Dimensi Haji

| dilihat 67

Bang Sém

Lebih dari 1,5 juta jama'ah haji telah tiba di Makkah al Mukarramah. Secara bergelombang, mereka dengan pakaian ihram, telah dan tengah melaksanakan tawaf qudum, tawaf awal penanda mereka telah datang,  memenuhi panggilan Allah Ta'ala. Tawaf paling bermakna yang 'menggetarkan' dimensi kedalaman insani. Khasnya bagi mereka yang baru pertama kali melihat Ka'bah Baitullah dan melakukan awal rangkaian ibadah pemungkas ke-Islam-annya.

Sejak Senin (25/5/26) sampai Rabu (27/5/26) setiap jama'ah mempertemukan ibadah dengan dimensi yang luas. Bergulat dengan kesadaran asasi di dalam diri mengenali keberadaan dirinya, sungguh sebagai insan yang tengah menjalin koneksinya dengan Allah, semesta, dan sesama makhluk.

Tanpa kecuali, selama tiga hari puncak ibadah haji, setiap jama'ah berada dalam pusaran pertemuan laku rasionalitas dan irrasionalitas, mengharmoni relasi nalar, naluri, rasa, dan indra dalam ritual khas memaknai hakikat eksistensi diri sebagai rahmat atas semesta (rahmatan lil alaamin).

Selama tiga hari itu juga, terbentang ruang kesadaran untuk mengenali diri di tengah titik temu dan titik singgung makrokosmis - mikrokosmis. Sekaligus menemui dan mengenali siapa diri sesungguhnya dalam kesetaraan dan keadilan, kejelasan, kepastian, dan keutuhan (kecuali ketaqwaan dan nilai kemanfaatan sosialnya) di hadapan Allah.

Sejak dari Makkah, Arafah, dan Mina -- termasuk singgah di Musdhalifah -- setiap jama'ah dipandu melakoni prinsip syariat dan ibadat dalam satu tarikan nafas. Ditupang oleh aqidah dalam aksi muamalah yang dihidupkan oleh Akhlaq.

Seluruh rangkaian umrah: tawaf sampai sya'i -- termasuk berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah, sebagaimana dilakukan pertama oleh Siti Hajar mencari sumber air -- secara esensial membangunkan dan menghidupkan kesadaran tentang harmonitas hidup duniawi berdampak ukhrawi. Khasnya dalam menempuh puncak pencapaian kehidupan bahagia yang terbebas dari petaka.

Proses ibadah haji dari perspektif pendidikan sepanjang hayat -- dari buaian ibu hingga ke bibir makam -- memberi ruang pemahaman asasi tentang pembentukan watak disiplin pribadi dan disiplin sosial pembentuk integitas diri. Mulai dari ketaatan terhadap aturan pelaksanaan agenda secara konsisten, tepat waktu, jelas program, patuh dalam mengemban amanah -- sesuai prinsip assignment ilahiah --, dengan pemahaman yang utuh dan luas dalam menentukan metode (antara intuitive reason di satu sisi dan the way of action -- cara melakukan -- di sisi lain).

Tamattu - Qiran - Ifrad

Sebagai ibadah yang menyandingkan ibadah ragawi dan ruhani pelaksanaan ibadah haji dapat dihampiri dengan  kualifikasi :

Tamattu - gembira --  melakukan ibadah umrah lebih dulu (dari tawaf sampai tahallul) sehingga berpeluang melepas ihram sesudahnya sampai 8 Dzulhijjah. Konsekuensinya, jamaah wajib membayar denda (dam). Kualifikasi ini dianjurkan, merujuk pada 'penggalan' .. bertaqwalah kalian sesuai  kesanggupanmu." (Q.S At Thagabun : 16);

Qiran -- menggabungkan niat, lalu berihram dan aksi melaksanakan ibadah umrah dan haji bersamaan. Konsekuensinya wajib membayar denda (dam);  dan

Ifrad melaksanakan ibadah haji saja tanpa melakukan umrah, sehingga jama'ah mengenakan ihram  sejak dari tempat miqat sampai usai seluruh rangkaian ibadah haji, sehingga tak harus membayar denda (dam).

Di sisi lain, seluruh rangkaian ibadah haji mengandung pembelajaran tentang  menjalani kehidupan secara nyata, antara lain dalam melakukan transformasi menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar. Antara lain dengan menyempurnakan aksi menegakan hukum (law enforcemnent) menjadi penegakan keadilan (justice enforcement); Menyempurnakan daya kemuliaan dan keindahan religius menjadi penyempurnaan tamaddun - peradaban; dan, Menyempurnakan peri kehidupan sepenuh cinta, kasih sayang dan berdampak langsung, menjadi kehidupan berkemanusiaan.

