya, beberapa bulan sebelum wafat.

Seorang lelaki separuh baya melintas dengan sepeda motor yang meraung.

Deru mesin sepeda motor itu sangat mengganggu.  Para pekerja yang sedang ngecor di sebelah dan Mang Coeloen terusik, menoleh ke arah lelaki di atas sepeda motor yang meraung itu.

Saya dengar tawanya, sambil memperhatikan gerak wajahnya bagian atas.

Menantu saya menelepon. Meminta saya mengingatkan Mang Coeloen untuk fokus merapikan laman belakang sekitar tempat mencuci pakaian.

Belum sempat saya beritahu, Mang Coeloen, selesai menyiram tanaman di laman depan, langsung bergerak ke belakang.

***

Saya duduk dan bersandar di pojokan, dan membuka pelitup. Jarak saya sekitar tuga meter dengan Mang Coeloen yang tetap mengenakan pelitupnya.

Saya kembali mendengar dia tertawa. Kenapa?

"Saya ingat kejadian bebera belas tahun lalu..," katanya, sambil menurunkan pelitupnya.

Kala itu, pemerintah membagikan sepeda motor dinas untuk para kepala desa. Belum ada sepeda motor matic. Termasuk kepala desa Bangkerok, yang kala itu dijabat Ujang Kadu.

Beberapa hari setelah sepeda motor diterima, dan diajari anaknya mengendarai sepeda motor, penduduk desa langsung tahu bila Ujang akan melintas. Raungan sepeda motornya sudah terdengar dari kejauhan sebelum dia melintas.

Pasalnya?

"Lurah Ujang selalu pakai gigi satu. Dia gak pernah ganti persneling..," cerita Mang Coeloen.

"Lurah Ujang gak peduli, mau melintas di jalan datar, tanjakan, atau turunan. Dia hanya tancap di gigi satu.." cerita Mang Coeloen.

"Memang anaknya tidak mengajari dia ganti persneling?" tanya saya.

"Bukan hanya anaknya, orang sekampung memberitahu, Njid..," jawab Mang Coeloen.

"Lurah Ujang tahu gigi persneling ada empat, dan diberitahu juga kapan mesti ganti gigi persneling. Tapi, dia keukeuh dengan pikirannya sendiri. Dia mengerti tapi gak mau paham," cerita Mang Coeloen lagi.

Seperti dalam menjalankan pemerintahannya, dia hanya mengikuti pikiran dan perasaannya sendiri. Tak ada yang bisa menegurnya. Lurah Agus merasa seluruh aparat desa adalah anak buah yang kudu patuh dan ta'at kepadanya. Kuasa ada di tangannya.

Yang paling sering mengingatkan Lurah Ujang adalah Pak Ulis, sekertaris desa. Respon Lurah Ujang, sederhana saja. Stempel kelurahan diambil dan dimasukkan ke dalam sakunya, kemudian menyertai ke mana dia pergi. Akibatnya, urusan administrasi Desa harus menunggu kapan dia ada di Balai Desa.

Suatu kali, cerita Mang Coeloen, motor Lurah Ujang mogok di depan rumah Kepala Dusun. Asap mengepul dari mesinnya. Mang Coeloen sedang ada di tempat yang sama. Lantas terjadi perbincangan antara Mang Coeloen dengan Lurah Ujang.

"Lurah tahu kenapa motor itu mogok?"

"Tahu.. Kepanasan. Makanya biarin aja dia di situ, nanti juga mesinnya dingin dan hidup lagi.."

"Lurah tahu, kenapa mesinnya panas begitu?"

"Kata Kadus, karena saya pake gigi satu terus."

"Sepeda motor itu, gigi persnelingnya ada empat. Pindahin ke gigi dua saat sepeda motor sudah melaju. Kalo digas lagi, pindahin gigi tiga, supaya nyaman, pindahin ke gigi empat."

"Anak saya juga bilang begitu."

"Tapi, kenapa masih pake gigi satu terus?"

"Apan waktu saya dikasih sepeda motor itu, Pak Camat bilang pergunakan sepeda motor secara epektip dan episien, kayak ngajalankeun pamarentahan. Ulah boros.. Makaning saya pake gigi satu terus."

"Sepeda motor beda, atuh.. Lurah. Kalo ditancap persneling gigi satu terus, gampang rusak."

"Pan gigina opat. Kalo satu rusak, masih ada gigi dua, tiga jeung opat.."

Mang Coeloen tertawa. "Begitu ceritanya, Njid..," sambung Mang Coeloen. Saya tersenyum. Saya membayangkan, apa jadinya bangsa ini, bila penyelenggara pemerintahan seperti Lurah Ujang mengendarai sepeda motor 'dinas' itu. | [PaDuBonJér, 17.09.21]

Editor : eCatri
 
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 203
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 323
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 213
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 581
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya
Polhukam
24 Sep 21, 09:17 WIB | Dilihat : 143
Pembangkang dalam Pusaran Transformasi Politik Malaysia
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 214
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 199
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
29 Agt 21, 17:01 WIB | Dilihat : 143
Taliban Hadapi Tantangan Baru
Selanjutnya