
Salah satu dari begitu banyak hikmah ibadah shaum, khasnya shaum di bulan Ramadan adalah proses latihan keikhlasan yang dimanifestasikan dalam amal kebajikan dalam interaksi - hubungan antar manusia dengan sesama, semesta dan Allah Maha Pencipta.
Ibadah shaum merupakan bagian penting proses pedagogis atau formula dan praktik pendidikan, khasnya pendidikan bagi diri sendiri setiap kita yang menjalaninya. Ibadah shaum adalah formula untuk mendidik diri berfikirbersikap, dan bertindak ikhlas sebagai rangkaian laku keikhlasan.
Ikhlas dan keikhlasan itu sendiri merupakan bagian integral dari taqwa dan ketaqwaan sebagai indikator kualitas insaniah, yang manifestasinya adalah ketaatan, sikap tunduk, patuh dan menyerah kepada Allah SWT - Maha Pencipta.
Ibadah shaum dengan demikian merupakan formula bagi manusia, mendidik dirinya untuk memberikan hak Allah atas manusia, hamba-Nya. Karenanya, ibadah shaum senantiasa bertalian dengan proses melatih insan sebagai subyek atas sesamanya. Sebagai pemberi dan bukan hanya sebagai penerima.
Tanpa kecuali memberi kepada seluruh organ di dalam tubuhnya (jantung, paru-paru, ginjal, limpa, dan lain-lain), yang sudah bekerja, jauh sebelum manusia terlahir di atas muka bumi.
Saya sepakat dengan pandangan Saikh Zoheir Ali Ismail, bahwa tubuh, pikiran dan ruh merupakan tingkatan-tingkatan jiwa manusia. Tubuh adalah manifestasi dari jiwa di alam material. Pikiran adalah manifestasi jiwa yang terdiri dari beberapa tingkatan dan ruh adalah aspek yang lebih dalam dari jiwa. Tubuh, pikiran, dan ruh saling mempengaruhi satu sama lain dan hal ini paling jelas terlihat pada pikiran, yang menerima informasi dari indera-indera tubuh dan inspirasi dari ruh.
Syaikh Zoheir Ali Esmail, akuntan dan ahli keuangan lulusan London School of Economics yang mendalami Studi Islam di Universitas Middlesex - London, dan belajar bahasa Arab di Universitas Damaskus. Pandangannya tentang ibadah shaum dan relasinya dengan syahadat, salat, dan zakat komprehensip. Terutama dalam keseluruhan konteks manusia mengenali dirinya sebagai cara (menurut Imam Al Ghazali) mengenali Tuhannya.
Belajar Esensi Ikhlas
Ibadah shaum di bulan Ramadan pada seluruh dimensi waktunya, juga memadukan kesadaran dan pemahaman untuk mengenali keseimbangan pemenuhan kebutuhan nalar, nurani, rasa dan dria dalam satu tarikan nafas. Baik karena di bulan Ramadan Allah menurunkan petunjuk kehidupan bagi umat manusia, Al Qur'an al Karim (dan menurut beberapa riwayat juga wahyu dan firman kepada Musa as, Daud as, dan Isa as), sehingga memberi peluang bagi hamba-Nya yang beriman 'merenangi lautan ilmu pengetahuan,' pun karena di bulan Ramadan Allah memberikan momen pencapaian keadaban manusia, yakni kesadaran paripurna tentang hakikat hidup duniawi - ukhrawi.
Ibadah shaum Ramadan (termasuk melaksanakan qiyamul layl - tarawih, tadarus al Qur'an, munajat dan pengendalian nafsu dalam menjalani kehidupan) banyak diamsalkan sebagai momen melangkah di jalan (thariqah) berlandaskan ketentuan syariah. Jalan untuk mencapai kefasihan memahami hakikat hidup (melalui kesabaran) sebagai undakan ma'rifat (penyerahan diri karena cinta kepada Allah dinafasi sikap zuhud, ridha, dan tawakkal). Karena itu, bulan Ramadan, selain disebut sebagai sahrus shiyam, juga disebut sebagai sahrut tarbiyah - bulan pendidikan insaniah.
