Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW

| dilihat 43

Bang Sèm

Acap memperingati maulid -- kelahiran -- Rasulullah Muhammad SAW, ketika membaca rawi (riwayat) yang selalu mengemuka adalah pemahaman hakiki tentang insan pilihan yang direncanakan dan disiapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) untuk memimpin dan menggerakkan transformasi (perubahan dramatik) yang terukur tentang cara - strategi hidup dan kehidupan insaniah.

Tentang tauhid sudah Allah tetapkan melalui revolusi kebudayaan yang dipimpin langsung oleh nabi Ibrahim alaihissalam (as). Revolusi -- perubahan cepat -- yang membebaskan manusia dari kejahilan -- pandir, biadab, pongah, takabbur, zalim, dan sejenisnya.  

Karena hidup merupakan proses perubahan -- dalam makna penyempurnaan -- tanpa henti, revolusi yang digerakkan Ibrahim as, dilanjutkan dengan reformasi minda dan sukma yang dilakoni oleh Musa as, dan reformasi estetika berbasis ilmu pengetahuan yang dilakoni Daud as. Lantas reformasi sukmawi -- rahman dan rahim -- yang dilakoni Isa as.

Namun demikian, revolusi dan reformasi tersebut belum memenuhi keseluruhan konteks keperluan, hajat hidup, minat, dan  Allah kemudian memilih, merawat, menugaskan, seraya memandu Rasulullah Muhammad SAW memelopori gerakan transformasi -- perubahan menyeluruh kehidupan insan dari keadaan kelam dan gelap (kejahilan) menuju keadaan hidup benderang (minadzdzulumaat ila anNuur).

Untuk mengemban tugas - amanah-Nya menyelamatkan  umat manusia dan semesta dari kegelapan, itulah Allah SWT menempa Rasulullah Muhammad SAW -- sejak kelahiran hingga wafatnya. Menempa kepribadiannya sebagai contoh utama insan yang amanah (terpercaya), shiddiq (berpihak kepada kebenaran dan mampu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar - laku kebaikan dan kebajikan, menentang kejahatan), fathanah (cerdas berkapasitas dan kompeten), dan tabligh (komunikatif dengan kearifan dan bahasa yang baik). Karenanya, keberadaan Rasulullah Muhammad SAW senantiasa terjaga dan terpelihara dari segala hal yang buruk.

Karenanya, sejak lahir, masa pertumbuhan sebagai anak-anak dan belia, ia selalu diandaikan laksana 'mentari' dan 'rembulan' di tengah pusaran - galaksi : Anta syamsun, Anta badrun, Anta nuurun, fawqanuur).

Ia diandaikan sebagai seorang pria dengan akhlak mulia, hati yang baik, sederhana, rendah hati, lembut, ramah yang hidup damai dengan dirinya sendiri dan orang lain, sekaligus seorang pemberani.

Seorang ulama, Hatim Abu Shahbah menggambarkannya, "Dengan akhlak dan sifat mulia ini, Muhammad (SAW) telah mengembangkan dan menumbuhkan komponen cahaya dan ilahi dalam dirinya. Pesona personanya yang bercahaya dengan kehendak merdeka. Bagian ilahi inilah  yang mendominasi kepribadiannya."

Insan Kamil nan Qana'ah

Kepribadian yang terpelihara, karena selalu berada dalam naungan rububiyah Allah SWT sebagai konsekuensi logis dari keparipurnaan khuluqiyah-Nya. Karena mengemban tugas dan amanah Ilahi menyempurnakan tamaddun (peradaban) -- yang bertegak di atas tauhid, syariat, budaya tidaklah mudah.

Meminjam istilah Shahbah, dalam proses pemeliharaannya sampai tiba menerima wahyu pertama, kita mendapati rawi Muhammad yang menjelaskan, bagaimana insan pilihan, ini menyerukan kaumnya segera meninggalkan penyembahan berhala dan tidak melakukan apa yang biasa dilakukan oleh kaum dan leluhurnya.

Rasulullah Muhammad SAW, menurut Shahbah, terpelihara dari syirk, sehingga tak pernah bersujud kepada berhala atau berkorban untuknya. Sebaliknya, hati dan jati dirinya yang tercerahkan, terikat pada Allah Penciptanya yang sejati, merindukan agama kakek buyutnya, Ibrahim (AS), yaitu agama yang lurus dan benar.

Dalam konteks kerasulannya dengan misinya yang berat (Islam yang seluas-luasnya dan sebenar-benarnya, tauhid yang sebersih-bersihnya), Allah SWT memurnikan dan membersihkan lebih banyak sifatnya dan Allah (SWT) telah memberkatinya.

Memperingati maulidnya dengan sendirinya mesti dipahami sebagai upaya menguatkan komitmen dan konsistensi kita atas deklarasi bai'ah (syahadah) terus menerus dengan menjalani manifesto yang secara tersurat dan tersirat dalam al Qur'an dan sunnahnya.

Dalam konteks itu, memperingati maulidnya mesti dipahami sebagai menyegarkan kesadaran untuk mengikuti jejak lakunya yang selalu hanif - condong - patuh dengan segenap kepatuhan kepada Allah SWT, Mahapencipta, sumber segala sumber cahaya dan pencerahan yang menyertainya.

Memperingati maulidnya juga mesti dipahami sebagai cara menyegarkan diri dalam memaknai hakikat kemanusiaan kita untuk selalu menyempurnakan diri kualifikasi sebagai insan (ahsanit taqwim) yang terus berusaha menjadi insan kamil (mulia) dengan kualifikasi taqwa.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari menyempurnakan diri secara tanpa henti sebagai insan terbaik yang paling luas manfaatnya bagi insan sesama dan semesta. Tanpa kecuali menjadi insan yang sadar mengenali dan tahu diri, termasuk bersikap qana'ah. |  

[Leuwi Nanggung, 25.08.26]

Editor : haedar
 
Ekonomi & Bisnis
08 Agt 26, 19:08 WIB | Dilihat : 261
Bukan Karena Wangsit
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 522
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 463
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
Selanjutnya
Humaniora
23 Agt 26, 12:57 WIB | Dilihat : 139
Keterbatasan Bukan Penghalang
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 480
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
Selanjutnya