Krisis Budaya Dampak Pandemi C19 di Amerika Serikat

Kejahatan Rasial Mengancam Warga Asia Amerika

| dilihat 406

Usianya baru 21 tahun. Robert Aaron Long, namanya. Mahasiswa yang semula kerap membawa AlKitab ke kampus dan gemar menyaksikan video religius, dari Georgia, itu awal Maret 2021 itu diberitakan Voice of America (VoA) kini menjadi bagian dari aksi kejahatan rasisme yang telah menulari kaum millenial Amerika Serikat.

Aksi kekerasan rasial yang ditujukan kepada warga negara asal Asia (Asia Amerika) dilakukan oleh kalangan Amerikan dari kelompok ras Afro America dan Europamerica, di penghujung pemerintahan Donald Trumph.

Dari sumber lain diketahui, aksi kejahatan rasial, itu memang dipicu oleh pernyataan dan perilaku Trumph, yang sejak memerintah 2016, kerap memantik isu rasial. Apalagi sejak pandemi corona virus (Covid 19) disebutnya dalam berbagai pidato resmi sebagai virus China.

Tak bisa dipungkiri memang, pandemi nanomonster  Covid-19 ini memang bermula dari Provinsi Wuhan, China.

Sejak nanomonster Covid-19 menerjang Amerika Serikat dan mengorbankan jutaan orang, akibat tak sigapnya Trumph merespon gejala awal -- bahkan dia dan isterinya, Melanie juga terpapar, negara yang kerap disebut superpower itu mengalami persoalan rumit.

Krisis kesehatan dan resesi ekonomi yang dialami negara, itu telah berkembang menjadi krisis politik yang berakhir dengan tumbangnya kekuasaan Trumph yang digantikan Biden - Kamala Harris, yang diwarnai dengan penyerangan para pengikut fanatik Trumph ke Capitol Hill, gedung parlemen, simbol demokrasi yang ternoda.

Situasi resesi ekonomi yang menyebabkan begitu banyak warga negara Amerika Serikat, Amerikanis, kehilangan pekerjaan dan mengalami depresi sosial yang berat. Termasuk Long, yang dituduh telah membunuh delapan orang, termasuk enam wanita Asia Amerika, di tiga spa di wilayah metropolitan Atlanta awal Maret 2021.

Long, yang juga drummer di band saat masih menjadi pelajar di sekolah menengah atas, itu belakangan putus kuliah dan menjadi pecandu seks. Dirinya, yang tak cepat mendapat tindakan hukum,  meskipun banyak tuntutan dari komunitas Asia, bahkan dianggap sebagai simbol ketidak-adilan baru yang bertentangan dengan prinsip demokrasi yang dianut sebelumnya.

Long, bahkan tak dikaitkan dengan kejahatan rasial, karena berkilah kepada polisi, bahwa dirinya melancarkan aksi pembunuhan atas wanita Asia-Amerika, itu dilakukannya untuk menghilangkan "godaan" seksual, bukan untuk menargetkan komunitas Asia.

Para penyelidik belum dapat menentukan motif kasus pembunuhan atas perempuan keturunan Asia, terutama, karena banyak dari mereka yang menyerang warga Asia- Amerika tidak sesuai dengan profil rasial Long.

VoA mengabarkan, kejahatan rasial kembali meletup awal Maret 2021. Di New York City, kejahatan rasial anti - Asia Amerika melonjak hampir sembilan kali lipat pada tahun 2020 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, hanya dua dari 20 orang yang ditangkap tahun lalu.

Data pada Departemen Kepolisian New York yang dianalisis oleh Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme, mengungkap, pelaku penyerangan adalah warga kulit putih, Afrika-Amerika (11), Hispanik kulit putih (6) dan Hispanik Hitam (1).

"Saya pikir itu mengejutkan," kata Brian Levin, direktur eksekutif pusat tersebut, kepada VoA. Levin mencatat, temuan itu bertentangan dengan asumsi yang dibuat oleh banyak orang bahwa pelaku kebencian anti-Asia sebagian besar adalah pria kulit putih yang marah yang menyalahkan China atas pandemi COVID-19. .

Situasi ini sudah diduga sosiolog Universitas Hasanuddin - Makassar, Sawedi Muhammad, dalam dialog di acara Tilik Bang Sém - Salam Radio, yang disiarkan live melalui saluran You Tube, Desember 2020 lalu.

Sawedi mengemukakan dalam dialog, itu salah satu persoalan prioritas yang akan harus dihadapi oleh Biden-Kamala adalah meningkatnya serangan kejahatan rasial kepada kelompok warga Asia-Amerika. Terutama, karena Kamala Harris (Wakil Presiden 2020-2024, berasal dari ras Asia-Amerika sekaligus Afro-Amerika.

Kamala yang tampil sebagai demokrat sejati, menurut Sawedi akan kewalahan menghadapi virus kebencian yang ditularkan Trumpis. Apalagi, parlemen terus menekan Trump, meski dia sudah turun tahta dan meninggalkan White House dengan cara yang tak lazim.

Tudingan Salah Arah

FBI (Federal Beurau of Investigation) mendifinisikan kejahatan rasial sebagai tindak pidana yang dimotivasi oleh bias terhadap ras, agama, kecacatan, orientasi seksual, etnis, jenis kelamin, atau identitas gender korban. Secara historis orang kulit putih bertanggung jawab atas sebagian besar kejahatan rasial yang dilaporkan ke FBI, tapi data mutakhir penangkapan dari New York yang menyoroti topik sensitif penyerangan komunitas Asia Amerika - belakangan hari, juga sering dilakukan oleh orang kulit berwarna.

Data yang mengemuka di New York Police Department (NYPD) juga terlihat di kota-kota dan negara bagian lain, bahkan secara kasad mata.

Chris Kwok, anggota dewan Asian American Bar Association of New York mengemukakan kepada VoA, "Yang tidak dibahas adalah, apa latar belakang pelakunya dan siapa yang didakwa dengan kejahatan rasial ini."

Data mutakhir dari New York menunjukkan, satu dari tujuh warga Hispanik yang ditangkap dalam serangan anti-Asia tahun lalu adalah seorang pria berusia 44 tahun, yang diduga menyerang dan memukul seorang lelaki kelahiran Hong Kong di Queens.

VoA juga mengungkap, di antara 11 orang Afrika-Amerika yang ditangkap tahun lalu terdapat empat gadis remaja yang didakwa dengan kejahatan rasial setelah menyerang seorang wanita Asia berusia 51 tahun dalam bus di Bronx, sambil menuduhnya menyebabkan virus COVID-19. Salah satu remaja memukul kepala wanita itu dengan payung. Jaksa kemudian mencabut tuduhan kejahatan rasial terhadap tiga lainnya.

Dari dua tersangka kulit putih yang ditangkap pada bulan Maret, salah satunya adalah Lynn Ferguson, 33. Ia didakwa melakukan kejahatan rasial, setelah dia bertemu dengan seorang wanita Asia di Manhattan. Ferguson meludahi dan menarik rambutnya, sambil bicara, "Kamu penyebab virus corona ada di sini!"

Menurut Levin, beberapa faktor dapat menjelaskan jumlah penangkapan non-kulit putih yang relatif tinggi di New York City. Salah satunya adalah populasi perkotaan kota yang beragam secara rasial.

Secara proporsional, kota ini memiliki 57 persen  lebih banyak orang Hispanik, 81 persen  lebih banyak orang Afrika-Amerika, 139 persen  lebih banyak orang Asia, dan sekitar 50 persen  lebih sedikit orang kulit putih daripada negara secara keseluruhan, dengan orang kulit putih sering tinggal di lingkungan yang tidak terlalu bercampur rasial. Levin mengemukakan pula, orang Afrika-Amerika lebih sering ditangkap daripada orang kulit putih.

"Banyak orang kulit putih yang terlibat dalam kejahatan kebencian anti-Asia mungkin buron," kata Levin.

Menanggapi lonjakan insiden kebencian anti-Asia, Departemen Kepolisian New York membentuk satuan tugas sejak tahun lalu. Wakil Inspektur Stewart Loo, kepala satuan tugas, mengatakan dia tidak dapat mengkonfirmasi statistik, "tetapi mereka sering menyesatkan."

Menjawab pertanyaan VoA melalui email, Loo menyatakan, "Saya hanya bisa memberikan fakta yang saya tahu, yaitu satuan tugas ini, yang dibentuk oleh kalangan perwira Asia dan Hitam di dalam NYPD.

"Pemimpin komunitas kulit hitam adalah yang pertama dan paling vokal secara terbuka mengutuk lonjakan kejahatan rasial terhadap orang Asia," ungkap Loo.

Jack McDevitt, profesor sosiologi di Universitas Northeastern dan salah satu penulis dua buku tentang kejahatan kebencian, memperingatkan agar tidak terlalu banyak membaca data.

"Jika Anda melihat data secara nasional, di komunitas mana pun pada tahun tertentu, Anda dapat memiliki sejumlah besar kejahatan rasial yang dilaporkan ke polisi karena begitu banyak yang tidak dilaporkan," kata McDevitt.

Namun demikian, McDevitt mencatat, sebagian besar pelaku kejahatan rasial cenderung berkulit putih. McDeVitt  menambahkan, "komunitas lain telah mencontoh serangan mereka terhadap apa yang telah dilakukan sejak lama oleh orang kulit putih."

Akan halnya Lee, mengatakan, menyalahkan pria Afrika-Amerika atas aksi kebencian anti-Asia adalah salah arah.

"Gambaran kriminalitas kulit hitam dan konflik Asia-Kulit Hitam membuatnya terlalu nyaman bagi pemirsa untuk mengurangi kejahatan kebencian anti-Asia menjadi konflik antara dua kelompok minoritas," kata Lee, merujuk pada rekaman video yang menunjukkan pria kulit hitam menyerang orang Asia, belum lama berselang.

Komunitas yang terpecah

Lonjakan kejahatan rasial anti-Asia telah memecah belah komunitas Asia atas respons penegakan hukum yang tepat.

Kaum progresif menentang tindakan polisi yang lebih keras karena khawatir tindakan itu dapat menyebabkan penangkapan Afrika-Amerika dan Hispanik dalam jumlah yang tidak proporsional, tanpa menghentikan kebencian.

Lee mengutip data yang menunjukkan bahwa peningkatan penangkapan di lingkungan Asia di empat kota besar AS tahun lalu tidak menghalangi insiden kebencian anti-Asia. Kendati lonjakan kejahatan rasial menuntut peningkatan penuntutan.

"Saya tentu memahami keinginan untuk tidak secara tidak adil mengkriminalisasi orang Afrika-Amerika dan Latin, tetapi saya pikir kami juga perlu memiliki pertanggungjawaban atas serangan ini," kata Kwok.

Seperti apapun kepolisian dan sejumlah analis mendekati kasus kejahatan rasial di Amerika Serikat ini kejahatan kebencian yang menargetkan orang Asia-Amerika meningkat hingga 150 persen  di kota-kota besar AS.

Masood Farivar melaporkan untuk VoA, serangan yang dipicu kebencian terhadap orang Asia-Amerika melonjak di kota-kota besar AS (sejak) tahun lalu - dalam beberapa kasus dengan persentase tiga digit. Bahkan Data statistik NYPD menunjukkan, penyerangan terhadap warga Asia-Amerika meningkat, ketika kejahatan rasial secara keseluruhan menurun. Selain itu, menurut sejumlah ahli di Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme dan Kebencian Universitas Negeri California, tren yang mengkhawatirkan terus berlanjut hingga tahun ini.

Pusat studi itu melansir informasi, ada 122 insiden kejahatan kebencian anti-Asia Amerika di 16 kota terpadat di negara itu pada tahun 2020, meningkat hampir 150persen  dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan itu terus terjadi, bila dilihat dari data independen yang dihimpun VoA.

Para pendukung hak-hak keturunan Asia Amerika mengaitkan rangkaian serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan retorika Presiden AS Donald Trump (2016-2020) yang menyalahkan China atas virus korona yang mematikan. Secara lebih luas lagi, para Trumpis - kaum radikalis, dari kalangan  warga biasa yang frustrasi atau marah oleh dampak ekonomi dan sosial dari pandemi, mengkambinghitamkan orang Asia-Amerika.

“Kepemimpinan politik di bawah Trump benar-benar menargetkan orang-orang yang dianggap sebagai orang China. Itu, Sinophobia, ”kata Chris Kwok, anggota dewan Asian American Bar Association of New York.

Peningkatan kejahatan rasial anti-Asia adalah yang tertinggi di New York City, kota terbesar di negara dengan populasi Asia yang cukup besar, di mana polisi menyelidiki rekor 28 insiden yang melibatkan korban Asia-Amerika, meningkat lebih dari sembilan kali lipat selama 2019.

Empat kota Amerika lainnya juga melaporkan peningkatan persentase tiga digit dalam kejahatan rasial anti-Asia: Philadelphia dan Cleveland masing-masing melaporkan enam insiden, naik dari dua pada 2019; San Jose memiliki 10, naik dari 4, sementara Los Angeles melaporkan 15, naik dari tujuh.

"Ketika sebagian besar kota mengalami penurunan kejahatan rasial secara keseluruhan, termasuk serangan terhadap orang Yahudi, yang baru-baru ini melonjak, serangan terhadap orang Asia meningkat secara material di sebagian besar kota, dan hanya menurun di Washington, DC," kata Levin.

Dia mengemukakan, meskipun berdasarkan sampel data yang relatif kecil, angka-angka tersebut "sangat menunjukkan, bahwa tahun 2020 (dan juga 2021) akan menjadi tahun terburuk abad ini untuk kejahatan rasial anti-Asia.

Lonjakan kejahatan rasial anti-Asia yang dilaporkan sejalan dengan data yang dilacak oleh organisasi advokasi Asia-Amerika, "Stop AAPI Hate."  Organisasi ini sudah melacak kebencian yang dibuat tahun lalu oleh beberapa grup Asia-Amerika, dan telah mencatat, lebih dari 2.800 insiden rasisme dan diskriminasi yang menargetkan orang Asia-Amerika sepanjang 2020. Paralel dengan itu, pelecehan verbal dan pengucilan terjadi lebih dari 90 persen  insiden, serangan fisik mencapai hampir 9 persen. Banyak dari korban adalah orang Asia non-Tionghoa yang rupanya dikira berasal dari Tiongkok.

 “Orang Asia Timur yang terlihat seperti Tionghoa sekarang mengalami hal ini, dan ini kembali ke sejarah panjang diskriminasi anti-Asia di negara ini,” kata Kwok tentang Amerika Serikat.

Stop AAPI Hate melaporkan, 126 insiden memakan orang Asia-Amerika yang berusia di atas 60 tahun. Sejumlah insiden terjadi di wilayah Teluk San Francisco bulan lalu, termasuk  korban, seorang warga pria Asia berusia 91 tahun, yang dengan kasar didorong hingga tersungkur ke tanah.

"Serangan kekerasan ini berdampak menghancurkan komunitas kami sebagai bagian dari peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kebencian anti-Asia Amerika selama pandemi COVID-19," ungkap organisasi STOP AAPI Hate.

Kwok mengemukakan, "ada tingkat frustrasi" di komunitas Asia-Amerika atas penolakan jaksa untuk mengajukan tuduhan kejahatan rasial. Tragisnya, pelaku kejahatan rasial, dikenakan pasal tuduhan percobaan pembunuhan di samping tuduhan lain, bukan kejahatan rasial. Jika saja kepolisian menggunakan pasal kejahatan rasial, hukumannya bisa lebih berat dan membawa efek jera, penjara yang lebih lama.

“Saya pikir mereka perlu benar-benar menilai kembali bagaimana mereka mendekatinya, terutama di era dimana kita berada, yang saya anggap sebagai area darurat, terutama bagi orang Amerika keturunan Asia karena mereka mengalami diskriminasi,” kata Kwok.

Dalam sebuah pernyataan, kantor Kejaksaan Distrik Manhattan mengatakan akan menambah hukuman denda. Tahun 2021, dengan pendekatan hukum semacam itu, diperkirakan penurunan angka kejahatan rasial tahun lalu menurun rata-rata 7 persen  di 15 kota yang dilacak oleh pusat studi kebencian dan ekstremisme.

Di New York City, misalnya, polisi menyelidiki 265 kejahatan rasial, turun dari 428 kasus, tahun sebelumnya. Dari lima kota yang melaporkan peningkatan, dua berada di California, termasuk San Jose, yang mengalami peningkatan sebesar 162 persen.

Pandemi nanomonster Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan di Amerika, termasuk pola kejahatan rasial.  Biden dan Kamala mesti memberikan prioritas terhadap persoalan ini, meski belakangan dia banyak mengangkat petinggi dari kalangan kulit berwarna, termasuk dari kalangan Asia Amerika.

Robert Aaron Long, terjebak dalam situasi kejahatan yang mengancam kebudayaan,  dan membuat Amerika Serikat mengalami kemandekan peradaban, itu | VoA , Jeanny, Claire

Editor : eCatri | Sumber : Voice of America, USA Today, dan sumber lain
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 201
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1066
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1282
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Polhukam
17 Apr 21, 15:31 WIB | Dilihat : 389
China dan Tantangan Regional Indonesia
02 Apr 21, 11:07 WIB | Dilihat : 312
Cogan Lampau Politik Lepau Malaysia
31 Mar 21, 15:06 WIB | Dilihat : 407
Kejahatan Rasial Mengancam Warga Asia Amerika
01 Mar 21, 11:09 WIB | Dilihat : 295
Fenomena Politik Miras
Selanjutnya