Melihat Pandemi dari Kampong

| dilihat 203

haédar mohammad

Ketika perkembangan sains dan teknologi mengalami dilema pelik, nyaris tak berkutik menghadapi pandemi nanomonster Covid-19 di satu sisi dan menyebar virus perwadulan (distorsi komunikasi) di sisi lain, tetiba saya teringat sebuah kata kampong atau kampung atau dayeuh atau lembur atau gampong atau dusun atau apapun istilah lainnya.

Berbagai kalangan kerap menghubungkan kampong dengan kearifan lokal, namun kerap abai menelisik di balik kearifan itu sesungguhnya terdapat kecerdasan budaya.

Saya mendapat kabar baik, bagaimana nanomonster enggan masuk ke Baduy, sehingga sampai artikel ini ditulis, belum terdapat konfirmasi ada warga Baduy yang terpapar nanomonster ganas ini.

Saya juga mendapat kabar, nanomonster ini belum menjamah suku Kajang - Kabupaten Bulukumba - Sulawesi Selatan.   Demikian juga dengan suku Abui (Takpala) dan Kabola (Kopidil) - Kabupaten Alor. Begitu juga dengan Orang Rimba (Bangko) - Kabupaten Merangin, dan beberapa orang aseli (masyarakat adat) lain di Indonesia.

Beragam informasi yang saya peroleh dari berbagai kalangan lingkungan masyarakat adat di Indonesia dan orang aseli di Malaysia menunjukkan, kekuatiran masyarakat adat yang kerap disebut sebagai masyarakat tradisi, tidak berlebihan. Beragam nilai tradisi dan ritus dalam kehidupan budaya mereka, mengubah kekuatiran tersebut menjadi kewaspadaan.

Berbeda dengan kehidupan masyarakat 'modern' yang dipengaruhi oleh artificial lifedata-style dan sangat rentan terhadap serangan wabah endemis - pandemis, masyarakat adat lebih cerdas merespon informasi tentang wabah melalui berbagai isyarat semesta.

Kalangan penguasa pengambil kebijakan di bidang kesehtan, tak terkecuali organisasi kesehtan dunia (world health organization - WHO), kuatir - bahkan berasumsi - pandemi nanomonster COVID-19 menimbulkan ancaman kesehatan yang serius bagi masyarakat adat di seluruh dunia.

Pendekatan yang dipergunakan, intuitive reason, bahwa masyarakat adat mengalami akses yang buruk terhadap layanan kesehatan, tingkat penyakit menular dan tidak menular yang jauh lebih tinggi, kurangnya akses ke layanan penting, sanitasi, dan tindakan pencegahan utama lainnya, seperti air bersih, sabun, desinfektan, fasilitas medis, dan lain-lain.

Padahal, masyarakat adat sebagai garda depan penyelamatan lingkungan alam dari ketamakan manusia modern yang digerakkan oleh kapitalisme global, justru berfikir lebih maju, berpijak pada way of life, cara hidup universe prosperity - kesejahteraan semesta.

Masyarakat adat dengan gaya hidup tradisional dengan segala ritual yang dikuatirkan, seperti pesta panen, sedekah bumi, arung laut, termasuk pola permukiman 'satu pintu' multi generasi. Karena itu, mereka dengan cepat dan serampangan dimasukkan ke dalam kategori masyarakat rentan pandemi.

Masyarakat adat di wilayahnya (Abui, Kabola, dan lainnya) justru mempunyai tradisi, norma, dan nilai yang patut dicontoh dalam menghadapi pandemi nanomonster Covid-19.

Mereka mempunyai pengetahuan, yang bila hendak diteliti secara scientific, merupakan ilmu pengetahuan yang belakangan dipakai sebagai cara mengatasi wabah. Terutama, tentang efisiensi dan keseimbangan antara kelestarian dengan kemanfaatan alam. Termasuk dalam membangun 'sabuk pengaman' sosial.

Persoalannya kemudian adalah kecerdasan budaya masyarakat adat dengan pengetahuan berkembang di dalamnya, selama ini sengaja dihancurkan melalui marginalisasi sosial ekonomi yang tinggi. Antara lain, seperti yang dialami masyarakat adat Kinipan di Lamandau - Kalimantan Tengah, yang mati-matian mempertahankan hutan dari tekanan kepentingan alih fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

'Sabuk pengaman' lingkungan alam dan lingkungan sosio budaya masyarakat adat berhadapan dengan kepentingan-kepentingan sesaat -- yang dilindungi pemerintah, khususnya tambang dan agribisnis, dengan kerusakan alam berabad-abad ke depan.

