
ISFAHAN - TEHERAN | Jum'at Mubaraq yang juga Jum'at Agung (3/4/26) seolah menjadi momen untuk mencatat 'pengayaan platform' media sosial. Sekaligus isyarat telah terjadinya 'serangan balik budaya.'
Di sela eskalasi dinamis dan suasana panas perang -- yang dipaksakan oleh -- Amerika Serikat (AS) dan zionis Israel, para pejuang Iran yang berkait erat dengan aneka rudal, senjata berteknologi tinggi.
Jurnalis Iran, Z. Agharezaei yang bekerja untuk kantor berita WANA-Iran, mencatat dan melaporkan sisi lain perang yang masih berlangsung, tanpa kecuali perang media -- media arus utama dan media sosial.
Agharezaei mencatat kesannya, "Pergeseran ini mewakili "serangan balik budaya.' Dengan alat yang sama, yang pernah digunakan musuh untuk mempermalukan kaum tertindas, Iran kini -- justru -- mengirimkan nama-nama pahlawan hati nurani global ke angkasa."
Pesan-pesan itu tak hanya memilih berbagai format dan platform media arus utama dan media sosial yang sedia ada (facebook, X, trust, instagram, youtube dan sejenisnya)
"Pesan-pesan rudal Iran telah menunjukkan bahwa di dunia saat ini, kekuatan keras (rudal) dan kekuatan lunak (media) saling terkait erat. Tanda-tanda ini telah mengubah rudal menjadi "duta pencari keadilan" yang melintasi batas geografis dan menjaga agar nama-nama mereka yang coba diboikot oleh media arus utama Barat tetap hidup," tulis Agharezaei.
'Tubuh" rudal tak lagi hanya besi bisu yang melsat ke udara dan mencari sasarannya, termasuk gedung kantor berita resmi milik pemerintah zionis Israel, sebagai pembalasan atas serangan AS + Israel versus Iran.
Bila pekan lalu, tampak potret sosok Presiden AS Donald Trump dengan caption (keterangan) singkat satire, di ujung pekan ini, aneka ragam rudal, juga 'membawa ke angkasa raya' pesan-pesat nurani yang mengekspresikan kreativitas, termasuk untuk kepentingan katarsis.
Ada juga, gambar sesosok serdadu IDF (Israel Defence Force) yang diselimuti bendera zionis Israel, diikat di badan rudal dan siap diluncurkan ke angkasa. Pesan tersurat kepada para serdadu IDF, bisa dipulangkan ke negerinya kapan saja dengan cara sedemikian.

Serdadu Kreatif Iran
Pesan-pesan yang ditempelkan di tubuh rudal Iran telah menunjukkan, bahwa di dunia saat ini, daya keras (hard power - rudal) dan daya lunak (soft power - media) saling terkait erat satu dengan lainnya.
Rudal tak hanya menjadi salat satu alat utama sistem persenjataan (alutista) perang. Pesan-pesan hati nurani yang mengutip pernyataan-pernyataan khas -- sejumlah tokoh dunia -- ini telah mengubah rudal menjadi 'duta pencari keadilan' yang melintasi batas-batas geografis dan budaya. Juga untuk menjaga -- dan merawat ingatan -- agar nama-nama mereka yang coba -- bahkan sudah -- diboikot oleh media arus utama Barat tetap hidup dalam ingatan.
Agharezaei mencatat, di dunia kontemporer kini, makna kekuatan tidak hanya ditentukan oleh perang opini media propaganda di medan perang.
Serdadu kreatif, juga memanfaatkan badan rudal balistik menjadi media yang lebih berpengaruh daripada kantor berita utama. Di tengah kecamuk perang AS-Israel versus Iran ini, rudal Iran pun mendarat di dunia maya dan opini publik global jauh sebelum menghantam targetnya.
Slogan, kalimat, dan gambar yang tertera pada badan rudal-rudal ini, dalam catatan Agharezaei' telah pula melampaui batas tradisi militer, menjadi simbol solidaritas internasional melawan imperialisme, pendudukan, dan genosida.
'Pesan rudal' ini merupakan jalinan relasi antara pertumpahan darah di kawasan perang dengan kesadaran yang terbangun di jantung Barat Asia.
Salah satu dimensi paling menonjol dari fenomena ini, tulis Agharezaei, adalah peringatan terhadap individu-individu dari masyarakat Barat untuk terus bangkit sekaligus melawan spirit melawan ketidakadilan di dunia.

Poster Bushnell dan Corrie
Tentu juga menarik, kala ditubuh rudal Iran, dapat ditemukan gambar dan pesan Aaron Bushnell —perwira Angkatan Udara AS yang membakar dirinya sendiri di depan kedutaan Israel di Washington kala memprotes genosida di Gaza.
Ada juga 'poster' Rachel Corrie -- aktivis perdamaian Amerika yang kehilangan nyawanya di bawah roda buldoser Israel selama melakukan protes di Rafah — yang telah memicu refleksi dan beresonansi secara luas.
Tindakan tersebut telah memicu reaksi kekaguman, antara lain dari Susan Abulhawa, penulis Palestina-Amerika yang terkenal. Abulhawa menulis dengan takjub kesannya: “Iran adalah satu-satunya pemerintah yang menghormati para pahlawan Amerika ini, yang kematiannya telah diabaikan -- dan tegerus dari ingatan -- oleh kelas Epstein politik dan media AS.”
Di lapisan lain, ungkap jurnalis -- yang biasa meliput dan menulis berbagai topik sosial, budaya, dan politik yang berkaitan dengan Iran dan Timur Tengah yang lebih luas -- ini pesan-pesan rudal tersebut dikaitkan dengan simbol-simbol kebangkitan Islam di kawasan tersebut.
Selama gelombang operasional ke-88 dari “True Promise 4,” sebuah kutipan dari mendiang Perdana Menteri Turki anti-Zionis, Necmettin Erbakan, dicantumkan pada badan rudal: “Israel tidak memahami bahasa kata-kata; mereka harus diajak bicara dengan bahasa kekuatan.”
Pesan ini, menurut Agharezaei tak hanya mengingatkan pada warisan Erbakan, tetapi juga menciptakan gelombang di dalam Turki sendiri. Fatih Erbakan, putranya --- dan pemimpin 'Partai Kesejahteraan Baru' (Yeniden Refah) --- kembali menyuarakan sikap ayahnya ihwal stasiun radar Kürecik. Fatih Erbakan menekankan perlunya penutupan segera pangkalan yang melayani kepentingan imperialisme.
Agharezaei yang juga kerap menulis opini -- ihwal Keagamaan dan Politik, pentingnya ziarah Arbaeen dan hubungannya dengan perlawanan regional -- juga emberi perhatian dalam konteks 'pesan rudal' yang menyegarkan ingatan tentang mereka yang tewas di kapal Mavi Marmara (2010) — yang dibunuh oleh komando zionis Israel saat mencoba menerobos pengepungan Gaza.
Dia mengungkap pula perihal pengguna media sosial Turki yang membagikan gambar-gambar tanda - pesan rudal ini, seraya menyatakan rasa terima kasih kepada Iran.

Pembalasan Atas Martir Mavi Marmara
Netizen Turki, antara lain menulis: “Mulai sekarang, jangan ada yang mengatakan bahwa pembalasan atas para martir Mavi Marmara belum dilakukan.”
Tulisan ini menunjukkan bahwa pesan-pesan rudal ini telah berhasil menyembuhkan perasaan yang terluka dari bangsa-bangsa di kawasan tersebut.
Agharezaei yang biasa menulis hal-hal unik budaya Iran, ini juga mencatat cuplikan informasi dan isu-isu terkini, dari Pulau Epstein hingga Seruan 'No King' dalam aksi jutaan rakyat AS di berbagai kota negerinya.
Pesan-pesan ini, menurutnya, menunjukkan kesadaran yang cerdas secara media, tentang kontradiksi perilaku para pembela hak asasi manusia yang memproklamirkan diri, membangun hubungan langsung dengan massa yang berdemonstrasi di masyarakat Barat.
Di rudal-rudal tersebut juga dituliskan tentang pesan-pesan yang mengekspresikan “rasa terima kasih.” Pesan-pesan yang menghormati para jurnalis Gaza, yang gugur di Gaza. Pun nukilan pesan komandan seperti Abu Obeida yang disambut dengan antusias oleh pengguna media sosial Arab.

Rudal Iran sebagai Podium Penghormatan
Pada rudal-rudal tersebut juga 'tertempel dan terkirim' apresiasi kepada rakyat Kashmir — yang secara konsisten mendukung Front Perlawanan, kendati mendapat tekanan internal.
Namun begitu, pesan di rudal tersebut telah menunjukkan, bahwa aksi militer ini berakar kuat pada ikatan emosional antar bangsa.
Salah satu pesan tersebut berbunyi, “Atas nama kalian, kami akan membalas dendam kepada para pembunuh pemimpin kami.”
Jurnalis kantor berita WANA ini menangkap fenomena 'benturan simbol, menggeser keseimbangan dalam perrang media.
Aspek yang paling perlu direnungkan dari fenomena ini, menurut Agharezaei adalah pergeseran paradigma media di medan perang.
Dalam beberapa dekade terakhir, tradisi menulis pesan pada bom dan rudal seolah-olah monopoli militer Barat — khasnya serdadu zionis Israel berisi pesan-pesan bertema kematian dan kehancuran, yang berulang kali disiarkan melalui media global guna menanamkan rasa 'keunggulan' dan 'agresi.'
Saat ini, Iran telah mematahkan monopoli atas alat media ini dan sepenuhnya mengubah isinya. Sedangkan dalam tradisi Israel, pesan rudal sbagai alat untuk menunjukkan kebencian.
Dalam 'pesan rudal Iran,' badan rudal telah diubah menjadi podium untuk menghormati dan memuji para pembawa perdamaian, menghormati jurnalis yang gugur, dan bersimpati kepada para korban kejahatan moral di Barat (termasuk para korban Pulau Epstein).
Tentu tak ada pesan ihwal kudu 'melindungi zionis Israel' sebagai syarat mewujudkan perdamaian a la Trump... | jeahan - haedar
Baca Juga : Perlawanan Iran Terus Berlangsung