Mengambil Iktibar Qurban di Tengah Pandemi

| dilihat 176

haedar mohammad

Hari-hari penuh kegamangan, ketidakpastian, keribetan, dan kemenduaan makin nampak jelas dan gamblang. Aksi reformatif menumbangkan aneka berhala ciptaan sendiri sebagai tuhan-tuhan kaum pagan untuk mencapai titik tauhid,  memasuki babak baru.

Nabi Ibrahim alaihissalam (as) dan isterinya, Siti Hajar (ra), di tengah kesulitan mendapatkan air dan pangan sebagai sumber penghidupan menghadapi tantangan baru irrasionalitas di benaknya. Dalam mimpi dua malam berturut-turut, Ibrahim as mendapat isyarat yang teramat berat, mengorbankan putera kesayangannya, Ismail as.

Mulanya, Nabi Ibrahim menganggap mimpi itu bentuk lain godaan syaitan, lalu mengabaikannya. Tapi, keesokan harinya mimpi dan perintah yang sama berulang. Ia pun meyakini, bahwa itu perintah Allah yang wajib dilakukan sebagai manifestasi keta'atannya.

Situasi batin yang amat pelik dihadapi dengan penuh keyakinan. Nabi Ibrahim pun membawa puteranya, Ismail as ke bukit Arafat - lengkap dengan peralatan penyembelihan: pisau yang tajam dan tali. Ketika tiba di Arafat, baru ia menjelaskan tentang perintah melalui mimpinya, itu.

Sebagai anak yang ta'at, Ismail as meyakinkan ayahnya, Ibrahim as untuk melakukan perintah itu. Ia meminta tangan dan kakinya diikat agar tak bisa meronta, dan ayahnya dapat melaksanakan perintah itu sambil menutup mata, agar tak menyaksikan deritanya. 

Nabi Ibrahim melakukannya. Mukjizat Allah turun seketika. Saat membuka penutup mata, ia terkejut, karena yang ada di hadapannya adalah sesosok domba jantan dengan darah segar masih mengalir di lehernya. Akan halnya Ismail as, tanpa cedera sedikitpun, berdiri  sebelahnya. Ia gemetar, merasa ada sesuatu yang salah dan merasa dirinya melanggar perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT).

Seketika ia mendengar suara yang mengatakan kepadanya , bahawa Allah (SWT) menjaga hamba-Nya yang taat, dan untuk itu tak perlu ada kegamangan, ketika ketidak-pastian berubah menjadi sesuatu yang pasti, keribetan menjadi kemudahan, dan kemenduaan menjadi keyakinan yang utuh.

Peristiwa itu terjadi berabad silam, pada 10 Dzulhijjah, bulan penghujung kalender Islam. Di sinilah bermula ibadah qurban yang menjadi rangkaian dari ibadah haji. Allah melalui malaikat Jibril, menegaskan kepada Rasulullah Muhammad, haji adalah wukuf, kontemplasi di Arafah. Tak ada haji tanpa wuquf di Arafah.

Ibadah Qurban, itu sendiri merupakan salah satu manifestasi ibadah untuk menegaskan kebersihan tauhid, pengetahuan, dan siyasah bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan personal dan sosial. Ibadah yang dalam praktiknya, oleh Rasulullah Muhammad SAW diformulasikan sedemikian luas. Mulai dari makna filosofis sampai makna pragmatis.

Apa sungguh makna di balik peristiwa ibadah Qurban, dan mengapa pula Allah mengingatkan kaum yang beriman mengambil i'tibar penuh hikmah di dalamnya?

Bertauhid tak cukup hanya meruntuhkan Laata, Maanat dan Uzza - tuhan-tuhan produk fantasi manusia dan menggantinya dengan keyakinan utuh, penuh seluruh kepada eksistensi Allah yang Maha Absolut, Distinct, dan Unique, serta terucapkan dalam sumpah setia syahadah.

Bertauhid adalah membuktikan kata-kata dalam sumpah dengan perbuatan yang mewujud dalam salat, shaum dan zakat, yang di dalamnya keimanan dan ilmu pengetahua terintegrasi, menghasilkan siyasah - taktis dan strategis - untuk mencapai puncak tauhid, yakni kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kebahagiaan hakiki yang tak lagi terukur oleh takara-takaran duniawi. Apalagi sekadar tahta, harta, dan segala kenikmatan dunia lainnya. Kebahagiaan hakiki adalah penyerahan diri berkualitas (iman, ikhlas, dan sabar) yang menggerakkan perubahan fungsi eksistensi manusia dari seorang yang selamat dan menyelamatkan, beriman dengan integritas diri yang kokoh, dan berkeadaban. Menjadi manusia kepala, bukan sekadar manusia perut dan syahwat.