Selain hal tersebut, ibadah haji sebagai pamungkas rukun Islam, memberikan pembelajaran penting dalam menggerakkan transformasi total manusia (individu dan sosial) yang berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Terutama bila hendak dipahami, bahwa ibadah haji memberi pelajaran asasi tentang watak baik dan bijak manusia. Mulai dari kesadaran tentang eksistensi Allah  Ta'ala sebagai superior - adidaya yang kekuasaannya paling absolut, tak terbandingkan dan tak tersandingkan, serta sangat  unik - istimewa..

Ibadah haji pun merupakan ibadah yang menghidupkan kesadaran menjalan kehidupan secara qana'ah - menerima takdir yang diberikan Allah  Ta'ala di puncak ikhtiar yang menegaskan, bahwa sabar dan pasrah merupakan ujung dari aksi dinamika insan menjalani proses kehidupan dengan ikhtiar. Termasuk cara mengubah nasib menjadi takdir terbaik, melalui do'a - permohonan dan rayuan -- insan kepada pencipta-Nya.

Mengejawantahkan Syahadah

Ibadah haji, menghidupkan menebarkan keadaban dan peradaban (akhlaq - fatsoen) kehidupan. Wujud kongkretnya, tidak melakukan aksi kriminal dalam makna luas. Selama proses ibadah haji berlangsung, berlaku larangan 'membunuh' fauna sekecil apa pun, seperti semut dan aneka serangga.

Larangan 'mematikan' flora, bahkan termasuk tindakan mencabut rumput. Apalagi 'membunuh' karakter, dengan ucapan dan tindakan yang tak patut, seperti ghibah (rumors), buhtan (hoax), fithan (fitnah), apalagi namimah (adu domba).

Tentu, aksi dan tindakan sadar menguatkan Tauhid di dalam diri, disertai dengan kemauan dan kemampuan mengejawantahkan syahadah, menegakkan salat, dan melaksanakan shaum, seraya melunaskan zakat - infaq - sadaqah dalam praktik kehidupan pragmatis sehari-hari. 

Seluruh jama'ah haji, dengan mengenakan ihram, wajib melakukan wuquf -- kontemplasi dan melayari katarsis -- dengan mengenali diri, tahu diri, dan mawas diri sebagai bagian penting dari adab. Apalagi kini, ketika tenda-tenda tempat wuquf dan berdo'a sudah dilengkapi oleh perangkat pengatur suhu. Al hajj Arafah. Tiada haji tanpa wuquf di Arafah.

Di Arafah setiap jamaah haji, juga melatih diri untuk tidak 'berselingkuh' (berbuat syirk) kepada-Nya. Karena hanya Allah belaka yang harus paling amat sangat digandrungi, tiada yang lain. Hanya Allah !

Allahlah yang memungkinkan insan memahami dan memenuhi tanggung jawab mengharmonisasi daya sentripetal dan sentrifugal di dalam diri -- melalui tawaf. Penggerak utama daya hidup optimistis, dan menjaga baik gelora bara cinta kepada-Nya. Disempurnakan dengan  melontar jamarat (ula, wustha, dan aqabah) di hari tasyrik dengan kesadaran penuh untuk tidak berteman dan tidak berkongsi dengan syaitan nan terkutuk.

Karenanya dalam seluruh proses ibadah haji, beragam do'a dihantarkan. Menembus berlapis atmosfer hingga mencapai arasy-Nya. Antara lain: "Allahummaj’al hajjana hajjan mabruan, wa ‘umrotana ‘umrotan mabruran, wasa’ yana sa’yan masykuro, wa dzanbanaa dzanban maghfuro, wa ‘amalana ‘amalan sholihan maqbula, watija rotana tijaarotan lan tabuur, yaa ‘aalima maa fis shuduur, akhrijna mina dzulumaati ilannuur.”  Maknanya, “Duhai Allah, jadikanlah haji kami, haji mabrur. Umrah kami, umrah yang terkabul, sa’i kami, sa'i yang -- bergelimang -- syukur. Dosa kami, dosa yang Engkau ampuni. Amal saleh kami, amal yang Engkau terima dan niaga kami niaga yang tidak merugi. Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kami, keluarkan kami dari kegelapan ini menuju cahaya.”

Karenanya, batin tergetar  kala takbir, tahlil dan tahmid kumandang dalam talbiyah : "Labbaik.. Allahumma labbaik. Labbaik la syarikalah labbaik. Innal hamda wa nikmata la ka wal mulq.. La syarikalah.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. wa lillahilhamd.." [ Hamba penuhi panggilanMu duhai Allah, kupenuhi panggilan-Mu.. tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnyalah segala puji, nikmat dan seluruh kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu..  Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar ]. Wujud nyata ketaatan, keikhlasan dan kesabaran dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, Siti Jahar, isterinya dan Nabi Ismail, puteranya. Cahaya yang memancar dari keluarga yang saqinah dan mawaddah bertabur rahmah. |

 

bait al hikmah - bonjer, 25.05.26

Editor : haedar
 
Sainstek
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 442
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 708
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 811
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya