Renungan Ramadan

Ihwal Ghibah - Buhtan - Fitnah

| dilihat 4814

GHIBAH atau rumors menjadi dosa yang tak terampunkan, sebelum pihak yang menjadi sasaran ghibah, mema’afkan. Rasul­ullah Muhammad SAW, memberi perhatian terhadap hal ini. Ghibah, ujar Rasulullah, adalah bila kamu berkata tentang se­seorang,  sesuatu yang melukai hatinya.

Sesuatu rumors dikatakan ghibah, bila apa yang digunjingkan memang begitulah faktanya, bila tidak berarti tuduhan palsu. Alias buhtan, yang menurut Rasulullah SAW, dosanya lebih besar. Dan bila kita melakukan rekayasa sistemik mengarang cerita, untuk tujuan membangun citra buruk ter­hadap seseorang, maka hal itu disebut fitnah. Kua­lifikasi kejahatannya, lebih kejam dari pembunuhan.

Di abad modern dan di jagad politik, buhtan dan fitnah yang kualifikasi dosanya setara dengan syirk (me­nyekutukan Allah SWT),  seringkali diper­gunakan. Sasarannya jelas: character assasi­nation, pembunuhan karakter. Bahkan, untuk melakukan kedua hal itu, orang rela membiayainya dengan sangat mahal.

Imam al Ghazali, dalam Ihya’ Ulum ad-Din, banyak sebab mengapa manusia senang bergunjing, memutar-balikkan fakta, dan menebar fitnah. Apa­lagi di jagad politik. Antara lain untuk memperolok, agar yang diperolok terlihat hina, dan menyenang­kan orang yang memperolok. Lalu, untuk meng­ekspresikan kebencian dan amarah, dan membang­un perasaan khalayak ramai di bawah kendali ke­bencian, dan antipati.

Lalu, untuk merusak hubungan, mendiskredit­kan, dan memutus silaturahim seseorang dengan khalayak ramai. Termasuk, untuk mengalah­kan lawan, musuh, saingan, dalam bisis, pekerjaan, dan dalam kompetisi memperoleh kekuasaan berdasar­kan kehendak rakyat.

Menyampaikan kebenaran tentang seseorang yang dilakukan oleh mereka yang tertindas, tidak termasuk dalam kategori ghibah. Sesuai dengan firman,”Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang teraniaya..” (QS. An Nisa:148). Termasuk memberitakan kejahatan yang telah diputuskan oleh hakim.

Mari secara sadar kita setop kebiasaan ghibah, buhtan, dan fitnah. Tak terkecuali, meng­hentikan kebiasaan buruk iblis: mencari-cari ke­salahan orang lain, mengumpat, dan berburuk sangka kepada Allah dengan mengeluhkan nasib diri. • N. Syamsuddin Ch. Haesy

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
Humaniora
26 Mei 26, 06:53 WIB | Dilihat : 486
Dimensi Haji
21 Mei 26, 21:54 WIB | Dilihat : 462
Jamaah Haji Syarikat Islam Apresiasi Peningkatan Layanan
Selanjutnya