Qurban adalah ibadah konkret bernilai edukatif yang menggerakkan seluruh aspek (kognitif, afektif dan psikomotor) dalam satu kesatuan irama edukasi, untuk menegaskan kualifikasi manusia, dengan segala pengalaman empirisnya. Termasuk kematangan spiritual dalam wujud keta'atan kepada Allah, Sumber Kebenaran.

Inilah ibadah yang mendidik manusia untuk tanpa henti mengasah kemauan dan kemampuan membaca dan memahami isyarat imajinatif dan mengubahnya menjadi formula kerangka idealistik, rencana aksi dan aksi dengan cara hidup (way of life) sebagai panduan melaksanakannya. Ibadah yang mengedukasi kaum beriman, menempatkan ketaatan dan kepatuhan berperingkat.

Pemimpin taat dan patuh kepada perintah Allah sebagai teladan yang memungkinkan ia akan ditaati dan dipatuhi masyarakatnya, rakyatnya. Pemimpin yang konsisten dan konsekuen melaksanakan kata-kata, dan tak membiarkan kata-kata menjadi dusta berakhir nestapa. Karenanya, ibadah Qurban tak berhenti hanya sebagai udhiya - praktik mengorbankan hewan untuk ibadah. Karena penyembelihan hewan dan distribusi dagingnya kepada kaum mustahiq - yang berhak menerima -- hanya ritual atas keyakinan spiritual yang asasi.

Ibadah Qurban merupakan aksi spiritual untuk mencapai  'qurb' – yang berarti 'kedekatan' kepada Allah Pancipta, Sumber segala Kuasa, berlandaskan cinta dan kasih sayang, dilandasi oleh kesadaran, dilaksanakan dengan antusias, digerakkan oleh simpati, empati, apresiasi dan respek. Aksi melayani Allah sebagai kemuliaan untuk membalas kasih sayang-Nya kepada setiap insan dan semesta.

Kata kunci ibadah qurban adalah keikhlasan dan kesabaran memainkan peran utama manusia sebagai rahmat atas semesta, secara konsisten dan konsekuen menjaga - memelihara ekosistem dan ekologi demi kehidupan yang berkelanjutan, sebagai wujud syukur sebagai manifestasi ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Syukuri nikmat,  itu dan Allah akan terus menambah nikmat-Nya. Ingkari nikmat-Nya, pahamilah, betapa azab-Nya sangat pedih.

Apapun hal di balik realitas dari pandemi virus corona - Covid 19 - di abad ke 21, setelah epidemi black death yang melantakkan bangsa-bangsa Eropa dan kawasan mediterania di abad ke 14, dengan  i'tibar ibadah Qurban, kita dapat melihat proses peluruhan ketaatan dan kepatuhan bahkan pembangkangan terhadap Allah.

Manusia dengan segala ambisi dan kepentingan kekuasaannya yang hanya semenytara dan terbatas, telah mengubah fungsinya dari rahmat atas semesta, menjadi bencana bagi semesta. Kewajiban untuk syukur nikmat berubah menjadi kufur nikmat, mengikuti perubahan amanat menjadi khianat, sehingga rahmat berubah menjadi laknat.

Pandemi Covid-19 bukan lagi isyarat dalam mimpi, melainkan peringatan dalam nyata, agar manusia kembali memahami dan memanifestasikan esensi ibadah Qurban. Taat dan patuh kepada Allah sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya, dengan cara membenahi diri menjalankan fungsi sebagai rahmat atas semesta. Memelihara dan mengelola semesta dengan akhlak sebagai wujud nyata sebersih-bersih tauhid, sains dan siyasah kehidupan yang membahagiakan. Mulai dengan bertobat.

Caranya? Mencuci kekuasaan dalam genggaman dengan keikhlasan ndan ketaatan kepada Allah. Menjaga jarak dengan segala kemaksiatan, termasuk arus besar ekonomi ribawi. Menghindari kerumunan aneka alasan dan sistem yang mendorong kehidupan manusia jauh dari keberkahan (ketidak-adilan, ketimpangan sosial, dehumanisasi, keserakahan, ketamakan, dan kezaliman). Memberi waktu untuk Allah (beribadah fardhu dan sunnah, serta membantu kaum mustadh'afin dan sa'ilin) di tengah dinamika, kesibukan dan mobilitas hidup sehari-hari. Menyadari dan menunjukkan dengan perbuatan, bahwa ibadah, hidup, mati hanya untuk Allah semata. Berkarya kreatif dan inovatif sebagai ibadah kepada-Nya.. |

Editor : eCatri | Sumber : foto berbagai sumber
 
Humaniora
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 170
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 483
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
17 Agt 21, 15:10 WIB | Dilihat : 126
Merdeka sebagai Badui dan Cara Menyelesaikan Masalah
13 Agt 21, 12:59 WIB | Dilihat : 170
Adzan Pilu di Tengah Coronastrope
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 320
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1165
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1417
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya