Puisi Gus Nas dan Sem Haesy

Ode Buat Artidjo Alkotsar

| dilihat 281

Puisi H.M Naruddin Anshoriy CH atawa Gus Nas

HIKAYAT TONGKAT

Ode buat Artidjo Alkotsar

 

Tongkat tegak lurus itu kini telah rebah ke tanah

Padahal terik matahari sedang tajam menatap bumi

Kemarau keadilan membara di sudut-sudut negeri

 

Tongkat tegak lurus itu kini telah dirobohkan oleh usia

Pada senja yang kebingungan mencari makna

 

Di kegelapan keadilan ini aku menyaksikan Sang Dewi Yustisia melenggang melenggok begitu kenesnya

Hukum dan keadilan yang acapkali tajam dan tumpul sesuai selera

 

Tapi di tanganmu semua menjadi beda dalam mengucap makna

Keadilan yang bersembunyi pada palu di meja hijaumu tak bisa dibeli

Sebab hukum bukan komoditi yang halal untuk transaksi

 

Aku menyebutmu tongkat tegak lurus yang menancap di kalbu

Ketika bayang-bayang bengkok memantulkan delik dan duplik di layar kaca

Dan pasal-pasal karet dijualbelikan pada lapak-lapak meja hijau dimana-mana

 

Di tanganmu palu hakim itu mengetuk nurani

Kebenaran dan keadilan menemukan titik-temu menjadi daulat hukum yang sesungguhnya

 

Aku mengenalmu sudah begitu lama

Bertatap muka di kantor LBH Jogja tahun 1983 itu menjadi cara Tuhan mempertemukan kita

Saat Orde Baru begitu jumawa dan kita berjuang untuk kesetaraan hak-hak manusia

 

Saat reformasi tak kunjung menemukan jati diri

Dan korupsi kian mengganas di negeri ini

Palu keadilan di tanganmu keras bernyali

 

Tapi palu itu telah rebah di bumi

Tongkat kurus tegak lurus itu pun sudah harus dikafani

Pada Sang Maha Adil semua pasti kembali

 

Gus Nas Jogja, 28 February 2021

 

ZIKIR EMBUN

 

Zikir siapa ini

Menyimak bening embun

Mendengar kesiur angin dan suara-suara serangga

Menziarahi degub jantung dalam tikungan rindu

 

Jum'at pagi yang basah oleh gerimis doa

Kusebut 99 Nama pada kafilah kerinduanku

Tapi dahaga cinta tak kunjung reda

 

Tuhanku

Tangis siapa ini

Meratap-ratap di hari Jum'at

Mengharu-biru di kecamuk cinta dan tadarus rindu

 

Pintaku satu

Jangan pernah palingkan cinta bertabur debu ini

Pada puncak rahmatMu

Kekasihku

 

Gus Nas Jogja, 19 Februari 2021

 

CINTAKU PAGI INI PENUH RAHASIA

 

Seiring rindu berliku-liku mendaki puncak kemesraanMu

Cintaku pada pagi ini penuh rahasia

 

Setelah semalam kupotong menjadi sepertiga saja

Kusibakkan selimut ini dengan jiwa meronta

Agar wabah dunia segera sirna

Agar badai pandemi lenyap selamanya

 

Sembari merajut fajar makrifat

Kususuri labirin cinta

Berliku-liku dan penuh pesona

Sebab menemukan jalan kembali

Hanya zikir lathoif yang selalu tabah menerangi sukma

 

Tuhanku

Jika esok atau lusa kita bertemu

Ijinkan hanya cinta dan rinduku yang tulus menatap wajahMu

Cinta dan rindu yang bersemayam di keabadian semesta

 

Biarlah bermilyar cinta mencari dan menemukan jalan rahasia

Ijinkan satu cintaku kupersembahkan padaMu tanpa tersisa

 

Gus Nas Jogja, 19 Februari 2021

 

 

Puisi N. Syamsuddin Ch. HAESY

 

CHAMPAWAT

 

Angin kering.

Debu beterbangan sepanjang Bareilly.

Di peluk gunung gunung berkabut.

Cakrawala siang manjakan pucuk pucuk daun di pepohonan.

Ketenangan terhampar panjang

digelar sepanjang hari.

Di Banbasa hutan jati berdiri tegak.

Di sini harapan hari esok disimpan.

Pinus tegak menggugus menyangga langit.

Bau hutan bau tanah kesegaran alam indah dicipta Allah.

Di bibir sungai kutulis puisi damai.

Kudengar cerita tentang Jim Corbett.

Pemburu rimau pemangsa manusia.

Ooo.. Allah tak pernah bosan manjakan insan

Di Champawat senja menjemput.

Inilah kota purba pusat kuasa

Som Chand mashur menegak dinasti merintah negeri.

Inilah kota purba saksi legenda Raja terbanting.

Rakyat murka melemparnya dari tebing.

Kemashuran kuasa berakhir di siksa.

Kejayaan berakhir sansai.

Kejam dan rakus ikut binasa.

Tenggelam di silam masa.

 

Seorang pangeran elok perangai. Dipinang raja bagi sang puteri.

Diminta rakyat diberi kuasa.

Di Champawat kurenung kisah

Suara rakyat suara Tuhan.

Siapa mau melawan?

 

Champawat-India, April 1992

 

KURMAVATAR

 

kura-kura merayap dalam batin yang sunyi

cahaya mentari memancar kala pagi

cahaya keemasan jaman lampau

sinari Chand yang merangkak, berdiri, berlari, mengepalkan tinjunya, menghunus pedangnya,

mengangkangi punggung-punggung bukit dan lembah

kura-kura merayap di lembah peradaban negeri ini

Kurmavatar jelmaan Wiçnu

kebajikan dilumatkan angkara murka

syahwat dan birahi mengalahkan cinta kasih

serdadu-serdadu bergerak tanpa irama

menguasai lembah dan punggung bebukitan

siapa kan hirau dengan kebajikan

sebelum sejarah dikuak dengan kejernihan pikir

Kurmavatar selamanya kan jadi kura-kura

berteman rengeng gumam do'a sepanjang waktu

ah.. kini nikmati saja keindahan Kuil Nagnath

penanda masa kuasa Kranteshwar Mahadev

keindahan seni dan irama budaya jadi hiasan

terkuak kelak, kala sejarah memercikkan kebenaran

Karmavatar selamanya kan jadi kura-kura

tak lagi berubah jadi Wicnu

matahari lebih suka memancarkan cahaya

pesona keindahan Kuil Baleshwar

tempat Çiwa rehat kala turun ke lembah ini

Kurmavatar selamanya jadiu kura-kura

merayap di bukit-bukit batu berukir

memburu cinta yang tinggal cerita

 

Champawat, April 1992

 

Editor : eCatri
 
Polhukam
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 50
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 143
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
29 Agt 21, 17:01 WIB | Dilihat : 100
Taliban Hadapi Tantangan Baru
27 Agt 21, 16:01 WIB | Dilihat : 103
Sebagian Terbesar Menteri Masih Politisi
Selanjutnya
Lingkungan