Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah

| dilihat 548

Bang Sém

Merger (penggabungan) antar bank syariah milik pemerintah, akhirnya mewujud. Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, dan Bank BRI Syariah menjelma menjadi Bank Syariah Indonesia Tbk.

Dengan metode surviving entity dan tercatat di bursa masih dengan identitas BRIS (Bank BRI Syariah Tbk), PT Bank Mandiri Tbk akan menjadi pemegang saham mayoritas Bank Syariah Indonesia Tbk, dengan kepemilikan sebesar 51 persen.

Selasa, 15 Desember 2020, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Syariah Indonesia Tbk, berlangsung di Jakarta untuk membentuk pengurus.

Sejumlah nama kompeten diangkat oleh RUPS perdana sebagai pengurus, masing-masing Mulya Effendy Siregar (Komisaris Utama / Komisaris Independen), BS Kusmulyono (Komisaris Independen), Hery Gunardi (Direktur Utama), Abdullah Firman Wibowo (Wakil Direkrut Utama II), Tribuwana Tungga Dewi (Direktur Kepatuhan dan Modal Insan), Didin Hafidhuddin (anggota Dewan Pengawas Syariah), dan lain-lain.

Mulya Siregar yang sebelumnya Komisaris Utama Bank Mandiri Syariah berpengalaman panjang dalam mengelola perbankan Islam, sejak di Bank Indonesia. Hery Gunardi yang sebelumnya Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Tbk adalah Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN yang berhasil memimpin proses merger itu dengan seluruh agenda yang tidak mudah.

Proses merger (penggabungan) itu sendiri, diproyeksikan, tuntas pada 1 Februari 2021. Suatu target yang cepat, dibandingkan dengan pengalaman pendirian Bank Mandiri, yang merupakan habungan berbagai bank milik pemerintah, seperti Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia), BDN (Bank Dagang Negara), Bank EXIM (Bank Export import), dan beberapa bank lain, termasuk Bank Tani dan Nelayan.

Komposisi pemegang saham di Bank Syariah Indonesia Tbk adalah BMRI (Bank Mandiri Tbk) 51 persen, BBNI (PT Bank BNI Tbk) 25 persen, BBRI (PT Bank BRI Tbk) 17,4 persen, Dana Pensiun Lembaga Keuangan BRI (DPLK BRI) - Saham Syariah 2% dan publik 4,4%.

Setelah melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRI Syariah, Mandiri Syariah dan BNI Syariah, 15 Desember 2020 lalu. Dalam RUPSLB ini, seluruh direksi bank peserta penggabungan menandatangani Akta Penggabungan, berdasarkan rancangan Akta Penggabungan yang disetujui RUPLSB : 15 Desember 2020

RUPSLB itu dilanjutkan dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perdana Bank Syariah Indonesia Tbk yang menyetujui pengangkatan Hery Gunardi sebagai Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, dan mengangkat Ngatari sebagai Wadirut 1, dan Abdullah Firman Wibowo sebagai Wadirut 2.

Total aset penggabungan tiga bank syariah milik pemerintah ini, mencapai nilai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun.

Dengan jumlah aset dan modal inti tersebut, Bank Syariah Indonesia Tbk akan tercatat sebagai bank syariah terbesar di Indonesia (dari sisi aset) dan di harapkan, lima tahun ke depan akan menjadi salah satu TOP 10 Bank Syariah di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.  

PT Bank Syariah Indonesia Tbk akan merupakan giant baby perbankan syariah, yang keberadaannya didukung 1.200 cabang, 1.700 jaringan ATM, dan sekitar 20.000 lebih karyawan di seluruh Indonesia.

Diniatkan, PT Bank Syariah Indonesia, Tbk  akan mampu memberikan layanan finansial berbasis syariah, layanan sosial bahkan spiritual bagi nasabah secara lebih luas.

Abdullah Firman Wibowo - Wadirut 2 Bank Syariah Indonesia Tbk mengemukakan, pengelolaan bank syariah hasil penggabungan yang dilakukan oleh para profesional yang berpengalaman di bidangnya, akan membantu mewujudkan salah satu tujuan dari penggabungan ini. Yakni, sebagai jangkar dalam ekosistem halal dan mendukung visi untuk memposisikan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi syariah dunia.

Dengan terbentuknya PT Bank Syariah Indonesia, Tbk peta perbankan syariah di Indonesia berubah. Perubahan peta itu, diharapkan meningkatnya kualitas layanan - termasuk fungsi intermediasi, sekaligus menjadikannya sebagai islamic financial services yang memungkinkan bangkitnya perekonomian dan kesejahteraan umat dalam konteks mewujudkan keadilan ekonomi dan kesejahteraan sosial rakyat. Walaupun, layanan Bank Syariah Indonesia, Tbk tentu tak hanya diperuntukan bagi nasabah umat islam.

Dalam konteks itu, titik berat tata kelola PT Bank Syariah Indonesia pada dimensi muamalah berbasis akidah, syariah, dan akhlak mesti dipriotitaskan. Termasuk menegaskan perbedaan nyata praktik layanan yang berbeda dengan bank konvensional.

Kuncinya adalah mengelola bank ini sepenuhnya sesuai dengan sistem perbankan islam, yang tak tercemari oleh mesin kapital yang selalu cenderung terkontaminasi dengan riba. Terutama di tengah proses mengatasi pandemi nanomonster Covid-19 yang melantakkan daya ekonomi dan kesejahteraan umat.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk akan memainkan peran strategisnya, sepanjang pemerintah dalam satu tarikan nafas dan paralel juga menerapkan sistem sosial berbasis syariah.  |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 50
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 143
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
29 Agt 21, 17:01 WIB | Dilihat : 100
Taliban Hadapi Tantangan Baru
27 Agt 21, 16:01 WIB | Dilihat : 103
Sebagian Terbesar Menteri Masih Politisi
Selanjutnya
Lingkungan