Ketahanan Keluarga Energi Utama Benteng Moral Hadapi Krisis

| dilihat 395

Ketahanan keluarga merupakan energi utama dalam memperkuat benteng moral menghadapi krisis sosial dan budaya, dengan senantiasa menghidupkan tauhid sampai akhlak di tengah keluarga, sebagai cara mengarungi transhumanisme, untuk mengatasi kesenjangan antara keterampilan, skill yang ditopang oleh kecerdasan buatan, dengan nilai-nilai islam dan budaya.

Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI (Forum Alumni HMI-wati), Hanifah Hussein, menyatakan hal ini, saat memperingati 22 Tahun FORHATI, pada Sabtu (12/12/2020) tengah hari, secara daring dan luring dengan protokol kesehatan di KAHMI Center, Jl. Turi - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Hanifah mengatakan, "Kita sedang menghadapi tantangan abad ke 21 yang nyata. Mulai dari upaya menaklukkan pandemi, membalik kemiskinan, mengelola singularitas, melayari transhumanisme, perubahan gaya hidup, sampai merancang peradaban baru."

Hanifah juga menegaskan, sebagai insan akademis yang insyaAllah mempunyai keandalan intelektual dalam memanusiawikan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nafas Islam, FORHATI harus yakin dan optimistis, mampu menghadapi dan menjawab semua tantangan yang akan terjadi.

Peringatan 22 Tahun FORHATI diselenggarakan dengan tema, "Ketahanan Keluarga di Tengah Pandemi dan Krisis Multidimensi."

Tema ini dipilih, karena realitas kehidupan sosial kita kini, tidak hanya dihadapkan oleh pandemi global COVID-19, melainkan jauh lebih luas, yakni krisis multidimensi.

"Kita sedang menghadapi fakta-fakta brutal di sekeliling kehidupan kita, mulai dari krisis kesehatan, krisis sosial, krisis ekonomi, krisis politik, krisis budaya, dan krisis akhlak," tegasnya.

Krisis multidimensi ini, menurutnya, membawa kita melintasi lorong gelap yang panjang tak berujung. "Krisis multidimensi yang kita terima sebagai ujian Allah, menempa keimanan kita,  untuk melangkah optimistis melintasi kegelapan menuju cahaya terang benderang, minadz dzulumaat ilan nuur," ujarnya.

Dikatakan oleh Hanifah, "Tak cukup bagi kita hanya meneriakkan slogan 'yakin usaha sampai,' karena kita harus 'turut Al Qur'an Hadits, jalan keselamatan' untuk selalu memperoleh berkah Allah SWT.. sehingga bisa sungguh bahagia."

Optimistis, Hanifah menyatakan, "Kita mampu menaklukkan pandemi Covid-19, sepanjang kita selalu disiplin menjalankan gaya hidup sehat dan lestari, disiplin menjalankan protokol kesehatan, disiplin menegakkan ibadah kepada Allah, sehingga mampu menjalankan cara hidup bahagia.  Karena, selain menanti proses vaksinasi untuk memperkuat imunitas, yang utama bagi kita adalah meningkatkan kekuatan iman, sehingga mempunyai rasa aman."

Keyakinan ini, katanya, hanya akan mungkin mewujud, bila ketahanan keluarga kita kokoh.

"Ketahanan keluarga menjadi utama, bukan hanya karena pandemi COVID-19 sudah membentuk kluster baru, kluster keluarga. Lebih jauh lagi, karena ketahanan keluarga yang dikuatkan oleh keteladanan, akan membuat kita lebih optimistis dan konviden menghadapi tantangan lain. Sebagai insan akademis, kita menghadapi krisis kesehatan dengan kecerdasan intelektual,." tegas Hanifah lagi.

Menghadapi tantangan membalik kemiskinan, ungkap Hanifah, 'mengharuskan' kita memperkuat ketahanan keluarga menyikapi krisis ekonomi dengan menjalani hidup qana'ah, mensyukuri apa yang diberikan Allah.., merasa tercukupi dengan rezeki dari Allah.  Kemudian bersyukur, dengan cara, terus berikhtiar, mengelola potensi yang kita milliki, mengembangkan kreativitas, man jadda wa jadda.. dimana ada kemauan di situ ada jalan.

"Allah sudah mengingatkan: Allah akan meringankan beban di punggung, melapangkan dada, dan memastikan bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan, di balik kesulitan selalu ada inspirasi dan solusi. Yang penting adalah, selesaikan semua tugas dan ikhtiar, kemudian melanjutkan lagi dengan ikhtiar yang berikutnya. Untuk itu, pola hidup efisien, hemat dan efektif, tepat prioritas, insyaAllah di tengah krisis ekonomi, kita akan mampu bertahan," ujarnya lagi.

Ketahanan keluarga sangat penting dalam mengelola singularitas, cepatnya perkembangan kecerdasan buatan yang dihasilkan oleh cepatnya kemajuan teknologi informasi. Yaitu dengan menguatkan fungsi kita sebagai pendidik pertama dan utrama bagi anak-anak. Dampingi mereka dalam berinteraksi secara digital melalui seluruh perangkat gadget. Sekaligus memberi teladan, bagaimana cara memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligent) secara produktif. Tidak mudah hanyut oleh dinamika media sosial yang tanpa henti menebar virus infodemi, berupa hoax, ghibah, buhtan, fitnah, dan lainnya. Hindari ketergantungan berlebih pada gadget.

Di bagian lain pidato-nya, itu Hanifah menyatakan, "FORHATI yang kita rawat tanpa kenal lelah, ini kita harapkan menjadi sarana bagi kita mencapai izzul islam wal wal muslimat.. sebagai bagian dari upaya mencapai izzul islam wal muslimiin, yang mampu berkontribusi besar terhadap perkembangan bangsa dan negara kita."

Memperkuat ketahanan keluarga ada jalan yang mesti ditempuh. "Dengan cara ini, kita akan mampu  menghadapi arus besar perubahan nilai kehidupan yang brutal, seperti LGBT, reduksi nilai sakral pernikahan dan perkawinan, hubungan seks di luar pernikahan, narkoba, dan berbagai hal lainnya. Termasuk berbagai aksi pendangkalan agama yang dilakukan secara penetratif hipodemis melalui media, terutama media sosial."

Majelis Nasional FORHATI mengajak seluruh pengurus dan anggota di seluruh Indonesia, untuk melakukan berbagai aksi komunikasi sosial, mengkampanyekan ikhtiar menguatkan ketahanan keluarga ke seluruh lingkungan sosial masing - masing.

"Dengan cara semacam ini, kita yakin, bahwa ketahanan keluarga merupakan sokoguru dalam meningkatkan ketahanan bangsa dan negara. InsyaAllah dengan kekokohan keluarga, kita akan terus mampu menjadikan FORHATI sebagai salah satu organisasi wanita Islam di Indonesia yang mampu menjadi garda depan syiar Islam," ungkap Hanifah, memungkas pidatonya. | Aghnina

Editor : Web Administrator
 
Budaya
Seni & Hiburan
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 303
Industri Game Naik Saat Pandemi
01 Mar 21, 15:51 WIB | Dilihat : 245
Ode Buat Artidjo Alkotsar
09 Feb 21, 15:26 WIB | Dilihat : 286
Puisi Gus Nas Ihwal Pers sampai Bencana
Selanjutnya