Italia Boyong Piala Eropa via Penalti

| dilihat 160

Ahad (11/07/21) relatif cerah.  Stadion sepak Wembley yang dirancang arsitek Norman Foster, Ken Shuttleworth, dan Rod Sheard, dan dibangun di atas kawasan UCFB (University Campus of Football Business), Wembley, London, dengan ketinggian 133 meter itu nampak rapi.

Stadion yang dibuka pertama kali tahun 2007, setelah stadion lama dirobohkan sepanjang tahun 2002 - 2003, ini telah siap menggelar pertandingan final Piala Eropa 2001. Dengan kapasitas 90 ribu penonton, stadion yang menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola utama, termasuk pertandingan kandang tim nasional Inggris ini, menampakkan segaknya sebagai stadion kebanggaan tim sepak bola nasional Inggris, yang dikelola oleh National Stadion Wembley, Ltd.

Sudah sejak pukul 11.00 jelang tengah hari, kawasan di sekitar stadion sudah didatangi para penggila bola, termasuk para hooliganis. Berjam-jam mereka berkerumun di situ. Pas tengah hari, pukul 12.00 ada di antara mereka yang di kerumunan membuat ulah tak sedap, sehingga memancing polisi bertindak. Tak ada konfirmasi, apa sungguh yang terjadi, kecuali aksi yang cenderung anarkis. Polisi cepat menaklukan, meskipun penghalang arus di jalan kawasan Wembley sempat diserang oleh mereka.

Pukul 13.45 pintu dibuka. Para penonton, supporter kesebelasan nasional Inggris dan Itali bergerak masuk stadion. Mereka mengambil tempat masing-masing sesuai tiket yang mereka pegang.

Pukul tiga petang waktu setempat, pertandingan dimulai. Pertandingan dipimpin wasit Bjorn Kuipers. Ini petandingan yang istimewa, karena berlangsung di saat pandemi Covid-19 belum sepenuhnya minggat dari Eropa, khasnya Inggris. Apalagi London dengan penduduk yang dinilai tak mudah diatur, karena sangat heterogen.

Pertandingan itu, sudah diantisipasi sebelumnya, karena penggila bola dari Manchester yang menjadi hunian utama imigran asal Asia dan Afrika.

Kick off dimulai. Pertandingan masih belum menampakkan permainan yang memikat dari dua kesebelasan nasional yang punya sejarah panjang di atas lapangan hijau dengan segala kebolehannya.

Hanya satu menit pertama saja permainan tak menunjukkan pesona, sampai Harry Maguire melakukan tendangan sudut, tetapi tendangannya keluar. Namun momen itu tak dimanfaatkan Italia. menendangnya keluar, tetapi Italia tidak bisa memanfaatkannya.

Paham bahwa Italia tak mengambil momen itu. Luke Show ambil peluang. Dia mengambil bola dengan tenang, lantas melakukan tendangan voli yang manis, mengecoh kiper Italia. Gol dari tendangan Shaw, memberikan point kemenangan buat Inggris: 1-0.

Gol yang dihasilkan tendangan Shaw, boleh dibilang bersejarah, karena merupakan gol tercepat yang pernah ada di awal pertandingan final Kejuaraan Eropa.

Inggris di atas angin. Pada menit ke 4, datang umpan silang datang dari Trippier, starter baru di lineup, masuk untuk Bukayo Saka. Tapi tak menghasilkan apa-apa.

Italia makan waktu tujuh menit untuk menstabilkan gerakan 'mesin  pembalasan.' Hal itu ditampakkan geliatnya pada menit ke 11. Tapi setiap kali mereka bergerak ke depan, selalu gagal. Di menit ke 17, Italia makin menunjukkan spiritnya.

Namun, serangan itu gagal karena offside yang sangat ketat atas Emerson, bek kiri Italia. Kamera jeli menyorot kerumunan pemain dan mengunci Leonardo Spinazzola yang cedera.

Italia kian menunjukkan spirito combattivo. Mereka merangsek dan mengontrol penguasaan bola selama beberapa menit terakhir. Tapi, pemain Inggris cukup piawai menyerap tekanan, itu. Mereka membuat pemain Italia 'tersedak' beberapa kali di menit ke 19.

Pelatih Italia cermat membaca situasi, apalagi ketika di menit ke 22 - 23 lutut Jorginho bermasalah, lantas keluar lapangan dan segera ditangani untuk penyegaran. Pada menit ke 25, Jorginho kembali masuk ke lapangan, setelah serangan Italia via Insigne tak menemukan Immobile di dalam kotak.

