Jahil

| dilihat 1282

Bang Sem

Jahil itu pandir atau dungu secara ideologis, praktis dan pragmatis. Istilah jahil berlaku untuk orang perorang, individual dan personal. Bila berhimpun ke dalam komunitas dan berkembang sebagai kaum, mereka disebut sebagai kaum jahiliyah alias masyarakat jahiliah.

Orang atau kaum yang jahil tak mesti tak berpendidikan. Istilah jahil bisa diberikan kepada mereka yang bahkan lulusan pendidikan tinggi dengan posisi sosial yang yang tinggi.

Orang jahil atau kaum jahiliyah bisa ditandai dari wataknya dalam tata hidup sosial kemasyarakatan dan budaya. Mereka adalah orang yang tak mau dan tak mampu mengelola dirinya untuk mengelola keseimbangan akal budi. Tak mampu merawat keseimbangan nalar, naluri, nurani, rasa dan dria dalam satu nafas. Integritas dan kapasitas dirinya tidak sesuai dengan atribut sosial yang disandangnya.

Boleh jadi bila dia akademisi, proses pendidikan yang dilaluinya sudah sampai puncak, dan bahkan bergelar jabatan akademik tertinggi. Namun wataknya laku lajak, tak menunjukkan intelektualisma. Karenanya, banyak sekali akademisi dan orang berpendidikan tinggi tak memenuhi kualifikasi sebagai intelektual alias cendekiawan. Kendati dia menyandang atribut pendidikan ting yang plus plus dengan posisi akademik tertinggi.

Dalam lapangan pemerintahan dan kenegaraan, secara hirarki birokrasi, boleh jadi berada posisi yang tinggi. Namun keberadaannya tak lebih hanya sekadar petinggi, bukan penting. Di lapangan politik, mereka tak lebih dari sekadar politisi dan bukan negarawan.

Karenanya tak mengherankan, mereka sangat dokoh dan mabuk kuasa. Termasuk bersukacita menjalankan kiah (bukan siasah) dan muslihat politik. Sekaligus tak merasa bersalah melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisma (KKN). Walaupun mereka tahu, KKN termasuk rasuah melanggar konstitusi.

Cengangas-cengenges

Mereka yang jahil dan menjadi bagian dari kaum jahiliyah semacam ini, tak punya embararrassment. Karena tenang-tenang saja, ketika berbagai kalangan berteriak kepada mereka, "shame on you" seperti teriakan massal protester anti genosida zionis Israel atas pendidikan Palestina, khasnya (yang populer belakangan hari: Gaza dan Rafa).

Itulah pula kalangan akademisi yang dicokok, diseret ke pengadilan dan dipenjarakan karena kasus korupsi dan rasuah, begitu lepas masa tahanan tak malu-malu tampil di berbagai forum 'temu bual' atau gunemcatur atau talkshow televisi, dengan suka cita. Mungkin, karena pemilik dan fasilitator media yang memberi ruang untuk mereka juga sama jahil-nya.

Bagi mereka yang jahil atau bagian dari kaum jahiliyah, memainkan kekuasaan untuk merampas, meminggirkan, memeras dan mengabaikan rakyat sebagai subyek yang harus dilayani (dan bukan melayani mereka) adalah suatu kewajaran. Karena mereka hidup dalam ketidakwarasan.

Karenanya, mereka ringan-ringan saja mengabaikan prinsip-prinsip dasar budaya dan keadaban (seperti nilai dan norma) dalam suatu masyarakat. Mereka bisa cengangas-cengenges di depan kamera media, kala melontarkan komentar atau pendapat yang sungsang.

Ketika rakyat sedang memerlukan cara mengatasi persoalan, mereka memberi bukan memberi cara mencapai solusi, melainkan alasan untuk berkelit dari persoalan. Hal demikian sangat mudah terjadi, karena terbiasa berdusta.

Mendahulukan Kepentingan Pribadi

Pada masyarakat yang sedang tumbuh menggeliat, situasi dan kondisi jahiliyah semacam itu hanya menguap begitu saja melalui gerundelan dan kemarahan yang dikemukakan lewat media sosial atau obrolan kedai kopi.

Mereka yang jahil atau kaum jahiliyah tak peduli pada kebijakan-kebijakan yang menindas dan jauh dari standar kepatutan adab. Sama abainya dengan prinsip asasi tata kelola pemerintahan negara dan bangsa yang mesti menempatkan etika, moral dan adab sebagai pilar utama dalam membentuk kerangka politik dan sosial bagi khalayak yang semestinya berbudi luhur. Ia dan mereka juga mesti mengadopsi prinsip-prinsip fundamental untuk mencapai tujuan kekuasan yang berorientasi kepada rakyat. Termasuk oriantasi keadilan di atas kebenaran. Bukan ketimpangan di atas pembenaran.

Dalam banyak negara yang sedang dalam dinamika politik pragmatis yang menyimpang dari tujuan dan tanggung jawab politik sesungguhnya, mereka yang jahil menjadi penggerak utama berkembangnya masyarakat jahiliyah.

Apalagi, dinamika yang mereka lalui hanya mengacu pada beragam tren politik yang ada dan beramai-ramai mereka cemarkan. Apalagi, ketika tren pencarian kekuasaan lebih hanya untuk mencapai tujuan dan kepentingan pribadi. Termasuk stasus sosial, penguasaan luas otoritas yang mereka pinjam dari rakyat. Tanpa kecuali pencapaian pendapatan lebih besar dan tak hirau dengan ketimpangan sosial.

Pada beberapa negara, untuk memperbaiki hal sedemikian, dilakukan dengan perubahan asasi dan penguatan sistem yang lebih mendahuluan keseimbangan pencapaian kekuasaan dan kesadaran untuk mendahulukan rakyat.  Upaya demikian tak dipandang penting (kecuali dalam retorika untuk mengemas citra politik).

Orang-orang jahil atau kaum jahiliyah di Abad XXI di beberapa negara, mati angin, ketika tumbuh kesadaran kolektif rakyat untuk bergerak menumbangkan mereka. Kasus Sri Langka adalah salah satu contoh yang nyata. Bagaimana dengan negara dan bangsa kita? Wallahu a'lam bis sawab. |

Baithikmah : 30.06.24

Editor : delanova
 
Energi & Tambang
18 Agt 26, 18:17 WIB | Dilihat : 274
PHE Pertegas Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional
17 Jul 26, 17:25 WIB | Dilihat : 357
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Investasi Baru di Jambi
28 Jun 26, 06:57 WIB | Dilihat : 409
Talenta Mutu Pertamina Gerakkan Transformasi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
08 Agt 26, 19:08 WIB | Dilihat : 259
Bukan Karena Wangsit
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 520
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 461
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
Selanjutnya