Intervensi kekuasaan dan kekuatan kapitalistik, ini yang kemudian menghadapkan masyarakat adat dengan kurangnya akses mereka ke ekstensi layanan negara, termasuk layanan kesehatan dan sosial, yang menyertai beragam persoalan laten lainnya, seperti hilangnya mata pencaharian tradisional berbasis lahan, dalam pekerjaan tradisional dan ekonomi subsisten atau di sektor informal akan terkena dampak buruk dari pandemi.

Kecerdasan budaya memantik berkembangnya kampongologi.  Yaitu pengetahuan dan cara bagi masyarakat adat bersiasat dengan keadaan hidup di tengah perubahan, akibat berbagai kerusakan alam yang dilakukan manusia modern dengan global kapitalisme yang banyak dianut berbagai pemerintah di berbagai negara.

Berbagai pendekatan melawan nanomonster Covid-19 berupa prosedur kesehatan standar WHO, seperti mencuci tangan dengan sabun (bahan desinfektan), memakai pelitup (masker), menjaga jarak sosial, menjauhi kerumunan, kemudian isolasi ( stay at home, work from home ) dan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan (termasuk tracing dan testing), dalam banyak hal kita temukan dalam kebiasaan dan tradisi hidup masyarakat adat.

Kita mendapatkan pengetahuan tentang penjarakan masyarakat adat terhadap wabah penyakit. Mulai dari sistem isolasi - kuncitara (lockdown), lacaktapak (sistem deteksi), siangsaring (testing) yang diatur dengan norma Cadu dan Pamali (Banten) - Pemmali (Bugis), dan Turiek Akrakna (Kajang), dan berbagai sistem dan aturan kehidupan lainnya, termasuk dalam hal mencegah wabah.

Masyarakat adat mempunyai sistem isolasi atas siapa saja yang sakit untuk menjaga jarak fisik dan jarak sosial, seperti  besesandingon dalam lingkungan mayarakat adat Orang Rimba.

Ketika banyak sekali orang kota bergaya hidup kampungan di tengah 'serbuan' nanomonster Covid-19, masyarakat adat yang tinggal jauh di kampung, dusun, gampong, dan lainnya, berfikir, bersikap, dan bertindak sangat modern. Berbagai indikator mengemuka.

Pertama, menguatkan disiplin diri. Tidak mendatangi daerah yang menjadi episentrum dan kluster wabah, dengan menjalani aktivitas hidup sehat, termasuk melarang siapa saja 'orang asing' masuk ke dalam lingkungan kehidupan sosialnya; Kedua, taat aturan. Semua ketentuan adat dipatuhi, termasuk larang dalam cadu, pamali, pemmali, dan sejenisnya; Ketiga, taat asas. Meski beroleh informasi amat terbatas tentang virus dan penyebaran virus, asas yang dipahaminya jelas, tak ada virus yang hidup tanpa 'sarang,' karenanya harus menghindari diri menjadi sarang virus; Keempat, segala sumber petaka, termasuk virus adalah peringatan Tuhan dan alam, karena alam dirusak, maka alam termasuk hutan, pantai, dan laut harus dijaga kelestariannya sekuat tenaga; Kelima, setiap penyakit pasti ada obatnya, Tuhan menyediakan obat itu (termasuk oxigen) di alam yang lestari, maka dapatkan obat itu dari alam sekitar.

Mau wabah berhenti? Ada dua cara yang mesti ditempuh, yakni bertobat kepada Tuhan Pencipta alam semesta dan ikhtiar  (mencegah wabah menyebar, mengobati orang yang menjadi korban wabah). Satukan fikiran, sikap, dan aksi yang sama. Bukan 'sentak sengor' alias ngotot-ngototan memperdebatkan wabah. |   

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1890
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2262
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1411
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Humaniora
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 170
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 483
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
17 Agt 21, 15:10 WIB | Dilihat : 127
Merdeka sebagai Badui dan Cara Menyelesaikan Masalah
13 Agt 21, 12:59 WIB | Dilihat : 170
Adzan Pilu di Tengah Coronastrope
Selanjutnya