Inilah bulan bagi insan yang beriman, yang memikul perintah kewajiban shaum mempelajari semua cara dan teknik memperoleh ilmu pengetahuan hakiki. Syeikh Zoher Ali Esmail beramsal, mencari ilmu laksana berenang di lautan. Diperlukan waktu untuk mengenali dan menguasai ombak, serta menemukan teknik dan teknis mengayuh. Pada saat yang sama, para pencari ilmu pengetahuan akan dapat menyeberangi berbagai laut (supaya kelak mampu merenangi samudera) dan menginsafi semua keajaibannya. Namun, ketika berenang, kita menemukan mutiara, inilah tujuan dari belajar berenang tersebut.
Beranjak dari pandangan ini, dalam konteks belajar ikhlas karena cinta yang amat mendalam kepada Allah Maha Pencipta dan Maha Pemelihara manusia dan semesta, ibadah shaum bulan Ramadan merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Seirama dengan sifat dasar manusia yang selalu cenderung untuk ingin tahu segala hal. Tanpa terkecuali, ingin tahu tentang esensi ikhlas dalam melakukan dan tidak melakukan sesuatu sebagaimana ditentukan Allah dan dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.
Shaum Ramadan sebagai proses pembelajaran dengan intensitasnya membantu insan beriman yang menunaikannya dalam menemukan berbagai jawaban atas berbagai pertanyaan nalar insaniahnya, kemudian membantu memecahkan keraguan dan masalah yang kerap dihadapi dalam kehidupan. Karena ibadah shaum Ramadan memfasilitasi setiap insan beriman memadu-harmoni - mencapai keseimbangan tubuh - pikiran - ruh, sehingga dalam proses interaksi sosialnya, manusia mampu menghidupkan kesadaran yang dikelola secara intens dan antusias, menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan kasih sayang.
Melatih Kefasihan
Selaras dengan hal tersebut, ibadah shaum menyediakan ruang untuk menghidupkan kesadaran berbuat kebajikan dari hal paling sederhana. Mulai dari mengembalikan fungsi-fungsi organ tubuh sebagaimana mestinya dalam menciptakan kehidupan yang bahagia, terbebas dari petaka. Menempatkan lidah sesuai dengan fungsinya sebagai pengecap, perasa dan pengucap segala hal yang baik dan benar. Bukan sebagai pengucap keburukan, makian, rumors, putar belik fakta, dan fitnah. Shaum Ramadan melatih siapa saja yang ikhlas menunaikannya, tidak akan mengubah lidah mereka menjadi sembilu. Menahan lidahnya untuk tidak berubah fungsi menjadi 'pengecap daging mayat saudaranya sendiri.' Karena para penebar ghibah (rumors), buhtan (hoax), dan fitnah diamsalkan Allah sebagai penyantap daging mayat saudara sendiri.
Belajar ikhlas melalui bulan Ramadan tersedia luas peluangnya, antara lain dengan kembali melatih kefasihan dalam membaca dan memahami esensi setiap ayat dalam al Qur'an sebagai sumber ilmu agama. Kefasihan dalam mengenali dan mendalami hakikat aksara, bunyi, kata, kalimat dan makna yang menyertainya. Kefasihan dalam mengimplementasikan pesan kebenaran dan kebajikan pada setiap kata dan kalimah pada ayat-ayat untuk bercermin diri, melakukan muhasabah, introspeksi, dan menghidupkan kesadaran self control.
Karenanya, belajar ikhlas di bulan Ramadan, selalu penting dimaknai sebagai proses mencari, mengenali, dan mendalami pengetahuan agama sebagai manifestasi sikap dan laku bersyukur atas potensi yang kita miliki selaku makhluk yang diberikan instrumen lengkap oleh Allah untuk dapat mengetahui hal-hal yang fisik dan metafisik. Mengasah diri untuk mendapat keseimbangan kecerdasan dan kearifan, sekaligus pencapaian kematangan spiritual. Tanpa kecuali, merasakan, bahwa tanpa Allah, kita bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, miskin, dan tak berdaya. Merasakan, bahwa tanpa Allah, pada dasarnya manusia sungguh dina, sehingga tak pantas pongah, congkak, jumawa, sombong, angkuh.
Di sinilah, belajar ikhlas melakukan dan tidak melakukan sesuatu sesuai dengan perintah Allah dan panduan Rasulullah Muhammad SAW selama bulan Ramadan menjadi penting maknanya. Meski hanya selarik dan sedikit ayat-Nya. InsyaAllah, kita termasuk ke dalam kalangan yang memanfaatkan shaum bulan Ramadhan sebagai bagian dari proses belajar Ikhlas.. |