Sepak Bola dan Akalbudi Bangsa

| dilihat 1668

MENGELOLA turnamen sepakbola, dari sisi pandang budaya, adalah mengelola kematangan jiwa dan terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Tak sekadar mengelola event, menyiapkan klub yang akan berkompetisi, dan menghadirkan pada jagoan. Karena di lapangan sepakbola, antara lain, kita menemukan cermin peradaban itu.

Pertandingan yang kacau, dan dibaluri huru hara, baik yang dipicu haloganisma akibat pengaruh alkohol atau pelepas kemarahan akibat depresi sosial, merupakan isyarat dan pertanda masyarakat tak sehat. Tak peduli di Eropa, Amerika Selatan, ataupun Asia.

Beranjak dari pemikiran semacam ini, semestinya, setiap klub sepak bola, apapun bangsanya, mesti memahami dengan seksama esensi sepakbola yang harus selalu menunjukkan sportivitas dan good governance.

Saya sepakat dengan seorang teman, yang selalu gusar acapkali turnamen sepakbola bakal digelar. Selain karena para penonton nyaris sulit dikontrol dan dikendalikan, depresi sosial yang ditimbulkan oleh situasi politik dan ekonomi, juga menjerumuskan khalayak ke dalam situasi yang sangat emosional. Pada saat itulah, siapa saja bisa menjadi korban.

Seluruh stakesholder persepakbolaan, selain mesti selalu menyempurnakan seluruh instrumen regulasi persepakbolaan. Juga mesti duduk bareng untuk merumuskan persepsi hingga visi persepakbolaannya. Dengan cara demikian, persepakbolaan dikelola berdasarkan komitmen kolektif yang mengikat siapa saja. Mulai dari pemain, wasit, tim manajer, hingga penonton.

Pengorganisasi penonton melalui fans club, semestinya dikelola agar tak terjerumus ke lembah ‘fanatisme buta’. Dalam konteks itulah, akalbudi menjadi sedemikian penting. Itulah sebabnya, semua pihak, khususnya yang mempunyai pengaruh terhadap massa, harus merasa terpanggil. Paling tidak, untuk mengelola persepakbolaan secara baik dan benar.

Dalam bahasa lain boleh dikatakan, persepakbolaan mesti diurus dengan lebih serius. Tak hanya menjadi event olah raga bernilai ekonomi belaka. Melainkan, sebagai bagian dari keseluruhan proses pematangan akal budi bangsa. Akankah kesadaran demikian dimulai dari Indonesia? |

 

Editor : administrator
 
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 343
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 512
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 499
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 435
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya
Seni & Hiburan
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 327
Industri Game Naik Saat Pandemi
01 Mar 21, 15:51 WIB | Dilihat : 265
Ode Buat Artidjo Alkotsar
09 Feb 21, 15:26 WIB | Dilihat : 310
Puisi Gus Nas Ihwal Pers sampai Bencana
Selanjutnya