Pada menit ke-28, Insigne menembakkan bola dari jarak sekitar 30 meter. Ia kecewa. Pada menit ini, ritme permainan Italia tak nampak, terlihat kurang bagus. Bahkan pada menit ke 33, pemain Italia hanya mengumpulkan banyak operan bola, tak banyak berarti, dan bola tidak bisa dijangkau Emerson yang berada di garis akhir.

Peluang baik diperoleh Italia pada menit ke 35. Federico Chiesa menahan Declan Rice dan kemudian melesat ke arah gawang dengan tembakan kaki kiri yang melebar ke kanan gawang Inggris. Tapi, semenit kemudian, Luke Shaw menguasai bola di kakinya dan berada di kotak Italia lagi, dia memberi harapan lagi bagi Inggris. Namun, umpan silangnya berhasil ditepis oleh Emerson. Italia mampu menetralisir ancaman Inggris.

Pemain Italia terkesan kurang cepat berkoordinasi. Immobile dan Insigne, seperti belum pernah main bersama. Menit ke-39: Penyerang Italia Immobile dan Insigne terlihat seperti belum pernah bermain bersama.

Pada menit ke-42, terbuka set piece ke dalam kotak untuk Italia dan Harry Maguir membersihkannya. Italia menguasai bola. Ini situasi paling menggemaskan, karena ruang peluang terlewatkan, karena semuanya di luar kotak.

Sterling terjatuh di kotak Italia pada meni ke 44, setelah adu bahu. Wasit menyuruhnya bangun. Kali ini, wasit Kuipers terbilang toleran dan memainkan fungsinya dengan baik. Kuipers membiarkan permainan mengalir dan peluit tersimpan di sakunya.

Perpanjangan waktu terjadi di menit ke 46. Momen ini dimanfaatkan Immobile dengan tendangan voli di dalam kota yang diblok, bola dimanfaatkan Verratti yang kemudian melepaskan tembakan ke arah kiper Jordan Pickford.

Tiga menit kemudian, bek tengah Bonucci melepaskan tembakan jarak jauh dengan keras. Tapi, itu bukan eksekusi yang baik. Inggris masih menikmati gol-nya di menit ke 2. Nampak mereka puas dan membiarkan Italia menguras tenaganya untuk membalas.

Kamera menyorot wajah Roberto Mancini, pelatih Tim Italia. Terbayang, Mancini sedang merancang siasat memandu pemainnya, memanfaatkan momen tepat membalas, melasakkan bola ke gawang Inggris. Wajah Mancini tak dapat menyembunyikan apa yang ada di benaknya. Dia memantik inspirasi pemainnya untuk mencetak gol  bagi Italia di babak kedua, sebelum memikirkan pemain pengganti untuk Ciro Immobile dan Lorenzo Insigne. Boleh jadi, Mancini juga bersikap sangat berhati-hati, karena beberapa kali Inggris merangsek dan membahayakan tim Italia.

Peluang untuk membalas sangat diperhitungkan Mancini, melihat suasana hati tim Inggris yang sudah mengantongi satu gol. Pada menit ke-46, babak kedua berlangsung. Penonton mulai memusatkan perhatian pada tim Inggris, yang akan menjadi juara. Italia dianggap tak punya daya lagi untuk membalas.

Pendukung Italia makin was-was, ketika di menit ke 48 wasit Kuipers menghukum Nicolo Barella dengan kartu kuning, lantaran melakukan pelanggaran atas Harry Kane. Beberapa saat, Sterling jatuh lagi di kotak penalti! Tapi wasit Kuipers wasit menyatrakan Sterling bermain terus, padahal Sterling menjatuhkan dirinya ke tanah.

Pada menit ke 51, Italia berpeluang membalas, karena beroleh  tendangan bebas dari jarak kurang 20 meter. Insigne yang mengeksekusinya, tetapi melepaskan tendangan melengkung tinggi. Di menit ke 53, melakukan lagi tendangan melengkung kaki kanannya yang jauh dari sasaran.

Pada menit ke 55, Domenico Berardi, pemain pengganti Immobile masuk lapangan, dan Bryan Cristante masuk menggantikan Barella, yang menerima kartu kuning awal. Semenit kemudian, Bonucci menerima kartu kuning kedua bagi Italia, karena pelanggaran pada set piece, sundulan Maguire melambung tinggi.

Dua menit kemudian, Italia mulai menampakkan performa khasnya. Chiesa -- pemain paling berbahaya Italia  dalam pertandingan ini -- terhubung dengan Insigne yang bermanuver di dalam kotak dan melepaskan tembakan dari sudut sempit yang diblok kiper. Namun, peluang terbaik untuk Italia di menit ke 62 yang ditembakkan Chiesa yang mengarah ke sudut kanan bawah dihentikan oleh Pickford yang melakukan diving.

Italia kembali bikin was-was pendukungnya. Di menit ke-64, pada tendangan sudut untuk Inggris, sundulan John Stones ke gawang yang berpeluang mencetak gol kedua, ditepis oleh kiper Italia, Donnarumma.

Italia membenahi pola perminan secara intuitif. Di menit ke 67, setelah perebutan di kotak penalti melalui tendangan sudut, Bonucci melasakkan bola ke gawang Inggris. Sundulan Verratti membentur tiang kiri,  Bonucci mengikutinya di garis gawang, dan... gol !!! untuk Italia.

Inggris tak rela dengan posisi goal seri 1 - 1. Pada menit ke-71, Garett Southgate, pelatih tim Inggris, memasukkan Bukayo Saka untuk menggantikan Kieran Trippier.  Namun pada menit ke 73, pemain Italia Berardi hampir melakukan tendangan voli dan melepaskannya melewati kiper. Sayang, tendangannya terlalu tinggi.

Ambisi dan semangat tim Inggris untuk memenangkan pertandingan dan merebut Piala Eropa nampak mengemuka. Southgate memasukkan Jordan Henderson masuk menggantikan Declan Rice di lini tengah. Nampak sekali Inggris mulai goyah, akan halnya tim Italia terpompa dan merasa bisa memenangkan pertandingan, memboyong Piala Eropa ke Roma. Mungkin terlalu bersemangat, pemain Italia Federico Chiesa lari kuat dan kemudian tersaruk di lapangan, cedera agaknya, sehingga tim kesehatan Italia datang untuk membantunya.

Chiesa tak bisa diselamatkan, ketika kamera membidiknya, terkesan dia harus keluar. Tapi Chiesa tetap kembali ke lapangan. Terlihat dia mengatur langkahnya.

Pendukung Italia, was-was, ketika pada menit ke-84,  Insigne mendapat kartu kuning, karena melakukan pelanggaran atas Kalvin Phillips. Chiesa memang harus keluar pada menit ke 85 dan digantikan oleh Federico Bernardeschi menggantikannya. Dua menit kemudian, serbuah pitch tertunda, permainan dilanjutkan, tapi kurang asyik untuk ditonton.

Terjadi perpanjangan waktu, beberapa menit kemudian. Ah.. kali ini Giorgio Chiellini mendapat kartu kuning, karena menarik kerah kaos tim Saka, setelah dia melewatinya. Di akhir menit ke 90, skor masih 1 -1.

Italia memulai perpanjangan waktu dengan memasukkan Andrea Belotti, menggantikan Lorenzo Insigne, yang keluar lapangan dengtan tertatih, efek kartu kuning.

Sterling mendapoatkan bola di sisi kiri kotak pertandingan pada menit ke-96,  tapi Chiellini masuk dan membersihkannya. Permainan defensif yang bagus terlihat. Satu menit kemudian,  saat sepak pojok , bola jatuh ke tangan pemain Inggris Kalvin Phillips yang melepaskan tembakan berbahaya, melebar ke kiri.

Italia terus memperkuat tim. Pada menit ke-97, Manu Locatelli masuk gelanggang, menggantikan Verratti. Manu Locatelli punya performa dua gol yang luar biasa di babak penyisihan grup. Inggris tak mau kalah, memasukkan Jack Grealish pemain favorit suporter, menggantikan Mason Mount.

Tapi, pada menit 104, tim Inggris terancam bahaya.  Umpan silang pemain Italia, Emerson dari kiri dan Bernardeschi nyaris terkoneksi. Bola mengenai Pickford. Belotti mengambil bola dan melakukan tembakan lanjutan, lalu meminta sepak pojok, tapi tidak diberikan.

Harry Maguire mendapat peringatan wasit karena melakukan pelanggaran atas penyerang Italia Andrea Belotti. Bernardeschi menembakkan bola ke gawang, tapi dihentikan oleh Pickford.  Skor masih tetap 1-1, ketika perpanjangan waktu usai.

Adu penalti kemudian berlangsung. Berardi menambah 1 skor untuk Italia. Kane menutup dengan satu gol, Bonucci dan Pickford membuat skor menjadi 2-2. Pendukung Italia menarik nafas lega, ketika tendangan Marcus Rashford melenceng.  Bernardeschi melaksanakan tugasnya dengan tepat di tengah, Italia unggul 3 - 2. Dan skor tak berubah, karena tendangan Jadon Sancho,  Jorginho dan Bukayo Saka tak mengubah skor. Italia menang dengan skor 3 - 2.

Mimpi Italia memboyong Piala Eropa ke Roma menjadi kenyataan.. | rana, tique, zohdie

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 129
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 363
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 292
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 383
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 549
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 535
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya