Puitika dalam Retorika Tubuh Tiga Karya Kreatif Endang Caturwati

| dilihat 341

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Pelajaran pertama ilmu filsafat mempertemukan siapa saja dengan retorika dalam pengertian basis kebahasaan dan komunikasi verbal, seperti pandangan Isocrates yang sezaman dengan Plato, kemudian Aristoteles lewat Rhetoric lalu Cicero lewat De Oratore.

Aristoteles menggali dan meluahkan pemikirannya tentang retorika (sebagai ilmu) dan Cicero (menempatkannya sebagai seni) berbicara. Pada perkembangan lanjutnya, retorika -- dalam konteks pemikiran Cicero -- diposisikan sebagai seni berbicara yang bertegak di atas tiga konsep sentral dalam pemikiran Yunani dan Latin sebagai cara membuktikan kebenaran dari apa yang dikatakan, merekonsiliasi kebajikan penyimak, dan membangkitkan semua emosi yang bermanfaat bagi penyampai atau penerima pesan dalam pembicaraan.

Dalam pandangan Aristoteles, retorika menghimpun tiga variabel: Ethos, Pathos, dan Logos dalam satu kesatuan cara menciptakan persuasi secara efektif dalam melontarkan suatu gagasan melalui kemampuan bicara. Ini sesuai dengan pemahaman, retorika menurut Aristoteles, merupakan kefasihan dalam mengelola nalar, naluri, rasa dan dria untuk menemukan kemungkinan cara persuasi tentang setiap subjek, yang menjadi topik.

Ethos merupakan daya tarik etis yang berkaitan dengan kredibilitas atau karakter penyampai pesan pemikiran. Pathos merupakan daya tarik emosional, yang mampu menarik perhatian (dengan memikat emosi khalayak). Akan halnya Logos, merupakan daya tarik nalar dalam memberikan cara dan alasan untuk meyakinkan khalayak. Dalam keseluruhan konteks retorika, Aristoteles menekankan pentingnya karakter dan kredibilitas.

Retorika Aristoteles menunjukkan, bahwa argumen - pesan yang ditawarkan melalui wacana dan performa tergantung pada karakter kreator atau penampil (penutur), dengan kemungkinan predisposisi yang disampaikan kepada khalayak. Hal itu tergantung pada cara (way) dan alasan (reason) yang mutakhir dari apa yang disampaikan kepada khalayak. Kesemuanya memberi gambaran tentang nalar dan naluri di balik sesuatu yang disampaikan.

Menurut Cicero, esensi retorika tersebut, sekurang-kurangnya mesti menampakkan dengan jelas lima prinsip dasar, yaitu: inventio sebagai  identifikasi topik - tajuk yang disampaikan; dispositio yang menetapkan urutan sub topik-tajuk diperlakukan; elocutio: pilihan 'bahasa' yang paling tepat; memori atau retensi yang menyadari, bahwa pesan yang disampaikan mesti berpindah ke dalam ingatan khalayak, dan karenanya suatu performa (khasnya pidato atau presentasi seni) harus dilakukan dengan hati; kemudian, actio  yang bekaitan dengan laku performa (intonansi dan aksentuasi, suara, mimik, dan  gerak).

Konteks retorika dalam artikel ini, lebih saya posisikan pada wilayah non verbal, dengan pemahaman, bahwa tari adalah puitika bahasa tubuh, sebagai presentasi gagasan yang mesti mengandung seluruh variabel dan prinsip retorika. Terutama, karena dalam tari bahasa tubuh (body language) menjadi dominan, ketika kata dan verbalisma tak diperlukan. Retorika dalam tari menjadi gaya yang mengidentifikasi koreografernya, melalui performa para penarinya sebagai performers.

Dengan pendekatan ini disertai perspektif semiologis, saya mencermati tiga karya tari Endang Caturwati - Guru Besar Seni Pertunjukan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung, yaitu: Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma melalui medium video. Media video menempatkan tiga karya tari itu dalam frame yang sama satu dengan lainnya dengan varian titik pandang dan sudut pandang yang berbeda.

Astungkara disajikan di atas panggung dengan format teater gedung pertunjukan dengan kompleksitas  properti dan aksesoris panggung - termasuk tata cahaya yang kompleks dan disajikan oleh lima penari (Anggi, Hani, Iyank, Mega dan Pina), melibatkan Anis Sujana (koreografer), Setiawan Sabana (artistik), Sanjay cs (musik).  

Akan halnya Munajat untuk Bumi (Endang sekaligus sebagai penari)  dan Parisukma (ditarikan oleh penari Hani) disajikan di ruang presentasi yang sangat terbatas (tangga rumah) dengan interior rumah sebagai properti artistik dan tata cahaya minimalis. Musik komposisi Suhendi Afryanto melatari Munajat untuk Bumi, dan musik komposisi Rudy Rodex melatari Parisukma.

Astungkara menyampaikan pesan perlawanan terhadap kegelisahan dan perjuangan manusia (penari) untuk menerima haknya sebagai pewaris karya tari khas melalui proses 'berluka,' yang bisa ditafsirkan pula sebagai perjuangan panjang mempertahankan eksistensi dan mengembangkan nilai kearifan - kecerdasan lokal di tengah sistem sosial dan budaya abnormal (dalam kepungan globalisasi  dan glokalisasi kapitalistik - industrial) yang menempatkan budaya kitsch di atas budaya tradisi.

Endang menarasikan dengan spirit perlawanan: "Masyarakat dan seni tradisi tak terpisahkan, bagai Matahari dan Bumi. Datangnya globalisasi, menghadirkan situasi dramatik: seni tradisi tersingkir, terhempas, terbuang, namun seniman tradisi tretap bertahan, tak goyah diguncang diterpa badai, tak lekang diterpa panas, dan tak lapuk diguyur hujan."

Munajat untuk Bumi secara non naratif mengekspresikan perjuangan manusia menghadapi ancaman eksternal dari luar dirinya (COVID-19) dan internal (disiplin) dalam meminimalisasi petaka yang ditimbulkan oleh virus sebagai nanomonster yang mengancam eksistensi manusia.

Parisukma secara langsung mengekspresikan perjuangan melawan diri sendiri. Perjuangan dimensional menyelami kedalaman batin manusia, human inner depth.

Endang menarasikan lebih moderat, "Manusia dilahirkan dalam keadan fitrah, laksana kertas putih yang memperoleh ilmu dan pengetahuan. Menjadi manusia sempurna dengan nalar, naluri, rasa , dan dria. Ketika Kertas sebagai medium kebajikan dan peradaban, berubah dengan ruang yang lebih luas.  Manusia harus pasrah mengikuti sang waktu. Mengikuti berbagai fenomena yang memberikan arah perubahan, dengan tetap menjaga nilai hakiki."

Kedua narasi tersebut meminjam pola sikap kaum sofis, mengacu pada Isocratesian dan Cicerian, meski tujuannya tidak pragmatis, karena kuatnya idealisasi. Berbeda dengan Munajat untuk Bumi yang cenderung Aristotelian mengeksploitasi emosi di awal, dan kemudian melepaskannya pada persuasi nalar dan nurani untuk menerima realitas. 

Dari sudut pandang retorika non verbal, dalam konteks eksplorasi dan eksplorasi tubuh, mimik dan gerak ketiga karya tari menggambarkan kefasihan retorika koreografer dalam merancang idealistic frame untuk menyampaikan gagasan - inspirasi dan ekspresi kontemplatifnya. Koreogafer piawai dalam mengharmonisasi ethos - pathos - logos dan menyunting konsep gaya berfikir Isocrates, Plato, Aristoteles, dan Cicero dalam meluahkan problem yang mempengaruhi manusia dalam suatu momen dramatik. Kaya makna dalam isi pesan, kaya ornamen dalam pola dan ragam gerak, yang berhasil dimainkan diekspresikaan oleh para penari dan seluruh eksponen presentasi karya tari itu, sesuai dengan ruang presentasinya masing-masing. Ketiga karya tari dengan kapasitasnya masing-masing, secara retoris, berhasil memperpendek jarak imaji koreografer, tari, artistik dan musik dengan khalayak, termasuk khalayak yang jauh jaraknya (dalam dimensi ruang - waktu) dengan ruang presentasinya.

Sebagai koreografer sekaligus penari, tiga tarian ini,  meminjam istilah Valérie Colette-Folliot -- Guru Besar Seni Pertunjukan dan Musikologi - Universite d'Evry Val d'Essone - Paris -- , Endang berhasil menerapkan prinsip, "menari saat beraksi dan berfantasi."

Menurut Folliot, seluruh anasir bahasa tubuh, terutama mimik, gestur, dan gerak tubuh merupakan mode komunikasi non-verbal. Tarian memberikan asupan untuk dipikirkan sesuai dengan nalar. Erat hubungannya dengan ide-ide lepas dari urutan akal. Terutama, saat seorang koreografer, penari dan seluruh elemen presentasi tarinya, memberi pesan kepada khalayak. Terutama untuk menjelaskan dengan caranya sendiri secara deiktik. Bila para orator menunjukkan ekspresinya dari kata-kata berapi-api yang menggelorakan rasa. Koreografer dan penarinya, membuat segala segala sesuatu menjadi hanya makna dan esensi, tanda, simboli (kode) dan bahasa 'bisu.' Seluruh tubuh manusia, dalam tarian, adalah jaringan semiotik.

Meminjam pendekatan Barthes dan Greimas, saya mengamati Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma mendahulukan kepekaan, intuisi, naluriah, pengaruhnya, yang diinisasi dalam proses kreatif dengan ketangkasan logika -- pemikiran intelektual -- seorang yang rasionalis. Intelektual yang memadupadan nalar, naluri, dan rasa dalam merespon suatu situasi dan kondisi tertentu secara empiris. Meskipun, kebalikan dari formula Pierre Legendre, professor ekologi di Université de Montréal, yang menyatakan "menari untuk hasrat menjadi orang lain," Endang justru menarik empirisma orang lain ke dalam hasrat dirinya sendiri menyikapi fenomena kehidupan personal dan komunal di sekelilingnya. Endang menjadikan tari sebagai instrumen ekologis untuk membaca ekosistem (dalam pengertian social environment) yang berkembang dinamis di sekelilingnya.

Dari sudut pandang ilmu retorika, mencermati Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma, pertanyaan Folliot, "dari segi fisiknya, tidak bisakah kita menyarankan bahwa tarian berasal dari lingkup pra-bahasa itu sendiri?"

Melihat esensi pesan tiga karya tari tersebut, pendapat Folliot, bahwa sebagai karya kreatif, tari tidak mengacu pada sifat hewani dari manusia, seni tari merayakan manusia daripada yang secara spiritual digerakkan oleh sesuatu yang ilahi (via naluri dan rasa). Sepanjang pengamatan saya, dekade 90-an, Endang mengalami proses transformasi spiritual, seperti tercermin dari karyanya, Kelangan.

Dalam Astungkara dan Parisukma, kentara sekali, secara spiritual, formula dan platform tari karya Endang, dalam pandangan Folliot, berorientasi pada hasrat 'menyatukan' manusia, karena proses kreatifnya terhubung secara imajinatif dan nyata, menghidupkan humanbeing(s) - dimensi insaniah, baik inward maupun outward.

Retorika bahasa tubuh Endang dalam Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma, dengan pilihan komposisi musik dan artistik (termasuk kostum - kecuali pada Parisukma), memperlihatkan, bahwa tari memadupadan secara kuat antara nalar, naluri, rasa, dan dria dalam seluruh kesatuan gerak tubuh yang menempatkan manusia sebagai subyek. Dengan cara demikian, penari secara naluriah, bisa merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri, sepenuhnya hidup, dalam 'being in the world'; aktif, kohesif, karena terintegrasi ke dalam suatu aksi, sebagai bagian dari gerakan kolektif dan juga gerak individual.

Kekuatan Endang mengolah puitika tubuh, menjawab pertanyaan tentang seberapa jauh seni koreografi dan seberapa jauh tarian dapat menjadi refleksi manusia dan kemanusiaan. Meskipun perlu digali dari aspek neurosains, bagaimana memori beroperasi melalui ekspresi tubuh.  Pendekatan neurosains menjadi penting, terutama, ketika argumen filsafat Plato dan Aristoteles tentang ruang inspirasi dan ruang kontemplasi pada pemikiran manusia, seringkali dipahami secara terpisah.

Padahal, dalam tari -- sebagaimana halnya musik -- prosedur simbolis dalam bahasa non verbal -- komposisi dan arrangement -- menguatkan komunikasi non verbal - batin ke batin, dan rasa ke rasa. Walaupun tak mudah menjawab pertanyaan: Kapan gerakan menari dapat membuat pikiran bertindak dan menjadi puitika retoris, saat tarian -- sebagaimana halnya Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma menegaskan fakta: "melakukan gerakan adalah mengatakan (sesuatu)."

Presentasi (pertunjukan tari) sekaligus menawarkan pemikiran tentang tubuh. Terutama, ketika kita melihat dengan seksama pertunjukan tari klasik, seperti Bedaya, Bedaya Rimbe, dan Srimpi, juga Tari Topeng Ceribon, Seudati dan Pendet. Atau ketika kita menyaksikan performa tarian lain, seperti Tari Piring, Zapin, Mak Inang, Tor Tor, Serampang 12, Pakarena, dan sejenisnya.  

Mencermati Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma, -- dengan menggunakan semiologi sebagai alat metodologi umum, saya sepakat dengan pandangan Folliot, bahwa secara khas, retorika dalam tari mesti dimulai dari asumsi bahwa koreografer bdan penari melakukan tindakan 'bahasa' karena, sebagai individu atau orang yang berkualitas, ia melakukan tugas-tugas yang nyaris terabaikan, padahal mereka memberikan makna, emosi, dan pesona untuk mengenali dimensi manusia dan kemanusiaan. Bahkan dapat menjadi penunjuk arah mengembalikan fenomena dalam realitas hidup pertama, ke garis azimuth suatu masyarakat dan bangsa. Mengusik kesadaran secara simbolis dan abstraktif tentang deformasi sosial.

Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma, menurut saya, perlu telaah khas untuk mengidentifikasi logika berfungsinya tubuh penari dalam tarian berada dalam konteks historisnya. Institusi pendidikan tinggi kesenian, khasnya departemen seni pertunjukan, perlu melakukan riset mendalam untuk melakukan transformasi guna mengeksplorasi garis besar artistika, estetika, dan etikanya. Tak hanya dalam pengenalan lingkup genre estetika, seperti Barok, Klasisisme, Romantisisme, Modern, Kontemporer -- yang terus berkembang ke masa depan.

Puitika dalam retorika tubuh karya tari Endang Caturwati, menghadapkan kita pada tantangan baru: perubahan minda dramatik tentang budi. Ini relevan dengan pepatah, "yang kurik kundi, yang merah saga, yang baik budi, yang indah bahasa, runtuh rumah karena sendi, rusak bangsa karena budi."Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma secara retoris, menghidupkan budi.. yang belakangan hari 'pergi entah ke mana,' meninggalkan realitas sosial bangsa ini.. |

 

Artikel terkait : Tari Astungkara dan Parisukma Merayakan Zaman Kertas di Awal Era Digital dan Jurus Estetik Dosen ISBI Melawan COVID19

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1265
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1656
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 837
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1262
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Humaniora
01 Jul 20, 20:27 WIB | Dilihat : 49
Misu Misu
10 Jun 20, 21:37 WIB | Dilihat : 696
Abdul Buthun versus Insaniadiy Menghadapi Petaka
03 Jun 20, 22:49 WIB | Dilihat : 321
Sapu Lidi
27 Mei 20, 07:27 WIB | Dilihat : 210
Serangan COVID-19 Merusak Paru Paru secara Abadi
Selanjutnya