
Catatan Bang Sèm
Rasa syukur teramat besar sungguhlah mesti mengalir di dalam diri, ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala memungkinkan kita, kembali bertemu dengan bulan Ramadan.
Rasulullah Muhammad s.a.w. yang mulia bersabda: "Wahai manusia! Bulan Allah yang penuh berkah, rahmat dan pengampunan telah datang kepada kalian. Bulan ini adalah bulan yang paling disukai di sisi Allah, hari-harinya adalah sebaik-baik hari, malamnya adalah sebaik-baik malam, dan waktu-waktunya adalah sebaik-baik waktu. Ini adalah bulan di mana kalian diundang sebagai tamu Allah dan ditempatkan di antara orang-orang yang dimuliakan Allah. Nafas kalian di dalamnya adalah (seperti) laku memuji [Allah], tidur kalian adalah tindakan ibadah, perbuatan baik kalian diterima, dan doa-doa kalian dikabulkan. Karenanya, mintalah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih untuk menolong kalian dalam berpuasa dan membaca Kitab-Nya (al Qur'an al Kariim) selama bulan ini. Sungguh nistalah mereka yang tidak mendapatkan ampunan Allah selama bulan Ramadan ini."
Rasulullah pun menyeru, hendaklah di bulan ini, kita meminta agar Allah tidak menutup pintu-pintu surga dan tidak membuka pintu-pintu neraka bagi kita. Seraya memohon, agar di bulan nan mulia ini, Allah tidak membelenggu kita, sebagaimana Allah membelenggu para setan.
Ramadan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan spiritual untuk meneguhkan aqidah, menegaskan dan menegakkan syari'at, regulasi yang mengatur tata kehidupan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Inilah bulan yang memberi ruang dan waktu yang luas untuk menambah-baik muamalah - interaksi sosial - politik - ekonomi dan bisnis secara dimensional. Sekaligus bulan untuk menambah-baik dan meningkatkan kualitas akhlaq mulia, mulai dari tata krama kehidupan sehari-hari sampai keberadaban dan peradaban.
Pada bulan ini, cinta dan kasih sayang, penghormatan dan kemuliaan insan yang bertaqwa -- mereka yang tunduk, patuh dan menyerah kepada Allah -- beroleh peluang untuk berlaku lebih mulia, bijaksana, arif, dan menghindari sejauh-jauhnya perilaku setan dan iblis, seperti menebar rumors (ghibah), hoax (buhtan), dan fithan (fitnah). Sekaligus bulan untuk melakukan introspeksi diri, mengkritisi diri sendiri, bercermin jernih mempelajari, mengenali dan menegaskan neraca yang sangat personal, namun berdampak sosial.
Maka, semestinyalah setiap kita menghidupkan kesadaran dan memanifestasikannya secara antusias untuk terus menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek dan cinta atas sesama.
Rahmat, Ampunan dan Pembebasan
Rasulullah Muhammad SAW menyeru, "Sesiapa yang bersikap bijak terhadap hamba-hambanya selama bulan ini, maka Allah akan bersikap lunak terhadapnya dalam penghitungan (amal perbuatannya pada Hari Kiamat). Sesiapa yang memeriksa amal-amal buruknya pada bulan ini, maka Allah akan menahan murka-Nya pada saat kelak ia bertemu dengan-Nya. Sesiapa yang memuliakan anak yatim pada bulan ini, maka Allah akan memuliakannya pada saat kelak ia bertemu dengan-Nya. Barangsiapa yang menyambung tali silaturahmi di bulan ini, maka Allah akan menyambung tali kasih sayang-Nya kepadanya pada ketika kelak ia bertemu dengan-Nya. Sesiapa yang membaca satu ayat Al-Qur`an pada bulan ini, maka pahalanya laksana pahala orang yang mengkhatamkan Al-Qur`an pada bulan-bulan lainnya."
Inilah bulan yang paruh awalnya menyediakan curahan rahmah, paruh pertengahannya menyediakan ampunan, dan paruh akhirnya menyediakan pembebasan insan muttaqiin yang wajib berpuasa terbebas dari api neraka dan petaka (itqum minan naar).
Maka manfaatkanlah setiap waktu di bulan Ramadan seluas-luasnya untuk menabung kebaikan dan kebajikan, dengan melakukan shawm (puasa) paripurna, agar yang diperoleh tak hanya rasa lapar dan dagaha, dan salat selama bulan ramadan - terkhusus qiyamul layl, sebagai salat yang mencegah perbuatan fahsya' dan munkar, bukan salat yang hanya berimbal rasa letih, seperti yang diisyaratkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah.
Shawm paripurna itu, adalah puasa akal budi, jiwa raga. Sayyidina Ja'afar as Shadiq mengemukakan, "Ketika kalian berpuasa, telinga, mata, rambut, kulit, dan seluruh anggota tubuh kalian juga harus berpuasa." Lantaran ibadah puasa, bukan hanya menahan diri dari makanan dan minuman. Ketika berpuasa, jagalah lidah dari perkataan dusta, tundukkanlah pandangan dari apa yang diharamkan oleh Allah, jangan bertengkar, jangan saling mendengki, jangan saling menggunjing, jangan saling mencaci maki, dan jangan saling berbuat zalim. Termasuk, menahan diri dari laku menuduh dan mendakwa yang tidak benar, berbohong, berkelahi, dan bercuriga.
Ramadan adalah bulan yang seluruh dimensi ruang dan waktunya, mesti dimanfatkan seluas-luasnya untuk menantikan atau bahkan bersiap menjemput akhirat. Ruang dan waktu untuk menempa diri menjadi manusia berkualitas yang tenang, rendah hati, sadar pada dimensi kehambaan, dan ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Salah satu cara yang mesti dilakukan adalah memelihara spirit i'tilaf (kebersamaan), menghidupkan kolaborasi (ta'awun) untuk dan dalam kebajikan, berikhtiar mencapai titik temu dan menghindari perselisihan (ikhtilaf).
Sabar dan Sehat
Adalah indah, bila sepanjang Ramadan kita selalu gumamkan istighfar, dan tak pernah lelah memohon, "Allahumma innaka 'afuwwun, tuhibbul al-'afwa fa'fu 'anna." (Wahai Allah, sesungguhnyalah Engkau - Maha Pengampun yang senantiasa senang mengampuni, maka ampunilah hamba).
Setarikan nafas, sepanjang Ramadan, Allah memberikan ruang dan waktu untuk lebih intens memahami dan mempraktikan laku sabar sebagai elemen pertama perjalanan spiritual manusia menuju Allah. Sabar melekat dalam puasa, dan menjadi cara para Rasul Allah untuk mendapatkan bantuan Allah menghadapi gangguan iblis, sebagaimana dilakukan oleh Musa as, Daud as, Isa as, dan Rasulullah Muhammad SAW.
Dalam konteks kita sebagai muslim, Ramadan menjadi semakin istimewa, karena di bulan inilah Allah menurunkan wahyu-Nya (al Qur'an al Kariim) pada malam Lailatul Qadar. Di sisi lain, kita meyakini apa yang dikemukakan Rasulullah SAW, bahwa ibadah puasa adalah salah satu cara terbaik untuk hidup sehat. Bahkan, penghulu para dokter (Hippocrates, Galen & Paracelsus) menempatkan puasa sebagai obat terbesar bagi manusia. Majalah Life (September 1996) pernah membahas khusus ihwal puasa, yang disebut sebagai cara revolusioner penyembuhan. Hal yang sama diikuti oleh lebih dari 500 artikel jurnal medis yang tersedia tentang terapi puasa.
Otto Buchinger; terapis puasa terbaik di Jerman yang berpengalaman lebih dari 100.000 kali penyembuhan dengan berpuasa, mengatakan: "Puasa, tanpa diragukan lagi, merupakan metode pengobatan biologis yang paling efektif... puasa adalah operasi tanpa operasi... puasa adalah penyembuhan yang melibatkan eksudasi, pengalihan, pelonggaran, dan relaksasi yang murni."
Ramadan dengan kewajiban ibadah puasa, adalah momentum istimewa bagi insan beriman mendalami ilmu tahu diri, agar manusia mampu belajar dari dirinya, 'ibdak binafsik. Paling tidak dalam mengelola nalar, nurani, naluri, rasa dan dria. Selamat berpuasa Ramadan.. |