Sosok Selebritas

Donald Trump : Si Tajir dari Queen - New York City

| dilihat 1634

PAGI belum lagi beranjak. Dingin kota New York mendekap kawasan Wallstreet, ibukota keuangan dunia itu. Sambil menikmati kopi hangat, saya bergegas di atas pedestrian depan The Trump Building.

Seorang sahabat yang jalan beriringan dengan saya bercerita, di bangunan yang nampak gagah, bersebelahan dengan bekas pusat pemerintahan Amerika (sebelum pindah ke Washington DC) sebagian aktivitas bisnis Donald Trump dikendalikan.

Donald Trump yang menyunting Melania Trump dan dikaruniai lima pewarisnya: Donald, Ivanka, Eric, Tiffany, dan Barron salah satu kaum tajir Amerika Serikat. Lelaki berusia 67 tahun, kelahiran Queen – New York City, 14 Juni itu berkibar lewat bisnis real estate dan televisi. Tapi, dia juga dikenal sebagai pemilik berbagai wahana hiburan beken di Los Angeles.

Lelaki dengan tinggi 1,91 meter keturunan German – Scottish lulusan University of Pennylvania, itu dikenal sebagai orang kaya yang lumayan bijak mengelola dananya. Kemampuan mengelola harta, itulah yang membuat Trump dipandang layak menjadi panutan kaum tajir di seantero jagad. Tak hanya di Amerika Serikat. Kekayaannya, boleh jadi melebihi dari apa yang dibayangkan orang banyak. Donald Trump ditaksir mempunyai kekayaan bersih di atas sebesar $ 3,5 Miliar. Kekayaan itu diperolehnya dari bisnis media dan entertainmen yang menuntut kreativitas tinggi.

Tahun 2003, Trump memainkan perannya sebagai produser eksekutif dan sekaligus pemancu acara reality show di stasiun tv NBC yang beken, The Apprentice. Di Indonesia, program acara televisi ini pernah dibuat, tapi tak cukup mendapat respon pemirsa. Maklum, selera programer dan pemirsa televisi baru sebatas membuat sinetron dangkal dan hiburan legalila.

Tahun 2004 Trump mengajukan aplikasi brand untuk slogan “You’re fired” alias Anda Dipecat untuk program reality show yang menjadi ruang menemukan para eksekutif profesional Amerika itu.

Lewat acara yang dipandunya itu, Trump beroleh bayaran USD50,000 per episode atau sekitar USD700.000 untuk musim pertam. Programa siaran tv itu ternyata meroket, dan untuk keberhasilannya, Trump kemudian dibayar sebesar USD3 juta per episode. Ini, merupakan salah satu honor pembawa acara televisi tertinggi di masanya.

Sebagai seorang tokoh bisnis yang sohor, meski tak takut membelanjakan hartanya, Trump dianggap seorang yang berfikir efisien dalam bahasa bisnis yang visioner. Ia berpandangan, jangan pernah mengharap pendapatan yang besar bila tak mampu memberikan belanja modal yang memadai.

Sebagai kaum tajir yang sekaligus selebriti, Trump sadar betul tentang performa selebritasnya yang memancing kamera televisi dan jejaring pemberitaan menjadikannya obyek berita sekaligus rumors. Tahun 2011, dia ‘mencuri’ perhatian awak media, ketika menghabiskan kekayaannya sebesar USD100 juta untuk membeli pesawat Boeing 757 dan mengubah interior pesawat jet itu sesuai seleranya. Dia, antara lain, mempercantik interior pesawatnya itu dengan lapisan emas 24 karat.

Tahun 2012 tak sedikit orang Amerika Serikat yang memandang Trump pantas bertanding dalam pemilihat Presiden Amerika Serikat. Lelaki dengan banyak mimpi ini, nyaris tergoda, seperti kisahnya kepada majalah Forbes. Tapi, meski berjanji akan menjawab harapan orang Amerika, itu di final musim Celebrity Apprentice (Juni), ia urung terjun ke dunia politik.

Donald Trump memusatkan perhatiannya pada bisnis, termasuk menyerahkan New York Mets yang dimilikinya untuk membantu temannya, pemilik Mets Fred Wilpon. Belakangan, Trump mempromosikan lapangan golf-nya melalui Golf Channel dan memproduksi seri baru reality show untuk MTV bertajuk Ladette to Lady.

Bintang terang masih bersama Donald Trump, yang juga menyediakan sasana tinju di pusat bisnis hiburannya di Los Angeles. Namanya berkibar di mana-mana, termasuk menjadi merk alkohol, bahkan kasur. Trump menyebut, dari namanya yang menjadi brand beberapa produk itu, setidaknya ia mengantungi income sebesar USD6 miliar.

Berbagai berita menyebut, kini Trump mulai menimbang aksi sosial menjadi bagian dari komunitas philantopies. | nsch / foto : sem haesy

 

Editor : N Syamsuddin Ch. Haesy | Sumber : [The Rischest dan berbagai sumber]
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1890
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2262
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1412
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 292
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 383
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 549
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 536
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya