
Daripada mendengar kawicaran atawa gosip, pidato berisi omong-omong dengan retorika mènyè-mènyè berpadan mimik dan gestur seraya mengulang kalimat yang itu-itu saja, begitu-begitu saja, mending kita ngomong ihwal angin.
Kali ini perihal angin mati. Angin yang berembus secara berlawanan arah dengan haluan kapal, alias angin yang berembus berlawanan arah.
Angin yang menghadang dan membuat kapal susah payah mengarungi samodera menuju tujuan,. sehingga perlu cari cara untuk terus melaju menuju dermaga sukacita di pulau cita.
Bagi nakhoda yang paham, piawai, berpengalaman, dan solid dengan mualim serta seluruh kru dan anak buah kapal, selalu ada cara terbaik untuk mengatasi situasi, sehingga bahtera tetap melaju.
Angin mati yang kerap juga disebut sebagai 'angin searah,' itu adalah isyarat alam untuk belajar cepat ihwal bagaimana memilih cara dan mengabaikan alasan. Apalagi, kala kapal berlayar malam.
Tembang Melayu Lancang Kuning adalah gambaran alias amsal tentang kefahaman nakhoda sebagai pemimpin (bukan sekadar petinggi) mengatasi masalah, utamanya angin mati. Bila tidak, alamat kapal bakal tenggelam.
Coba simak syair tembang, itu. Begini:
Lancang kuning berlayar malam / Haluan menuju ke laut dalam / Kalau nakhoda kuranglah faham / Alamatlah kapal akan tenggelam // Lancang kuning berlayar malam / menentang badai / Tali kemudi berpilin tiga //

Bila negara atawa pemerintahan hendak dipahamkan sebagai perahu layar, angin mati adalah berbagai fenomena dan paradigma kehidupan yang menghantar beragam cabaran. Mulai dari masalah-masalah budaya, sosial, ekonomi, politik, ideologi, sampai ke masalah semesta (ekologi, ekosistem, demografi, pandemi) dengan berbagai krisis yang menyertainya.
Nahkoda, mualim, awak kapal yang kompeten, tangkas, seraya berani menghadapi angin mati dan berbagai tantangan yang dihempaskannya, akan sangat paham bagaimana menemukan cara. Termasuk bila tetiba badai datang dari arah manapun.
Tentu kita paham siapa yang dimaksud dengan nahkoda, siapa pula mualim. Pun, paham pula hakikat 'tali kemudi berpilin tiga.'
Nahkoda tiada lain adalah Kepala Negara (Sultan, Raja, Presiden), Mualim adalah Timbalan / Naib Raja, tetapi umumnya Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan. Di negara berbentuk Republik, fungsi mualim (biasanya) diembankan kepada Wakil Presiden. Karenanya standar kepatutan dan kelayakan figur yang diplot sebagai pengemban amanah Wakil Presiden sangat ketat.
Akan halnya 'tali kemudi berpilin tiga' adalah Lembaga Yudikatif yang mengemban fungsi penegak etika - konstitusi - hukum;
Lembaga Legislatif pengemban perwakilan rakyat sebagai pembuat undang-undang, penetap dan pensahih belanja dan pendapatan negara, dan pengemban semak dan imbang (checks and balance) sesuai fungsi pengawasan supaya penyelenggaraan negara tak keluar dari alur pencapaian tujuan bernegara. Itulah sebabnya pembangkang (oposan) diperlukan perannya;
Lembaga Eksekutif - penyelenggara pemerintahan - pembangunan - pemberdayaan khalayak, dengan tata kelola yang baik (good governance dan good government : transparan, wajar, akuntabel, bertanggungjawab dan mandiri).

Untuk menjaga 'tali berpilin tiga' itu sungguh mampu memainkan perannya dalam tata kehidupan khalayak, negara dan bangsa (berasas demokrasi, maka peran pers (media) sebagai pelantang suara rakyat mesti diposisikan di tempat strategis. Hatta, selalu saja dicerai-beraikan demi melanggengkan kekuasaan.
Nahkoda dan mualim yang paham, selalu berkomitmen kuat - konsisten dan konsekuen - membuka ruang partisipasi aktif dan kritis bagi rakyat sebagai pemegang kedaulatan (kecuali di negara berbentuk kerajaan dan otokrasi).
Khasnya menyalurkan aspirasi dan inspirasi dalam beragam bentuk kritik sebagai manifesto kemerdekaan ( paling tidak kemerdekaan berpendapat, berekspresi, berkehendak, bersuara dan memilih).
Sebaliknya, bila nahkoda, mualim, dan awak kapal tak paham -- karena tiada atau sedikitnya pengetahuan dan pengalaman -- memimpin, atau punya agenda kekuasaan 'di balik cindai,' bersiap-siap saja kapal karam atau tenggelam.
Apalagi lembaga penegak hukum sebagai penentu arah kembali ke alur azimuth menuju tujuan kebangsaan, telah saling mengungkap boroknya masing-masing, sehingga kapal patah kemudi.
Angin mati yang membawa berbagai masalah laten telah memaksa kapal berlayar zigzag menggunakan ilmu dan teknik taking ke laut Selatan atau ke laut Utara. Seperti isyarat pada tembang Melayu Patah Kemudi. Begini syairnya:
Patah Kemudi di laut tenang /haluan menuju laut utara / Laut luas boleh di renang / Asalkan dapat hidup bahagia // Perahu karam di malam hari /Dipukul ombak dari selatan / Lautan Luas boleh arungi / Asal Nakhoda Tau Pedoman // ***